Sejarah Tahun Baru Imlek berakar pada masyarakat agraris Tiongkok kuno yang menggantungkan hidup pada siklus musim dan pertanian. Penanggalan lunar atau kalender bulan menjadi pedoman utama dalam menentukan pergantian tahun. Pada 2023 lalu, Tahun Baru Imlek jatuh pada 22 Januari berdasarkan penanggalan Masehi.
Dalam catatan sejarah, Sejarah Tahun Baru Imlek sudah dikenal sejak masa awal dinasti-dinasti kuno di Tiongkok. Tradisi ini bermula dari ritual pemujaan dan persembahyangan kepada dewa serta leluhur sebagai ungkapan syukur atas panen dan permohonan berkah untuk musim tanam berikutnya.
Pada era awal, yakni masa Dinasti Shang (abad ke-17 SM hingga 1046 SM), masyarakat mulai mengabadikan siklus musim dalam kalender. Upacara pengorbanan dan ritual keagamaan menjadi cikal bakal festival tahun baru.
Memasuki masa Dinasti Zhou (1046–256 SM), istilah “nian” yang berarti tahun mulai dikenal luas. Festival pergantian tahun juga mengalami transformasi dari sekadar ritual keagamaan menjadi praktik sosial untuk menyambut musim semi.
Perubahan signifikan terjadi pada masa Dinasti Han (202 SM–220 M). Saat Kaisar Wu berkuasa, tanggal perayaan ditetapkan pada hari pertama bulan pertama dalam kalender lunar. Sejak itulah Tahun Baru Imlek menjadi acara nasional yang dirayakan secara luas.
Pada periode berikutnya, termasuk masa Dinasti Tang (618–907 M), fungsi Imlek bergeser dari ibadah menjadi hiburan sosial. Masyarakat mulai merayakan dengan pesta rakyat, kunjungan keluarga, serta pertunjukan budaya.
Seiring berjalannya waktu, istilah dan penamaan Tahun Baru Imlek beberapa kali berubah. Namun esensinya tetap sama, yakni sebagai momentum pergantian tahun dan harapan baru.
Ketika kekuasaan kekaisaran runtuh pada 1912, pemerintah Tiongkok saat itu sempat menghapus kalender lunar dan mengadopsi kalender Gregorian. Kebijakan tersebut mendapat penolakan masyarakat yang tetap mempertahankan tradisi.
Akhirnya, dicapai kompromi: kalender Gregorian digunakan untuk kepentingan pemerintahan dan administrasi, sementara kalender lunar tetap dipakai untuk festival tradisional. Hari pertama kalender lunar kemudian dikenal sebagai Festival Musim Semi atau Tahun Baru Imlek yang dirayakan hingga kini.
Setelah berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada 1949, Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional. Sejak itu, perayaan ini menjadi festival terpenting di Tiongkok dengan tradisi seperti sembahyang leluhur, makan malam keluarga, hingga pembagian angpao.
Sejarah Tahun Baru Imlek di Indonesia tak lepas dari migrasi masyarakat Tiongkok ke Asia Tenggara sejak abad ke-3 Masehi. Mereka datang untuk berdagang dan menetap di Nusantara, membawa budaya, sistem kongsi, teknik produksi, hingga tradisi perayaan Imlek.
Pada masa pendudukan Jepang, Imlek sempat ditetapkan sebagai hari libur resmi melalui Osamu Seirei Nomor 26 Tahun 1943. Setelah Indonesia merdeka, Presiden Soekarno juga mengakui sejumlah hari raya masyarakat Tionghoa, termasuk Imlek.
Situasi berubah pada era Orde Baru. Melalui Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, Presiden Soeharto melarang perayaan Imlek dilakukan secara terbuka. Kebijakan ini berlangsung selama 32 tahun, dari 1968 hingga 1999.
Perubahan terjadi pascareformasi. Presiden Abdurrahman Wahid mencabut larangan tersebut melalui Inpres Nomor 6 Tahun 2000. Setahun kemudian, Imlek ditetapkan sebagai hari libur fakultatif.
Statusnya semakin kuat ketika Presiden Megawati Soekarnoputri menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional pada 2002, berlaku mulai 2003. Sejak saat itu, perayaan Imlek di Indonesia kembali digelar secara terbuka dan meriah.
Kini, mayoritas masyarakat Tionghoa di Indonesia berasal dari suku Hokkian. Istilah “Imlek” sendiri berasal dari dialek Hokkian, yang berarti kalender bulan.
Sejarah Tahun Baru Imlek menunjukkan bahwa perayaan ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan cerminan perjalanan budaya, politik, dan identitas yang panjang. Dari ritual agraris kuno hingga menjadi hari libur nasional di Indonesia, Imlek terus menjadi simbol harapan, kebersamaan, dan keberagaman.
Editor : Anggi Septiani