TULUNGAGUNG - Keuletan Sunarko Sodrun Budiman berkecimpung di sastra Jawa kembali berbuah manis. Untuk kedua kalinya, dia menerima Hadiah Sastra Rancage yang pernah disabetnya pada 2009 silam. Semua tidak lepas dari antologi cerkak (cerpen) Jawa, Suro Agul-Agul, yang mendapat apresiasi dari Yayasan Rancage, yang fokus pada pemertahanan sastra daerah.
Bagi penggiat sejarah, nama Suro Agul-Agul tentu tidak asing lagi. Dia adalah panglima pasukan Mataram Islam pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo.
Namun, bagi seorang Sunarko Sodrun Budiman, nama inilah yang pada tahun ini mengantarkannya meraih penghargaan Rancage. Yakni, kumpulan atau antologi cerpen berbahasa Jawa yang berhasil dikumpulkannya. Tentu kebanggaan tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
“Saya merasa bahagia karena karya saya mendapat apresiasi yang luar biasa,” katanya saat Koran ini berkunjung ke Griya Budaya Surenpaten, di kediamannya, di Desa Balerejo, Kecamatan Kauman.
Narko Sodrun -nama bekennya- mengaku, apa yang terkumpul dalam antologi tersebut sebenarnya hasil karya lamanya sejak 2000 hingga 2023 yang berjumlah 23 judul. Semua dikumpulkan dalam satu buku dan diterbitkan pada 2022 lalu. “Itu sebenarnya cerita lama yang saya bukukan tahun lalu. Ternyata bablas mendapat penghargaan,” tambahnya lantas tertawa.
Pria berkumis ini melanjutkan, pengambilan judul Suro Agul-Agul bukannya tanpa sebab. Bagi dia, judul cerpen inilah yang paling nabet ati atau mengena di hatinya. Apalagi, banyak hal yang bisa diambil untuk pembelajaran dari alur cerita.
“Cerkak Suro Agul-Agul menceritakan seseorang yang dituakan dan dianggap mampu membedah berbagai permasalahan. Namun, lambat laun, hal itu justru membuat tokoh ini menjadi tidak nyaman. Jika ditarik kesimpulan, kekuasaan tidaklah selalu membuat seseorang ayem tentrem,” jelasnya mencuplik sedikit isi cerkak andalannya itu.
Pensiunan guru ini mengaku bahwa sebenarnya sudah mendapat kabar menerima penghargaan itu pada semester pertama 2023. Namun, dia tidak langsung menerima karena ternyata acaranya diundur hingga 18 Oktober lalu. Usut punya usut, ini dibarengkan dengan Ubud Writers and Readers Festivel (UWRF) di Bali.
“Ya lumayan, bisa sekalian jalan-jalan ke tempat wisata terkenal di Indonesia. Apalagi, di sana juga disertai banyak kegiatan yang berhubungan dengan pemertahanan bahasa dan sastra daerah,” ungkapnya.
Dia pun tidak mengira jika yang hadir ada tamu dari luar negeri. Dengan begitu, bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris yang kemudian diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Kendati demikian, semua tamu undangan begitu antusias dalam mengikuti setiap sesi dari panitia.
“Kalau penuh bahasa Inggris, tentu saya glagepan (kebingungan). Karena hanya bisa sedikit,” ujarnya lantas tertawa terbahak-bahak.
Dari acara yang berlangsung hampir seminggu ini, dia pun bisa memahami jika bahasa dan sastra daerah di penjuru Indonesia mengalami hal yang sama. Khususnya generasi muda yang enggan untuk menggunakan bahasa ibunya itu. Apalagi, dia juga menyadari jika bahasa Jawa juga belum tentu bisa dijadikan sandaran hidup.
“Tapi saya yakin bahasa Jawa tidak akan mati. Bukannya terlalu membanggakan diri, tapi penuturnya masih banyak di negara ini. Bahkan, di luar negeri seperti Suriname, juga masih ada orang Jawa,” tuturnya.
Disinggung sampai kapan akan menulis, pria berkumis ini mengaku akan terus melakukannya sampai tidak mampu lagi. Dia ingin terus mewarnai dunia sastra Jawa agar tetap eksis di perkembangan zaman yang semakin melaju pesat.
“Bagi saya, menulis adalah hal yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Selagi mampu, saya tetap akan menggerakkan jari-jemari untuk merangkai kata demi kata,” tandasnya.(*/c1/rka)
Editor : Anggi Septian A.P.