RADAR TULUNGAGUNG- Pergerakan IHSG kembali menjadi sorotan jelang perdagangan awal pekan. Berdasarkan analisa terbaru, IHSG diprediksi naik 3 persen menuju area resistance terdekat. Selain IHSG, sejumlah saham seperti BUMI, Dewa, hingga sektor energi disebut memiliki potensi upside menarik, bahkan mencapai 17 persen.
Dalam ulasan analisa teknikal terbaru untuk perdagangan Senin (22/2), IHSG ditutup tipis pada akhir pekan lalu dengan volume di bawah MA20. Kondisi tersebut menunjukkan keseimbangan antara tekanan jual dan beli sehingga indeks tidak terkoreksi dalam.
Secara teknikal, IHSG saat ini berada di fase konsolidasi sehat. Ada gap yang berpotensi ditutup dan resistance terdekat berada sekitar 3 persen dari posisi terakhir. Jika sentimen positif atau katalis baru muncul, peluang penguatan jangka pendek masih terbuka.
Baca Juga: Money Flow Saham BUMI Masih Kabur, Asing Jual Rp282 Miliar! Efek Reformasi MSCI Bisa Balik Arah?
IHSG Stabil, Tunggu Sentimen Positif
Penutupan tipis IHSG di akhir pekan dinilai sebagai tanda market relatif stabil. Tidak ada tekanan besar dari sisi distribusi. Namun, volume yang masih rendah membuat indeks butuh dorongan tambahan agar mampu menembus resistance.
Analis menilai, minimal IHSG perlu “menyentuh” area resistance terdekat sebelum menentukan arah berikutnya. Jika gagal tembus, potensi sideways masih dominan.
Saham BUMI: Anomali Volume, Tunggu Aksi Big Player
Saham BUMI terkoreksi sekitar 2 persen pada akhir pekan. Namun penurunan harga tidak diiringi lonjakan volume. Secara teknikal, kondisi ini disebut anomali dan bisa menjadi sinyal ambil napas sebelum melanjutkan tren.
Resistance kuat berada di area 330. Untuk menembus level ini dibutuhkan power buy besar. Jika koreksi berlanjut, area Fibonacci menunjukkan potensi support di kisaran 236–252.
Dari sisi analisa transaksi, broker AK tercatat melakukan penjualan signifikan. Sementara MG masih mencatatkan posisi akumulasi sebelumnya dan masih berada dalam posisi floating profit. Artinya, pergerakan berikutnya sangat bergantung pada aksi lanjutan broker besar tersebut.
Saham Dewa: Rejection di Resistance
Saham Dewa juga terkoreksi hampir 4 persen dengan volume yang mengecil. Secara teknikal, harga mengalami rejection di area resistance 655.
Support kuat berada di area 500–530 berdasarkan Fibonacci. Selama harga belum menembus trendline utama, koreksi masih dianggap wajar. Namun jika jebol 460, risiko penurunan lebih dalam terbuka.
Saham Energi Naik 70 Persen, Masih Lanjut?
Salah satu sorotan utama adalah saham sektor energi yang sudah naik hingga 70 persen dari level bawahnya. Kenaikan tajam ini dikaitkan dengan sentimen geopolitik global yang memicu penguatan komoditas energi.
Namun, saham energi kini berada di area resistance kuat 1680–1720. Meski sempat terjadi rejection, volume tinggi menunjukkan minat beli masih besar.
Jika terkoreksi, area 1170–1300 menjadi batas koreksi sehat. Sementara potensi breakout akan membuka peluang rally lanjutan.
Saham BUVA dan MINA Punya Potensi Upside 17 Persen
Saham BUVA sedang mengalami koreksi dan sudah menutup gap. Area support berada di 1035–1140. Jika mampu bertahan, target terdekat ada di 1845 dengan potensi upside sekitar 26 persen.
Sementara saham MINA memiliki target di 446. Dari harga sekarang, terdapat potensi upside sekitar 17 persen. Namun dominasi retail dalam transaksi menjadi perhatian, karena biasanya pergerakan lebih kuat terjadi saat big player aktif mengakumulasi.
Baca Juga: THR ASN 2026 Disiapkan Rp55 Triliun, Menkeu Purbaya Yudi Sadewa Ungkap Jadwal Cair Awal Ramadan
RAJA, PADI, INET, ANTAM dan HRTA
RAJA sudah menutup gap dan memiliki potensi upside 17 persen menuju resistance berikutnya. Namun support 4.780 menjadi level krusial.
PADI menghadapi potensi penurunan hingga 12 persen untuk menutup gap bawah di 116–119.
INET sudah breakout trendline, namun rawan retest support sebelum melanjutkan kenaikan.
Baca Juga: THR ASN 2026 Disiapkan Rp55 Triliun, Menkeu Purbaya Yudi Sadewa Ungkap Jadwal Cair Awal Ramadan
ANTAM berpotensi koreksi sehat ke area 3.820–3.930 sebelum melanjutkan tren. Potensi upside jangka pendek sekitar 6 persen.
Sementara HRTA sudah menyentuh all time high di 2.800. Jika mampu breakout valid, peluang kenaikan lanjutan terbuka lebar.
Investor Diminta Tidak FOMO
Analis mengingatkan investor untuk tidak FOMO dan selalu mengombinasikan analisa teknikal seperti support-resistance, trendline, dan Fibonacci dengan analisa transaksi broker summary.
Pergerakan harga sangat dipengaruhi aksi big player dan institusi. Retail cenderung sulit menggerakkan harga tanpa dukungan dana besar.
Dengan kondisi IHSG yang stabil dan sejumlah saham memiliki potensi upside 17 persen, investor disarankan tetap disiplin dalam menentukan entry dan stop loss.
Baca Juga: THR ASN 2026 Cair Awal Ramadan, Menkeu Purbaya Yudi Sadewa Pastikan Daya Beli Terjaga
Editor : Kirana Meigita Luciana Rani