Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kepincut Faktor Mistis, Inilah Cerita Nurfiat, Pehobi Perkutut Lokal asal Tulungagung 

Aditya Yuda Setya Putra • Kamis, 13 Juni 2024 | 18:38 WIB
Nurfiat, pehobi burung perkutut lokal karena terkagum dengan nilai filosofisnya.
Nurfiat, pehobi burung perkutut lokal karena terkagum dengan nilai filosofisnya.

TULUNGAGUNG - Dari banyaknya jenis burung hias dan kicau, Nurfiat justru memilih memelihara burung perkutut lokal. Bukan semata karena nilai jualnya, Nurfiat terkagum dengan nilai filosofis burung perkutut.

Suara kicau burung nyaring terdengar begitu masuk halaman rumah Nurfiat. Siang ini (Rabu, 12/6/2024), dia sedang sibuk melakukan proses pemeliharaan puluhan burung perkutut.

Pemilihan jenis pakan perlu diperhatikan, mengingat jenis burung ini bisa dijual dengan harga fantastis.

"Mulanya dari hobi saja. Sudah berlangsung beberapa dekade. Kalau saat ini ada lebih dari 10 ekor perkutut yang saya pelihara," sebut laki-laki yang akrab disapa Nur ini.

Ketua Perkumpulan Pelestari dan Pecinta Perkutut Lokal Seluruh Indonesia (P4LSI) Korwil Tulungagung ini menambahkan, burung perkutut punya banyak keunikan.

Selain dikenal memiliki suara yang nyaring dan khas, perkutut juga jadi incaran penghobi karena identik dengan hal-hal berbau mistis.

"Ada yang percaya bisa melanggengkan kekuasaan atau bisa membawa keberuntungan," sebutnya.

Tapi, menurut Nur, nilai filosofis dari burung perkutut itulah yang justru menjadi daya tarik.

Karakteristik bulu berwarna cokelat di area sayap dan punggung ditambah dengan corak hitam-putih di bagian leher disebut mirip dengan karakteristik orang Jawa.

"Baju kita orang Jawa kan juga lurik-lurik hitam, putih, dan cokelat. Jadi, burung ini sebagai simbol orang Jawa. Artinya, pakaian atau raga boleh lurik, tapi hati harus tetap bersih. Itu filosofi perkutut lokal," bebernya.

Disinggung soal nominal, laki-laki yang tinggal di Desa Rejoagung, Kecamatan Kedungwaru, ini mengaku bahwa satu ekor burung perkutut bisa dibanderol jutaan rupiah.

Harga bisa naik berkali-kali lipat jika satu burung perkutut diketahui punya corak yang unik, gacor atau berbunyi secara intensif, dan sering memenangkan lomba.

"Kalau kelas lomba, perkutut lokal bisa di angka Rp 30 juta. Tergantung seperti apa burung yang dimiliki. Kalau memang bagus, pasti dicari orang. Bahkan, kadang saya tidak jual tapi diuber-uber (dikejar, Red) pembeli," kata laki-laki 53 tahun ini lantas terkekeh.

Selain sebagai wadah bagi para penghobi untuk melestarikan perkutut lokal, keberadaan komunitas disebut punya peran penting. Nur menegaskan, komunitasnya sudah tersebar di seluruh daerah di tanah air.

Nah, di dalamnya ditekankan nilai-nilai cinta lingkungan, kekeluargaan, dan upaya untuk melestarikan budaya.

Karena itu, agenda lomba di masing-masing daerah dijadwalkan digelar minimal satu kali dalam dua bulan.

Hal ini diharapkan dapat menggugah kesadaran anggota komunitas dan masyarakat umum untuk hidup bergotong royong dan menyelaraskan diri dengan alam dan lingkungan.

"Semakin banyak lomba, pembuat sangkar, penjual pakan, atau pemikat burung bisa produktif. Itu dampak untuk ekonomi daerah. Tapi, poin pentingnya adalah untuk nguri-uri budaya Jawi. Ini patut dilestarikan turun temurun ke anak cucu kita," ujar ayah dua anak ini.***

Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra
#perkutut #nurfiat #Pehobi