RADAR TULUNGAGUNG- Tensi geopolitik Timur Tengah kembali memanas dan berdampak langsung terhadap pergerakan pasar keuangan global, termasuk IHSG. Dalam beberapa hari terakhir, IHSG tertekan seiring meningkatnya ketidakpastian global. Namun di tengah tekanan tersebut, harga minyak dan batu bara justru menunjukkan penguatan signifikan.
Situasi ini membuat pelaku pasar mengalihkan fokusnya ke saham-saham berbasis komoditas. IHSG memang melemah, tetapi saham energi, terutama yang berkorelasi dengan harga minyak dan batu bara, justru mencatat lonjakan transaksi besar. Kondisi ini mengindikasikan adanya pergeseran alokasi portofolio oleh para fund manager.
Berdasarkan perkembangan terbaru, tensi geopolitik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Ketidakpastian ini mendorong investor global melakukan penyesuaian strategi. Salah satu indikator paling jelas terlihat dari pergerakan harga minyak dunia.
Baca Juga: IHSG Turun 2,65 Persen, Analis Prediksi Uji Level 7.200! Saatnya Hold atau Jual Saham BRI dan Emas?
Harga Minyak Stabil di Level Tinggi
Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) sempat menyentuh level USD 75 per barel. Meski sempat terkoreksi pada awal perdagangan, harga kembali pulih dan stabil di level relatif tinggi dibanding beberapa bulan terakhir.
Secara historis, ketika tensi geopolitik meningkat, harga minyak cenderung naik. Namun yang menarik kali ini adalah ketahanannya di level tinggi. Biasanya, jika sentimen hanya bersifat sementara, harga akan kembali terkoreksi lebih dalam dalam waktu singkat. Fakta bahwa harga minyak tetap stabil memberi sinyal bahwa pasar memperkirakan konflik berpotensi berlangsung lebih lama.
Tak hanya minyak, harga emas juga menguat sebagai aset safe haven. Polanya serupa: sempat terkoreksi di awal sesi, lalu kembali menguat dan bertahan di level tinggi.
Lonjakan Transaksi Saham Energi
Dampak langsung terlihat pada saham-saham energi di dalam negeri. Salah satu yang mencuri perhatian adalah PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC). Saham ini mencatat nilai transaksi luar biasa besar, bahkan disebut sebagai salah satu yang tertinggi sepanjang sejarah perdagangannya.
Selain MEDC, PT Elnusa Tbk (ELSA) juga mengalami lonjakan nilai transaksi signifikan. Keduanya sama-sama memiliki korelasi kuat dengan sektor minyak dan gas.
Lonjakan ini menjadi sinyal bahwa pengelola dana mulai mengalihkan portofolio mereka ke saham-saham yang berpotensi diuntungkan oleh konflik Timur Tengah. Dalam kondisi ketidakpastian global, strategi defensif sekaligus oportunistik menjadi pilihan utama.
Mayoritas Saham Turun, Energi Justru Naik
Secara umum, mayoritas saham di IHSG mengalami penurunan, bahkan ada yang terkoreksi lebih dari 3 hingga 5 persen. Namun di tengah tekanan tersebut, saham-saham sektor energi, logistik, dan komoditas tertentu justru bergerak positif.
Bagi investor dengan horizon jangka pendek atau pemburu momentum, kondisi ini membuka peluang. Saham yang berkorelasi langsung dengan harga minyak dan batu bara cenderung memiliki potensi outperform selama tensi geopolitik belum mereda.
Harga Batu Bara Newcastle Naik 7–8 Persen
Tak kalah menarik adalah pergerakan harga batu bara acuan Newcastle. Untuk kontrak pengiriman Maret hingga Juli, kenaikan harga tercatat mencapai 7 hingga 8 persen dibanding penutupan sebelumnya. Lonjakan ini cukup signifikan dan mencerminkan ekspektasi pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Kenaikan harga batu bara ini berpotensi menguntungkan saham-saham tambang batu bara di dalam negeri. Sejumlah emiten seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) diperkirakan bisa mendapat sentimen positif apabila tren ini berlanjut.
Secara historis, ketika konflik Rusia-Ukraina pecah, saham komoditas termasuk batu bara menjadi salah satu sektor yang mencatat kinerja relatif lebih baik. Pola serupa berpotensi terulang jika ketegangan di Timur Tengah berlangsung dalam jangka menengah.
Strategi Investor: Fokus Momentum
Dalam kondisi seperti saat ini, investor jangka panjang tentu tetap mempertimbangkan fundamental perusahaan. Namun bagi trader jangka pendek, momentum menjadi faktor kunci.
Selama harga minyak dan batu bara bertahan di level tinggi, saham-saham yang memiliki korelasi langsung dengan kedua komoditas tersebut berpotensi menjadi pilihan utama. Namun demikian, risiko tetap harus diperhitungkan karena volatilitas pasar global masih sangat tinggi.
Kesimpulannya, IHSG memang tertekan akibat tensi geopolitik Timur Tengah. Namun di balik tekanan tersebut, sektor energi justru menikmati angin segar. Harga minyak stabil tinggi dan harga batu bara melonjak menjadi katalis kuat bagi saham-saham energi dalam beberapa waktu ke depan.
Editor : Kirana Meigita Luciana Rani