Harga emas Antam kembali menjadi sorotan. Dalam sepekan terakhir, harga emas terpantau bergerak dinamis dan pada akhir pekan ini berhasil menembus Rp3,12 juta per gram. Lonjakan harga emas Antam tersebut terjadi setelah sebelumnya sempat dibuka di level Rp2.940.000 per gram pada awal pekan.
Kenaikan harga emas Antam ini memicu perhatian masyarakat, terutama menjelang bulan puasa dan Lebaran. Meski harga cenderung fluktuatif, penjualan emas di sejumlah toko justru masih tergolong stabil, bahkan didominasi pembeli dibanding penjual.
Pantauan di salah satu toko emas di Jakarta menunjukkan bahwa harga logam mulia Antam 1 gram sudah menyentuh kisaran Rp3,2 juta. Kondisi ini menjadi level tertinggi dalam sepekan terakhir.
Baca juga:Harga Emas Dinamis, Pembeli Tetap Ramai
Pedagang emas, Billy, mengungkapkan bahwa meskipun harga bergerak naik turun sejak akhir Januari, minat beli masyarakat belum menunjukkan penurunan signifikan.
“Sejauh ini masih banyak yang beli daripada yang jual. Penjualan masih oke, walaupun harga pergerakannya terlalu dinamis,” ujarnya.
Menurutnya, sebagian masyarakat yang menjual emas bukan semata-mata karena harga sedang tinggi, melainkan karena kebutuhan mendesak. Baik logam mulia maupun perhiasan, keduanya relatif seimbang dalam transaksi jual beli.
Ia menambahkan, untuk perhiasan, pembeli umumnya memilih kadar 16 hingga 17 karat. Sekitar 70–75 persen transaksi perhiasan di tokonya didominasi kadar tersebut.
Pergerakan harga emas yang fluktuatif dalam beberapa pekan terakhir dipengaruhi berbagai faktor global, termasuk sentimen pasar internasional dan nilai tukar rupiah. Namun, di tingkat ritel, emas masih dipandang sebagai instrumen investasi aman (safe haven).
Baca juga:Jelang Ramadan dan Lebaran, Potensi Lonjakan Transaksi
Menjelang Ramadan, tren pembelian emas biasanya mulai meningkat. Namun, pedagang menyebut pola kenaikan penjualan sulit diprediksi secara pasti.
“Biasanya sekitar seminggu sebelum Lebaran baru kelihatan peningkatannya,” kata Billy.
Tradisi membeli emas menjelang Lebaran kerap dikaitkan dengan kebutuhan perhiasan untuk hari raya maupun sebagai bentuk investasi jangka panjang. Selain itu, masyarakat juga memanfaatkan momen kenaikan harga untuk menjual emas lama.
Namun, saat ini tren yang terlihat lebih banyak pembeli yang menyimpan emas dibanding menjualnya saat harga tinggi.
Baca juga:Emas Masih Jadi Pilihan Tabungan
Salah satu pembeli, Leni, mengaku tetap membeli emas meskipun harga sedang tinggi. Ia menyebut pembelian dilakukan karena kebutuhan sekaligus sebagai tabungan masa depan.
“Simpan dulu saja. Untuk tabungan masa depan. Kalau suatu hari butuh, baru dijual,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan pola pikir sebagian masyarakat yang memandang emas sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Meski harga emas naik turun, daya tariknya sebagai penyimpan nilai relatif stabil dalam jangka panjang.
Fenomena ini juga menunjukkan bahwa psikologi pasar terhadap emas masih positif. Ketika harga naik, sebagian masyarakat tidak serta-merta melepas kepemilikannya. Sebaliknya, ada yang tetap membeli dengan keyakinan harga berpotensi lebih tinggi di masa mendatang.
Baca juga:Rekor Tertinggi Sepekan
Dalam sepekan terakhir, level Rp3,12 juta per gram menjadi titik tertinggi harga emas Antam. Dibandingkan awal pekan di Rp2,94 juta, kenaikan ini menunjukkan tren penguatan signifikan dalam waktu singkat.
Kondisi tersebut sekaligus menegaskan bahwa volatilitas harga emas masih akan menjadi perhatian investor maupun masyarakat umum. Terlebih di tengah dinamika ekonomi global dan menjelang momentum Ramadan 2026.
Meski demikian, aktivitas di toko emas Jakarta memperlihatkan bahwa emas tetap menjadi primadona. Baik sebagai investasi, tabungan, maupun kebutuhan perhiasan, logam mulia ini masih diminati.
Dengan tren harga yang terus bergerak dinamis, masyarakat disarankan mencermati pergerakan pasar sebelum melakukan transaksi. Namun satu hal yang pasti, tembusnya harga emas Antam di atas Rp3 juta per gram menjadi catatan penting dalam pergerakan pasar emas pekan ini.
Editor : Ayu Dhea Cheryl