JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa menegaskan program MBG merupakan bagian dari strategi besar pemerintah dalam menjaga stabilitas sosial politik sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi tinggi. Ia meminta masyarakat tidak terus-menerus memprotes program tersebut karena dinilai menjadi salah satu pilar pembangunan nasional.
Menurut Purbaya, pembangunan ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto bertumpu pada tiga pilar utama, yakni pertumbuhan ekonomi tinggi (high economic growth), pemerataan (equitable distribution), dan stabilitas sosial politik. Program MBG disebut masuk dalam pilar pemerataan dan stabilitas.
“Jangan kebanyakan protes MBG. Ini memang program yang diperlukan masyarakat, bagian dari tiga pilar pembangunan,” ujar Purbaya dalam paparannya.
Ia menjelaskan, tanpa stabilitas sosial dan pemerataan, pertumbuhan ekonomi tinggi sulit tercapai. Sebaliknya, jika pertumbuhan tinggi tidak diiringi pemerataan, hal itu juga berpotensi memicu instabilitas sosial yang bisa merembet ke ranah politik.
Ekonomi Sempat Tegang, Pemerintah Balikkan Arah
Purbaya mengingatkan suasana pada Agustus tahun lalu ketika banyak aksi protes terjadi di berbagai daerah. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa pertumbuhan ekonomi sedang terganggu.
“Kalau ekonomi bagus, orang sibuk cari kerja, enggak ada waktu demo,” katanya.
Sejak September, pemerintah disebut langsung mengaktifkan kembali mesin-mesin pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil. Dari sisi fiskal, pemerintah mendorong percepatan belanja kementerian dan lembaga agar dana cepat masuk ke sistem perekonomian.
Selain itu, ia mengaku menggeser dana ratusan triliun rupiah ke perbankan untuk meningkatkan likuiditas. Langkah ini bertujuan mempercepat pertumbuhan kredit sehingga sektor swasta kembali ekspansif.
“Kita dorong fiskal, moneter, dan sektor privat sekaligus. Itu yang membalikkan arah ekonomi di akhir tahun lalu,” ujarnya.
Perbaikan Iklim Investasi
Purbaya juga menyoroti pentingnya pembenahan iklim usaha. Meski di atas kertas regulasi dinilai sudah baik, ia mengakui praktik di lapangan sering kali berbeda.
Untuk itu, pemerintah membentuk satuan tugas khusus atau task force yang menampung keluhan pelaku usaha secara daring. Setiap pekan, tim tersebut menggelar rapat untuk menyelesaikan hambatan birokrasi dan praktik yang mengganggu investasi.
“Kalau ada yang aneh-aneh di lapangan, laporkan. Kita bereskan cepat,” tegasnya.
Ia optimistis dalam satu tahun ke depan berbagai hambatan investasi bisa diminimalkan sehingga dunia usaha lebih percaya diri berekspansi.
Baca Juga: MBG Ramadan Tetap Berjalan, Badan Gizi Nasional Terapkan Empat Skema Khusus Selama Puasa
Indikator Ekonomi Menguat
Dari sisi data, Purbaya memaparkan sejumlah indikator yang menunjukkan perbaikan signifikan. Indeks kepercayaan konsumen yang sempat turun pada Agustus–September kini kembali naik dan berada di level tinggi. Hal ini menandakan daya beli masyarakat membaik.
Penjualan ritel mulai stabil, penjualan mobil dan sepeda motor kembali tumbuh positif, serta konsumsi BBM meningkat. Di sektor industri, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur juga kembali berada di zona ekspansi.
“Artinya perbaikan ekonomi kita jelas. Pondasinya sudah kita address dengan baik,” katanya.
Ia menambahkan, pertumbuhan ekonomi kuartal IV tahun lalu mencapai 5,39 persen, tertinggi dalam lima tahun terakhir pascapandemi COVID-19. Secara tahunan, pertumbuhan Indonesia juga disebut lebih tinggi dibanding beberapa negara anggota G20.
Beberapa lembaga internasional pun telah merevisi proyeksi pertumbuhan Indonesia ke arah lebih optimistis. Pemerintah dalam APBN menargetkan pertumbuhan 5,4 persen tahun ini, namun Purbaya menyatakan akan berupaya mendorong hingga mendekati 6 persen.
Kepercayaan Publik Meningkat
Selain indikator ekonomi, ia juga menyoroti peningkatan indeks kepercayaan publik terhadap pemerintah dan presiden. Setelah sempat mendekati level kritis pada Agustus–September, kini indeks tersebut kembali naik ke level tinggi.
Menurutnya, stabilitas sosial politik yang terjaga menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan ekspansi ekonomi hingga 2030–2031.
“Investor dan pelaku pasar modal tidak perlu takut. Jalankan rencana investasi Anda,” tutup Purbaya.
Editor : Divka Vance Yandriana