Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Harga Minyak Terancam Naik, Ekonomi Nasional Bisa Terguncang: Perang Iran Israel Amerika Serikat dan Dampaknya bagi Indonesia

Natasha Eka Safrina • Senin, 2 Maret 2026 | 20:27 WIB

Perang Iran Israel Amerika Serikat berpotensi memicu krisis energi dan ekonomi Indonesia. Harga minyak terancam naik, APBN dan rakyat terdampak.
Perang Iran Israel Amerika Serikat berpotensi memicu krisis energi dan ekonomi Indonesia. Harga minyak terancam naik, APBN dan rakyat terdampak.

JAKARTA - Eskalasi perang Iran Israel Amerika Serikat kian memicu kekhawatiran global, termasuk bagi Indonesia yang selama ini sangat bergantung pada stabilitas kawasan Timur Tengah. Konflik bersenjata yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat dinilai berpotensi memberi dampak ekonomi serius bagi Indonesia, terutama pada sektor energi, logistik, dan stabilitas harga pangan.

Indonesia selama ini mengimpor minyak dari negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Iran, dan Kuwait. Ketika jalur pasokan terganggu akibat konflik bersenjata, pasokan energi nasional berisiko tersendat. Kondisi ini berpotensi memicu kenaikan harga bahan bakar dan tekanan inflasi dalam waktu relatif singkat.

Selain sektor energi, ketidakstabilan geopolitik ini juga memunculkan kekhawatiran terhadap terganggunya jalur perdagangan internasional. Ekspor Indonesia ke Eropa berpotensi terdampak karena meningkatnya ketakutan pelaku usaha global terhadap risiko logistik dan keamanan pengiriman barang.

Baca Juga: Tajuk Berita: Sejarah Bani Israil Dibongkar: Kekufuran Zaman Nabi Musa Kini Berulang di Palestin?

Ancaman Nyata dari Timur Tengah

Pengamat menilai, perang yang berkepanjangan di kawasan Timur Tengah bukan hanya soal konflik antarnegara, tetapi juga persoalan ketahanan ekonomi negara-negara lain yang bergantung pada kawasan tersebut. Indonesia, sebagai negara net importir minyak, disebut berada pada posisi rentan jika konflik terus berlanjut.

Situasi semakin genting setelah muncul kabar penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang dilewati sekitar seperlima suplai minyak dan gas dunia. Jika penutupan berlangsung lama, lonjakan harga minyak dunia hampir tak terelakkan.

“Persediaan bahan bakar Indonesia rata-rata hanya cukup untuk sekitar tiga minggu. Setelah itu, suplai dari Timur Tengah akan sulit tergantikan,” ujar salah satu analis dalam diskusi tersebut.

Kematian Pemimpin Tertinggi Iran Picu Eskalasi

Ketegangan meningkat drastis setelah dikonfirmasi tewasnya Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan militer yang diklaim dilakukan Israel dan Amerika Serikat. Iran menetapkan 40 hari masa berkabung nasional dan menyerukan persatuan rakyat untuk melawan agresi asing.

Baca Juga: Bongkar Tuntas Fitnah Hamas Syiah, Pakar: Jangan Tertipu Standar Ganda Pemecah Belah Umat!

Pernyataan balasan juga datang dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) yang menyatakan akan meningkatkan serangan terhadap kepentingan Amerika Serikat dan Israel. Alih-alih melemahkan Iran, serangan tersebut justru dinilai memperkuat nasionalisme rakyat Iran.

Dampak Langsung bagi Indonesia

Bagi Indonesia, dampak perang Iran Israel Amerika Serikat tidak hanya soal kenaikan harga minyak. Ribuan WNI yang bekerja dan menempuh pendidikan di Timur Tengah juga berada dalam posisi rawan. Selain itu, remitansi dari pekerja migran Indonesia berpotensi terganggu jika konflik semakin meluas.

Tekanan terhadap APBN juga menjadi perhatian utama. Kenaikan harga migas akan memperbesar beban subsidi energi dan berisiko menekan ruang fiskal pemerintah. Dalam jangka panjang, situasi ini bisa berdampak pada daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi nasional.

Baca Juga: Mengupas Akar Fitnah Besar: Sejarah Syiah dan Khawarij, dari Politik hingga Menjadi Ideologi

Posisi Diplomatik Indonesia Dipertanyakan

Dalam konteks global, posisi Indonesia dinilai berada dalam dilema. Di satu sisi, Indonesia dikenal aktif menyuarakan perdamaian dan keadilan internasional. Di sisi lain, keterlibatan Indonesia dalam berbagai forum global menuntut sikap yang tegas dan konsisten.

Pengamat mendorong Indonesia untuk lebih lantang bersuara melalui forum multilateral seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa dan ASEAN, guna menyerukan penghentian agresi dan perlindungan terhadap kepentingan sipil.

Indonesia dinilai memiliki modal diplomasi moral sebagai negara yang berpengalaman menghadapi penjajahan dan konflik. Namun, suara tersebut akan lebih kuat jika disampaikan bersama negara-negara lain di kawasan dan dunia Islam.

Baca Juga: Gus Baha Bongkar Sejarah Ahlussunnah Wal Jamaah: Mengapa Kita Harus Ikut Kelompok Mayoritas?

Waspada Dampak Jangka Panjang

Jika konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat terus bereskalasi, risiko perang regional semakin terbuka. Dampaknya bukan hanya dirasakan di Timur Tengah, tetapi juga oleh negara-negara berkembang seperti Indonesia. Kenaikan harga energi, inflasi, dan ketidakpastian ekonomi global menjadi ancaman nyata yang harus diantisipasi sejak dini.

Pemerintah diharapkan mengambil langkah mitigasi cepat, mulai dari pengamanan pasokan energi, perlindungan WNI di luar negeri, hingga penguatan diplomasi internasional demi menjaga stabilitas nasional.

Editor : Natasha Eka Safrina
#Perang Amerika Serikat dan Iran #Perang Iran Israel 2026