RADAR TULUNGAGUNG- Pergerakan IHSG kembali mencuri perhatian pelaku pasar setelah ditutup menguat hampir 2 persen ke level 8.290 pada perdagangan Rabu (11/2). Namun, penguatan tersebut membawa indeks mendekati area resistance penting di kisaran 8.300, sehingga membuka peluang koreksi jangka pendek pada perdagangan Kamis (12/2).
Berdasarkan analisis teknikal, IHSG kini berada di area rawan. Jika indeks gagal menembus level 8.315, maka potensi koreksi menuju support 8.100 terbuka cukup lebar. Biasanya, tekanan jual kerap muncul menjelang akhir pekan, terutama setelah reli beberapa hari sebelumnya.
Menariknya, penguatan IHSG kali ini justru terjadi saat investor asing mencatatkan aksi jual bersih di sejumlah saham besar. Kondisi ini menandakan kenaikan indeks lebih banyak ditopang saham-saham tertentu dengan kapitalisasi pasar besar.
Asing Masih Distribusi Saham
Data perdagangan menunjukkan investor asing melakukan distribusi besar di beberapa saham utama. Saham Bank Central Asia (BBCA) mencatatkan net sell hingga ratusan miliar rupiah. Saham BUMI juga masih dilepas asing meski harganya sempat melonjak.
Di sisi lain, saham seperti BBRI, Telkom, PTRO, hingga ANTM masih mendapatkan akumulasi meski nilainya belum cukup besar untuk menutupi aksi jual di saham lainnya.
Kondisi ini membuat pelaku pasar disarankan tetap waspada, terutama jika IHSG gagal bertahan di atas area resistance.
Baca Juga: Tsunami Aceh 2004: Fakta Ilmiah Gempa Megathrust atau Teori Konspirasi? Ini Penjelasan Lengkapnya
Saham BUMI Masih Menarik untuk Scalping
Saham BUMI menjadi salah satu yang paling aktif diperdagangkan. Harga sempat melonjak ke 286 sebelum akhirnya ditutup turun di 272.
Secara teknikal, saham ini sebenarnya telah menembus resistance, namun tekanan jual asing masih terjadi. Pergerakan harga lebih banyak didorong oleh broker lokal yang berperan sebagai market maker.
Untuk perdagangan besok, area 264–266 menjadi support penting. Jika harga kembali menguat, target jangka pendek berada di 306, bahkan berpotensi menutup gap di area 330. Namun, trader disarankan hanya melakukan trading cepat karena volatilitas masih tinggi.
Saham DEWA dan PTRO Mulai Rawan Koreksi
Saham DEWA juga mengalami kenaikan signifikan dan sempat menguji resistance 580 sebelum gagal menembusnya. Harga penutupan di 565 menunjukkan tekanan jual mulai muncul.
Jika mampu menembus 580 dengan volume besar, target berikutnya berada di kisaran 635. Namun jika melemah, support terdekat berada di level 510. Banyak trader memilih mengamankan profit setelah reli cepat beberapa hari terakhir.
Sementara itu, saham PTRO melonjak lebih dari 19 persen. Meski menarik, analis menilai saham ini sudah berada di area jenuh beli sehingga rawan profit taking. Jika kembali menguat, target berada di area 8.200. Namun jika koreksi terjadi, support penting berada di sekitar 5.150.
CUAN, RAJA, dan BUVA Ikut Menguat
Saham CUAN berhasil menembus resistance di area 1.865, memberi peluang kenaikan lanjutan jika mampu bertahan di atas level tersebut. Target jangka pendek berada di kisaran 2.080, meski investor tetap disarankan berhati-hati karena valuasi saham ini tergolong mahal.
Saham RAJA juga mencatatkan lonjakan lebih dari 20 persen setelah sebelumnya terkoreksi dalam. Target kenaikan berikutnya berada di kisaran 5.200, namun investor disarankan memasang batas risiko jika terjadi pembalikan arah.
BUVA turut menunjukkan sinyal teknikal positif setelah menembus resistance. Jika bertahan di atas area 1.220, target kenaikan berada di kisaran 1.440.
BBCA Masih Stabil untuk Investasi
Berbeda dengan saham-saham spekulatif, saham BBCA justru mengalami tekanan jual asing. Namun penurunan harga relatif terbatas, menandakan masih kuatnya minat beli domestik.
Level 7.550 menjadi resistance penting. Jika mampu ditembus, peluang penguatan terbuka. Namun jika masih tertahan, saham berpotensi bergerak sideways. Untuk investor jangka panjang, harga saat ini dinilai masih menarik untuk akumulasi bertahap.
Dengan kondisi pasar yang mulai memasuki area rawan, pelaku pasar disarankan lebih selektif memilih saham serta disiplin mengatur strategi trading menjelang akhir pekan.
Editor : Kirana Meigita Luciana Rani