Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Ratusan Purna-PMI Desa Tunggangri Nyaman Jadi Petani, Gencar Bentuk Poktan, Hasil Pertanian Dilirik Pengepul

Rinto Wahyu Hidayat • Rabu, 22 Mei 2024 | 19:36 WIB
GEMBIRA: Para petani dusun Ngerawan ketika petik sayuran hasil pertanian.
GEMBIRA: Para petani dusun Ngerawan ketika petik sayuran hasil pertanian.

TULUNGAGUNG - Desa Tunggangri, Kecamatan Kalidawir, menjelma sebagai desa dengan produksi pertanian hortikuktura yang cukup besar di Tulungagung.

Siapa sangka, mayoritas petani di desa tersebut merupakan anak muda mantan pekerja migran Indonesia (PMI) yang kini telah nyaman bertani dan enggan kembali ke perantauan.

Pada kurun waktu 2019 sampai 2024 ini, Desa Tunggangri bisa membuktikan bahwa pengelolaan pertanian yang baik bisa mengerek kesejahteraan masyarakatnya.

Inovasi dalam hal pertanian serta dukungan penuh dari pemerintah desa (pemdes), menjadi kunci sektor pertanian kawasan tersebut bisa terus berkembang.

Sekretaris Desa Tunggangri, Misbachul Choiri, mengamini bahwa dulu banyak warga setempat yang memilih merantau ke luar negeri. Tidak terkecuali dari kalangan muda.

Namun pada 2019 lalu, menyusul adanya program desa desmigratif di Tunggangri, jumlah warga yang bekerja ke luar negeri lambat laun berkurang. Mereka yang sebelumnya telah berstatus PMI juga tak ragu tinggal di desa kelahiran untuk mengelola pertanian.

Dia menyebut bahwa saat ini sudah ada tiga kelompok tani (poktan). Satu poktan diisi golongan tua, sementara dua poktan diisi petani muda yang rata-rata purna-PMI.

“Tentu ada perbedaan dari pemdes untuk melayani dan memfasilitasi petani tua dan petani muda,” ungkap Misbah, sapaan akrab pria tersebut.

Pemdes Tunggangri tidak main-main dalam upaya meningkatkan sektor pertanian di wilayahnya. Setidaknya 20 persen dari dana desa (DD) dialokasikan untuk memfasilitasi sektor pertanian.

Seperti untuk memperbaiki infrastuktur pertanian, perjalanan usaha pertanian, talutisasi, pengadaan benih sesuai program, hingga kemudahan mencari pupuk.

“Bagi para petani muda, fasilitasi yang kita berikan ditujukan agar mereka bisa lebih giat dan lebih maju untuk berinovasi,” tuturnya.

Dari program-program yang diluncurkan itu, Misbah membeberkan, petani muda di Desa Tunggangri memperoleh hasil pertanian hortikultura yang cukup bagus dan berkelanjutan.

Meskipun sangat bergantung dengan musim, pertanian di Tunggangri tetap stabil setiap tahunnya. Bahkan diambil pengepul dan dikirim untuk menyediakan stok pangan di dalam dan luar Tulungagung.

“Pemuda yang belum memiliki pekerjaan bisa juga diserap untuk menjalin kerja sama sebagai pelaku usaha pertanian,” katanya.

Proses tanam.
Proses tanam.

Kemajuan sektor pertanian ini membentuk pandangan baru di Tunggangri bahwa masyarakat tidak perlu jauh-jauh bekerja ke luar negeri. Cukup sebagai petani di tanah kelahirannya sendiri.

“Mereka (petani muda mantan PMI, Red) memberdayakan dirinya sendiri untuk berkarya sebagai petani,” tutup Misbah.

Sementara itu, petugas desmigratif Desa Tunggangri, Adib Hasani menambahkan, sebenarnya sebelum 2019 sudah banyak pemuda Tunggangri yang berkecimpung di sektor pertanian.

Namun tonggaknya ketika program desa desmigratif masuk pada 2019. Ada empat elemen pada program itu. Mulai pengembangan usaha produktif, koperasi, pendampingan anak-anak PMI yang ditinggal orang tuanya bekerja di luar negeri, serta melayani calon PMI agar memilih jalur prosedural.

“Dalam poin pengembangan usaha produktif ini, kita mencari potensi apa di Tunggangri yang diminati para pemuda sehingga mereka tidak bekerja di luar negeri lagi. Dan ternyata sektor pertanian yang paling menarik,” jelas Adib.

Meski data pasti belum diketahui, Adib meyakini ada ratusan petani muda purna-PMI di Desa Tunggangri. Mereka tersebar di dua dusun dengan mendirikan poktan sendiri-sendiri.

“Ada dua poktan yang diisi petani-petani muda. Mereka terus berupaya untuk mengembangkan pertanian, khususnya hortikultura,” katanya.

Adib melanjutkan, inovasi sektor pertanian menjadi kunci agar sektor tersebut tetap bisa bertahan dan berkembang. Seperti membuat sendiri pupuk organik agensia hayati, membuat green house, dan lain sebagainya.

“Problem pertanian itu semakin lama juga semakin berkembang. Makanya inovasi sangat penting di sini,” jelasnya.

Saat ini, Desa Tunggangri juga sedang mengembangkan kelompok wanita tani. Kelompok ini akan mengolah dan menambah nilai ekonomi setiap produk pertanian. Dengan demikian, setiap produksi pertanian yang ada bisa lebih maksimal dalam sisi ekonomi.***

Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra
#pmi #desa tunggangri #petani