Harga emas dunia kembali mencatatkan lonjakan signifikan. Pada Jumat, 20 Februari 2026, harga emas dunia tembus USD 5.108,25 per troy ons atau naik 2,24%. Kenaikan harga emas dunia ini dipicu oleh data Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat yang melemah serta meningkatnya ketidakpastian tarif pasca pernyataan mantan Presiden AS Donald Trump menyusul putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat.
Sepanjang sepekan, harga emas dunia tercatat menguat 1,3%. Survei pasar menunjukkan mayoritas analis dan investor ritel masih bersikap bullish terhadap prospek logam mulia tersebut. Meski saat ini harga bergerak konsolidasi di kisaran USD 5.000 per troy ons, sentimen global dinilai masih menopang potensi penguatan lanjutan.
Lonjakan harga emas dunia ini mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global dan volatilitas pasar keuangan internasional.
Baca juga:Bank Indonesia Tahan BI Rate 4,75%
Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur 18–19 Februari 2026. Selain itu, suku bunga deposit facility tetap di 3,75% dan lending facility di 5,50%.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah yang masih berada dalam tren pelemahan. Langkah tersebut juga sejalan dengan upaya menjaga inflasi tetap terkendali dalam kisaran target 2,5% plus minus 1% pada 2026.
BI menilai ketidakpastian pasar keuangan global masih tinggi, sehingga stabilitas nilai tukar menjadi prioritas utama. Meski demikian, bank sentral tetap membuka ruang penurunan suku bunga lebih lanjut dengan mempertimbangkan efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial.
Keputusan mempertahankan suku bunga acuan ini diharapkan mampu menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih tinggi.
Baca juga:Wall Street dan Bursa Eropa Kompak Melemah
Dari pasar global, bursa saham Amerika Serikat ditutup di zona merah. Indeks S&P 500 terkoreksi 0,28% ke level 6.861. Nasdaq melemah 0,31% ke posisi 22.682, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 0,54% ke level 49.395.
Pelemahan dipicu tekanan pada saham perusahaan ekuitas swasta serta penurunan saham ritel dan teknologi. Saham berbasis kecerdasan buatan (AI) juga masih mengalami gejolak akibat kekhawatiran valuasi yang dinilai terlalu tinggi dan belum sepenuhnya tercermin dalam pertumbuhan laba.
Bursa Eropa turut mengalami koreksi setelah sebelumnya menyentuh rekor tertinggi. Indeks Stoxx 600 turun 0,53% ke 625,33. DAX Jerman merosot 0,93% ke 25.043 dan FTSE 100 Inggris melemah 0,5% ke 10.627. Investor mencermati laporan kinerja emiten besar seperti Airbus, Rio Tinto, dan Nestle yang hasilnya variatif.
Baca juga:Indo Spring Garap Ekspor Fastener
Dari sektor korporasi domestik, PT Indo Spring Tbk mulai memanen potensi pertumbuhan dari lini bisnis fastener yang diproduksi komersial sejak 2025. Direktur Indo Spring, Bob Budiono, menjelaskan perseroan fokus membidik segmen aftermarket otomotif sebagai tahap awal.
Ke depan, perusahaan membuka peluang ekspansi ke fastener non-otomotif serta memperkuat penetrasi pasar ekspor ke Timur Tengah, Eropa, Uzbekistan, dan Amerika Serikat pada 2026.
Hingga kuartal III 2025, Indo Spring mencatatkan penjualan bersih Rp2,46 triliun, mencerminkan permintaan solid dari pasar domestik maupun ekspor.
Baca juga:SMART Siapkan Pelunasan Obligasi Rp220 Miliar
PT Sinarmas Agro Resources and Technology Tbk (SMART) memastikan kesiapan dana untuk melunasi pokok obligasi berkelanjutan II tahap III tahun 2021 seri C senilai Rp220 miliar yang jatuh tempo 19 Februari 2026.
Direktur SMART, Fransiskus Kostan, menyebutkan sumber dana berasal dari penerbitan sukuk ijarah berkelanjutan tahap II tahun 2026 yang sedang berlangsung. Dana tersebut akan disetorkan ke PT Kustodian Sentral Efek Indonesia tepat waktu sesuai jadwal.
Baca juga:MPPA Akuisisi Aset Rp780 Miliar
Sementara itu, emiten ritel Grup Lippo, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), melakukan ekspansi besar dengan mengakuisisi enam aset tanah dan bangunan di berbagai kota senilai total Rp780 miliar.
Akuisisi dilakukan di Bogor, Gresik, Yogyakarta, Surabaya, dan Tangerang. Nilai transaksi terbesar berada di Surabaya mencapai Rp351,5 miliar. Manajemen menyatakan langkah ini akan memperkuat kegiatan usaha ritel dan memberikan nilai tambah bagi pemegang saham.
Di tengah dinamika global, lonjakan harga emas dunia dan kebijakan moneter Bank Indonesia menjadi sorotan utama pelaku pasar. Investor kini mencermati arah kebijakan suku bunga global serta perkembangan ekonomi AS yang berpotensi menentukan tren pergerakan emas dan pasar keuangan ke depan.
Editor : Ayu Dhea Cheryl