Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Bitcoin 11 Februari Jadi Penentuan? Time Trading Disebut Bisa Selamatkan Trader Saat Market Merah, IHSG Dibidik ke 8.900

Krisna Pambudi • Kamis, 12 Februari 2026 | 11:00 WIB
Bitcoin 11 Februari jadi penentuan?
Bitcoin 11 Februari jadi penentuan?

RADAR TULUNGAGUNG – Pergerakan Bitcoin kembali menjadi sorotan di tengah kondisi market merah yang membuat banyak trader waswas.

Dalam siaran terbarunya, analis yang dikenal dengan pendekatan time trading menegaskan bahwa 11 Februari menjadi momen krusial bagi arah Bitcoin, apakah mampu membentuk bottom atau justru melanjutkan tren turun.

Sejak awal, pembahasan Bitcoin difokuskan pada potensi reversal Bitcoin di tanggal 10 plus minus satu hari.

Artinya, rentang 9–11 Februari disebut sebagai area time support yang berpeluang memunculkan pembalikan arah.

Menurutnya, konsep ini bukan soal benar atau salah, melainkan membantu trader menyaring momentum masuk pasar.

“Kalau tidak terjadi reversal di tanggal tersebut, jangan entry. Itu justru menyelamatkan portofolio,” tegasnya.

Konsep Time Trading dan Reversal Bitcoin

Dalam penjelasannya, time trading diposisikan layaknya support dan resistance berbasis waktu.

Sama seperti harga yang bisa menembus support, tanggal reversal pun bisa mengalami false break. Karena itu, konfirmasi tetap menjadi kunci.

Ia mencontohkan beberapa siklus sebelumnya ketika Bitcoin mengalami swing low atau swing high bertepatan dengan jarak tertentu fase bulan terhadap bumi.

Data historis yang diklaim memiliki akurasi di atas 70 persen itu menunjukkan bahwa reversal kerap terjadi di sekitar tanggal yang telah dipetakan.

Namun, ia kembali mengingatkan, tanpa pola price action yang jelas—seperti pin bar, inside bar, atau struktur higher low—maka trader tidak disarankan masuk.

“Kalau belum ada ciri-ciri reversal, jangan beli. Time trading itu filter,” ujarnya.

Pada timeframe H4, hingga 11 Februari belum terlihat pola pembalikan yang meyakinkan.

Artinya, potensi penurunan masih terbuka jika level low hari tersebut ditembus pada sesi berikutnya.

Target Bitcoin Jika Reversal Terjadi

Secara teknikal, ia mengombinasikan analisis time trading dengan Fibonacci retracement dan indikator EMA.

Jika Bitcoin berhasil membentuk swing low valid pada area tersebut, potensi kenaikan disebut bisa mengarah ke kisaran USD 76.000 hingga USD 79.000.

Level EMA 80.000 menjadi resistance dinamis yang perlu diperhatikan. Namun sekali lagi, semua bergantung pada konfirmasi candle harian.

“Besok tidak boleh tembus low hari ini. Kalau tembus, berarti belum bottom,” jelasnya.

Ia juga mengaku sudah melakukan cicil beli sekitar 5 persen dari total alokasi dana sebagai strategi bottom fishing.

Strategi ini dilakukan bertahap, bukan all in, mengingat tren besar Bitcoin masih dinilai bearish.

Jika skenario ekstrem terjadi dan harga turun lebih dalam, misalnya ke area 59.000, opsi cut loss dan akumulasi ulang di harga lebih rendah tetap terbuka.

IHSG Ditarget Tutup Gap 8.900

Selain Bitcoin, pembahasan juga merembet ke IHSG.

Indeks Harga Saham Gabungan sebelumnya diproyeksikan menyentuh titik bottom pada 29 Januari dan kini bergerak dalam fase recovery.

Menurut analisisnya, IHSG berpotensi melanjutkan kenaikan menuju area 8.900 untuk menutup gap yang sempat terbentuk saat market panik.

“IHSG itu induknya. Kalau IHSG bottom, biasanya saham-saham big caps ikut naik,” katanya.

Ia menilai pergerakan saat ini cenderung sideways dengan kecenderungan naik.

Namun, dalam perjalanan menuju 8.900, kemungkinan akan ada time resistance yang membuat laju indeks tertahan sementara.

Strategi Saham: HRTA dan BUMI

Dalam sesi tersebut juga ditampilkan contoh saham individual seperti HRTA dan BUMI yang diklaim sudah lebih dulu direkomendasikan saat IHSG mendekati area bottom.

Saham HRTA disebut sempat direkomendasikan di kisaran 2.340 dan mengalami kenaikan sekitar 9 persen. Sementara BUMI ditargetkan menuju area 326.

Strateginya tetap sama: timing menggunakan IHSG sebagai indikator induk, lalu menyeleksi saham yang berpotensi inline dengan arah indeks.

Pesan untuk Trader di Tengah Market Merah

Penegasan utama dalam sesi tersebut adalah pentingnya disiplin menunggu konfirmasi.

Banyak trader disebut terjebak spekulasi tanpa validasi pola, lalu menyalahkan analisis ketika harga tak bergerak sesuai ekspektasi.

“Kalau tidak ada reversal, jangan beli. Sesimpel itu,” ujarnya.

Untuk sementara, Bitcoin masih berada dalam tren bearish. Tanggal 10–11 Februari hanya menjadi area potensial, bukan kepastian pembalikan arah.

Time trading, menurutnya, hanyalah alat bantu untuk memfilter momentum terbaik masuk pasar.

Apakah Bitcoin benar-benar membentuk bottom di 11 Februari? Pasar akan memberikan jawabannya dalam penutupan candle harian berikutnya.

Editor : Vidya Sajar Fitri
#ihsg #Bitcoin #time trading #reversal bitcoin #Analisis teknikal