Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Harga Batu Bara Newcastle Anjlok ke USD131 per Ton, Dipicu Prediksi Donald Trump soal Konflik Iran dan Melemahnya Harga Energi Global

Ayu Dhea Cheryl • Kamis, 12 Maret 2026 | 10:31 WIB

Harga batu bara Newcastle anjlok ke sekitar USD131 per ton seiring pelemahan harga energi global dan meredanya kekhawatiran gangguan pasokan akibat konflik Timur Tengah.
Harga batu bara Newcastle anjlok ke sekitar USD131 per ton seiring pelemahan harga energi global dan meredanya kekhawatiran gangguan pasokan akibat konflik Timur Tengah.

Harga Batu Bara Newcastle Anjlok Tajam di Tengah Pelemahan Energi Global

RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM – Harga batu bara Newcastle kembali mengalami penurunan tajam pada perdagangan terbaru. Harga batu bara Newcastle untuk pengiriman April tercatat turun hingga USD12,7 menjadi sekitar USD131,1 per ton.

Penurunan harga batu bara Newcastle ini terjadi seiring pelemahan harga energi global, khususnya setelah harga minyak dunia mengalami koreksi. Kondisi tersebut dipicu oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memprediksi konflik di Timur Tengah dengan Iran dapat segera mereda.

Koreksi harga batu bara Newcastle ini langsung memicu perhatian pelaku pasar komoditas global. Investor menilai potensi meredanya konflik geopolitik dapat mengurangi risiko gangguan pasokan energi, sehingga tekanan terhadap harga komoditas energi semakin besar.

Baca juga:Harga Energi Global Berbalik Melemah

Harga batu bara Newcastle sempat bergerak stabil dalam beberapa waktu terakhir. Namun situasi berubah ketika harga energi global, khususnya minyak mentah, mengalami pembalikan arah dan melemah tajam.

Pelemahan ini terjadi setelah pasar merespons pernyataan Donald Trump yang menyebut konflik di Timur Tengah berpotensi segera berakhir. Sentimen tersebut menurunkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.

Akibatnya, berbagai komoditas energi ikut terkoreksi, termasuk batu bara. Penurunan harga ini menjadi salah satu koreksi terbesar dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.

Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati perkembangan geopolitik yang dapat kembali memengaruhi volatilitas harga energi global.

Baca juga:Harga Emas Menguat Tipis

Di tengah penurunan harga batu bara Newcastle, harga emas justru menunjukkan penguatan tipis pada perdagangan Rabu pagi waktu Asia.

Data pasar menunjukkan harga emas spot naik sekitar 0,4 persen ke level USD5.213,99 per troy ons. Penguatan ini terjadi karena investor masih menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga bank sentral The Federal Reserve.

Kondisi tersebut membuat emas tetap dipandang sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Para analis menyebutkan bahwa arah kebijakan suku bunga The Fed akan sangat mempengaruhi pergerakan harga emas dunia dalam beberapa waktu ke depan.

Baca juga:Harga Minyak Dunia Berfluktuasi

Sementara itu, harga minyak dunia bergerak fluktuatif pada perdagangan Rabu pagi waktu Asia. Pergerakan ini terjadi di tengah rencana International Energy Agency (IEA) yang mengusulkan pelepasan cadangan minyak dalam jumlah besar.

Langkah tersebut bertujuan untuk menstabilkan pasar energi global yang sempat terguncang akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.

Mengutip laporan Reuters, minyak mentah Brent tercatat naik tipis sekitar 0,13 persen ke level USD87,91 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 0,08 persen menjadi USD83,52 per barel.

Namun sebelumnya harga minyak sempat terkoreksi setelah laporan pelepasan cadangan minyak global mulai beredar di pasar.

Selain itu, beberapa komoditas lainnya juga menunjukkan pergerakan beragam. Nikel tercatat melemah sekitar 0,73 persen di level USD17.458 per metrik ton. Sementara minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) justru menguat sekitar 0,96 persen.

Baca juga:Rupiah Melemah Tipis Terhadap Dolar AS

Di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah juga mengalami pelemahan tipis terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu.

Berdasarkan data pasar, rupiah tercatat melemah sekitar 0,08 persen ke level Rp16.859 per dolar AS. Secara intraday, rupiah sempat bergerak di kisaran Rp16.862 per dolar.

Padahal sebelumnya rupiah sempat dibuka menguat sekitar 0,21 persen ke level Rp16.820 per dolar AS.

Pelemahan rupiah ini terjadi di tengah pergerakan indeks dolar AS yang relatif stabil. Indeks dolar tercatat berada di level 98,82 setelah sempat dibuka di posisi 98,93.

Pelaku pasar saat ini masih menahan posisi sambil menunggu perkembangan lebih lanjut terkait konflik geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Ketidakpastian tersebut membuat pergerakan mata uang global, termasuk rupiah, masih berpotensi mengalami volatilitas dalam waktu dekat.

Baca juga:Pasar Komoditas Masih Berfluktuasi

Secara keseluruhan, pasar komoditas global saat ini masih bergerak fluktuatif. Faktor geopolitik, kebijakan energi global, serta arah kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi penentu utama pergerakan harga.

Penurunan harga batu bara Newcastle menjadi salah satu contoh bagaimana sentimen geopolitik dapat mempengaruhi pasar energi dunia.

Para analis memperkirakan volatilitas pasar komoditas masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan, terutama jika ketegangan geopolitik kembali meningkat atau kebijakan ekonomi global berubah secara signifikan.

Editor : Ayu Dhea Cheryl
#harga minyak dunia #rupiah terhadap dolar #harga batu bara dunia #harga batu bara Newcastle #harga energi global