TULUNGAGUNG - Jeli melihat peluang, Denis Aprilia Sofika Habib memberanikan diri membuka usaha florist alias buket bunga.
Selain belajar filosofi di tiap-tiap rangkaian bunga, perempuan berkacamata ini juga getol mempelajari pasar. Kini, omzet puluhan juta bisa dia kantongi dalam sebulan.
Berawal dari ketertarikannya pada seni merangkai bunga, Denis banyak belajar teknik-teknik tertentu di berbagai kanal media sosial (medsos).
Kala itu, kegiatan ini bisa dibilang sebagai usaha sampingan karena dia juga disibukkan dengan kegiatan akademik di perguruan tinggi.
"Pada 2016, saya masih semester dua. Saya coba buka usaha florist karena saya lihat ada peluang," ucap alumnus Universitas Negeri Jember (Unej) ini.
Karena kesibukannya di bidang profesi menuntutnya fokus dalam pekerjaan, Denis memutuskan untuk menanggalkan usaha florist selama beberapa tahun.
Lalu, keinginannya kembali muncul saat dia kembali ke Tulungagung pada 2021 lalu.
"Saya rintis lagi di Tulungagung setelah boyongan dari kegiatan profesi karena dulu saya ambil jurusan perawat," katanya.
Ada alasan khusus kenapa perempuan yang tinggal di Desa Panjerrejo, Kecamatan Rejotangan, ini kembali berkeinginan membuka usaha florist di Kota Marmer. Dia menilai, pangsa pasar di Tulungagung cukup besar. Sedangkan, kala itu belum begitu banyak usaha serupa.
"Saat itu awal-awal Covid-19. Belum begitu banyak yang buka usaha ini. Tapi, peluangnya besar," ujar perempuan 26 tahun ini.
Bertahun-tahun bergelut dengan dunia seni merangkai bunga, Denis mengaku belajar banyak hal.
Mulai dari yang bersifat teknis seperti cara memilih bunga, memadupadankan bunga, hingga cara memasarkan produk.
Soal nonteknis, perempuan berkacamata ini mengaku belajar soal nilai filosofis yang ada di tiap-tiap bunga.
"Kalau menurut saya pribadi, nilai filosofi yang paling dalam itu ada pada bunga lili. Karena mengandung makna kewibawaan dan penghargan kepada orang lain. Apalagi bunga lili juga disebut dari ibu dari bunga lain. Karena itu harganya cukup mahal," sebut ibu satu anak ini.
Dari segi bisnis, dia menerangkan bahwa usaha florist terbilang menjanjikan asal si pelaku usaha jeli dalam melihat peluang.
Sebab, ada semacam siklus tahunan dimana usaha florist bakal mengalami naik-turun di waktu-waktu tertentu.
Denis mengungkapkan, di bulan-bulan tanpa event pada Januari-Februari, dia biasa mendapat pesanan sekitar 500-600 buket bunga dalam sebulan.
"Kalau di bulan yang banyak event seperti Juni, Oktober hingga Desember, pesanan bisa mencapai 1.200 buket sebulan," jelasnya.
Pelanggan bisa memilih Ada berbagai jenis bunga yang dia sediakan. Dalam hal ini Dia harus cermat dalam memilih jenis dan pasangan bunga dalam satu rangkaian.
Pemilihan jenis didasarkan ada jenis event atau selera masing-masing pelanggan. Selain jenis bunga yang jamak dijumpai, Denis juga menyediakan beberapa bunga impor.
"Ada yang pakai bunga palsu atau bunga segar. Kalau bunga segar lebih mahal. Soal harga, bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Mulai dari Rp 25 ribu hingga jutaan. Kalau omzet sebulan bisa mencapai puluhan juta," akunya.
Meski begitu, bukan berarti usaha florist tanpa kendala. Penggunaan bunga segar dalam buket membuat Denis terpaksa membuang banyak bunga begitu tidak terpakai.
Itu kondisi sebelum dia memutuskan untuk menyediakan lemari pendingin khusus bunga di rumahnya.
"Kalau tanpa lemari pendingin, bunga segar hanya bertahan dua hari. Kalau sekarang bisa sampai sepekan," imbuhnya.
Proses pemasaran juga jadi pekerjaan rumah (PR) lain. Selama ini, Denis biasa menerima pesanan dari Tulungagung, Blitar, Trenggalek, dan Kediri. Nah, pengiriman ke luar kota belum bisa dilakukan.
Sebab, dibutuhkan cara khusus untuk memastikan bunga tetap dalam kondisi segar begitu sampai di tempat tujuan.
"Sehingga, customer dari luar kota yang kita minta untuk ambil bunganya," lanjutnya.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra