Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Rahmad Setyo Jadmiko, Berkecimpung Di Dunia Siaran Hingga Ke Suriname

Nisrina Habibah • Rabu, 15 Februari 2023 | 18:59 WIB

Tulungagung – Tidak ada yang aneh memang untuk menjadi seorang penyiar radio di era sekarang ini. Namun, bagaimana jika menjadi penyiar radio di salah satu negara di bagian Amerika selatan? Itulah yang dilakukan Rahmad Setyo Jadmiko, warga Desa Purworejo, Kecamatan Ngunut.

Pria berusia 35 tahun tersebut menceritakan, awalnya dia diminta untuk menjadi co-host atau pendamping penyiar di salah satu stasiun radio di Suriname pada awal November tahun 2022 lalu. Sebelumnya, dia diminta untuk menerjemahkan naskah-naskah radio dengan bahasa Inggris, kemudian diterjemahkan menjadi bahasa Jawa baku. “Jadi, sebelumnya saya dikenalkan oleh teman saya untuk menerjemahkan naskah-naskah berbahasa Inggris ke bahasa Jawa baku,” jelasnya kemarin (14/02).

Berjalan sebulan, dia menerjemahkan berlembar-lembar naskah ke bahasa Jawa baku. Kemudian, pria lulusan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) jurusan pendidikan bahasa dan sastra Jawa itu diminta untuk menjadi salah satu co-host suatu acara di stasiun radio tersebut. “Jadi awalnya, host bernama Sam Dipokromo meminta saya untuk menerjemahkan naskah-naskah radio ke bahasa Jawa baku itu pada awal Oktober. Berjalan satu bulan, saya diminta untuk menjadi co-host di radio itu,” ucapnya.

Pada saat menjadi pendamping penyiar, dia kerap membawakan konten-konten mengenai nilai-nilai kebudayaan Jawa, cerita rakyat Jawa, petuah Jawa, dan cerita-cerita pewayangan. Tentu saja dia membawakan konten-konten tersebut dengan menggunakan bahasa Jawa. “Jadi, mereka itu mintanya memang menggunakan bahasa Jawa  baku. Tapi tetap saya campur dengan bahasa Inggris, walaupun porsi bahasa Inggris sangat sedikit mungkin 1 atau 2 frasa. Itu dapat membantu mereka untuk memahami bahasa Jawa yang saya maksudkan,” paparnya.

Berjalan selama tiga bulan ini, pria yang menguasai empat bahasa tersebut mengaku memiliki permasalahan pada jam penyiaran radio. Penyiaran radio tersebut dilakukan selama 1 jam pada pukul 02.00 WIB dan 03.00 WIB. Diketahui, perbandingan waktu Indonesia barat (WIB) tersebut 10 jam lebih cepat daripada Suriname. “Kalau di Suriname itu jam-jam segitu sekitar pukul 16.00. Tapi di sini pukul 02.00,” ungkapnya.

Kemudian secara teknis, penyiaran tersebut dilakukan dengan cara telepon melalui WhatsApp. Hal itu dilakukan untuk memudahkan dalam segi teknis penyiaran. Dia sempat terpintas untuk memperbaiki peralatan seperti membeli mic condensor dan peralatan lainnya. “Sempat terpikirkan untuk memperbaiki kualitas, tapi saya pikirkan kembali kalau begini saja bisa berjalan,” ucapnya.

Diketahui, etnik Jawa di negara Suriname merupakan populasi tiga terbesar dari jumlah penduduk di negara tersebut. Namun, sedikit sekali dari masyarakat etnik Jawa di Suriname yang masih memegang teguh norma-norma kebudayaan Jawa. Hal tersebut dikarenakan pengaruh-pengaruh budaya Eropa yang telah merasuk etnik Jawa. “Jadi, mereka itu tidak ada yang tahu istilah becik ketitik ala ketara,” paparnya.

Selama penyiaran itu berlangsung, kata dia, respons dari etnik Jawa banyak yang rindu akan budaya-budaya dan bahasa baku dari nenek moyang mereka. Penyiaran yang dilakoni sekarang ini dapat dijadikan obat rindu bagi mereka etnik Jawa di Suriname. “Harapannya, jangan sampai kita bernasib sama seperti saudara kita yang ada di Suriname ini. Jadi perlu melestarikan budaya dan bahasa Jawa sebagai identitas kita yakni orang Jawa,” tutupnya. (*/c1/din) Editor : Nisrina Habibah
#ngunut #tulungagung #suriname #budaya #penyiarradio