Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Bagi dr Sekar Puspita Lilasari Pengabdian Seorang Dokter Tak Hanya di Ruang Praktik, Begini Pendapat Wanita Ramah Asal Tulungagung Ini

Sandy Sri Yuwana • Jumat, 24 Oktober 2025 | 21:09 WIB

Pengabdian kepada masyarakat menjadi tekad dr Sekar Puspita agar benar-benar membawa manfaat.
Pengabdian kepada masyarakat menjadi tekad dr Sekar Puspita agar benar-benar membawa manfaat.

RADAR TULUNGAGUNG - Momentum Hari Dokter Nasional 2025, menjadi refleksi bahwa dokter di era modern ini, tak hanya soal menolong lewat tindakan medis atau pelayanan, tetapi juga lewat kata-kata, lewat konten dan edukasi di media sosial.

Dokter bisa mengabdi dimana saja, baik di ruang praktik, di layar kecil gawai, bahkan lewat cerita yang menginspirasi.

Hal tersebut diungkapkan oleh dr Sekar Puspita Lilasari, Sp.DVE, seorang dokter estetika atau yang biasa disebut dokter spesialis kulit dan kelamin asal Tulungagung.

Baca Juga: Rekrutmen Pegawai Karier Khusus Dokter BPJS Kesehatan 2025: Syarat, Deskripsi Pekerjaan, dan Dokumen yang Harus Disiapkan

Dia membagikan cerita inspiratif perjalanannya menjadi seorang dokter. Ketika sebagian anak kecil masih bingung menjawab pertanyaan tentang cita-citanya, seorang bocah yang akrab dipanggil Sekar sudah dengan mantap berkata, “Aku ingin jadi dokter.”

Ucapan polos di usia dua tahun itu bukan sekadar angan-angan masa kecil. Kini, di usia 38 tahun, perempuan ramah ini telah menjadi salah satu dokter spesialis kulit dan kelamin yang berdedikasi di RSUD dr. Iskak Tulungagung.

Menjadi dokter, bagi Sekar, adalah perjalanan panjang penuh konsistensi. “Sejak kecil cita-cita saya tidak pernah berubah. Dari TK sampai SMA, saya selalu menulis ingin menjadi dokter,” ujarnya sambil tersenyum.

Baca Juga: Mawar de Jongh Libatkan Dokter untuk Film Sampai Titik Terakhirmu, Begini Alasannya

Perjalanan menuju gelar spesialis kulit dan kelamin itu tak sebentar. Total dia membutuhkan sepuluh tahun untuk menjadi dokter spesialis ini. "Empat tahun sarjana, dua tahun koas, dan empat tahun lagi studi spesialis,” jelasnya.

Namun sebelum meraih gelar tersebut, Sekar sempat mengabdi sebagai dokter umum di sebuah daerah terpencil di Kepulauan Riau. Ini merupakan sebuah pengalaman yang meninggalkan kesan mendalam baginya.

Pada tahun 2013, bersama sang suami yang juga seorang dokter, Sekar menemani sang suami bertugas di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau.

Baca Juga: Viral Sindikat Pemerasan di Industri Skincare, Dokter Kecantikan Diduga Lakukan Pemerasan Berkedok Endorse

Di sana merupakan daerah yang masih sangat tradisional. Wilayah tersebut hanya dialiri listrik selama enam jam dalam setiap malam.

“Kami sempat tinggal di sana, listrik hidup jam enam sore dan mati jam dua belas malam. Siangnya ya menikmati alam saja,” kenangnya.

Di tengah keterbatasan itu, keduanya tak hanya mengobati pasien, tapi juga meninggalkan manfaat bagi warga sekitar.

Dia bersama suami membangun jamban untuk warga desa yang sebelumnya masih buang air di tanah terbuka.

“Itu ide suami saya. Kami ingin meninggalkan sesuatu yang bermanfaat, bukan hanya kenangan. Paling tidak, ada hal baik yang bisa dikenang dari kedatangan kami di sana,” tutur Sekar.

Baca Juga: Presiden Prabowo: Pendidikan Dokter Spesialis Jangan Terlalu Terhimpit oleh Prosedur dan Peraturan Kuno

Setelah masa pengabdian selesai, Sekar melanjutkan pendidikan spesialis di Universitas Brawijaya. Takdir kemudian membawanya ke Tulungagung, saat sang suami mendapat tugas di RSUD dr Iskak. “Kami berdua akhirnya ditempatkan di sini. Rezeki memang sudah diatur,” katanya.

Sejak saat itu, Sekar mulai berfokus pada edukasi masyarakat seputar kesehatan kulit dan kelamin, terutama untuk meluruskan mitos-mitos yang masih banyak dipercaya warga.

“Saya mulai dengan mengedukasi pelan-pelan. Sekarang masyarakat Tulungagung sudah jauh lebih sadar dan terbuka soal kesehatan kulit. Mereka datang ke dokter bukan hanya untuk berobat, tapi juga untuk berdiskusi,” ujar Sekar bangga.

Baca Juga: Dokter Asal Tulungagung, dr Fitranti Suciati Laitupa SpJP (K) Timba Ilmu di Rumah Sakit Terbaik se-Asia Pasifik versi Newsweek, Bawa Oleh-oleh Penting

Bagi dr Sekar, Hari Dokter Nasional bukan sekadar peringatan profesi, melainkan momentum refleksi bagi setiap tenaga medis.

Ia percaya, setiap dokter memiliki ruangnya sendiri untuk menebar manfaat. Baik dari ruang praktik, media sosial, atau lewat program pengabdian di pelosok.

Sekar menyampaikan harapan tulusnya untuk rekan seprofesinya dan juga untuk masyarakat Tulungagung.

Baca Juga: Optimalisasi Pelayanan Kesehatan, Bupati Tulungagung Siapkan Skema untuk Isi Kekurangan Puluhan Dokter di Puskesmas

Sementara untuk warga, ia berpesan agar semakin percaya dan bekerja sama dengan tenaga medis demi kesehatan bersama.

“Semoga Tulungagung semakin sehat, kuat, dan penuh empati. Mari terus berbuat baik dari tempat kita berdiri untuk mereka yang kita layani,” tutupnya dengan senyum hangat. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#hari dokter nasional #tulungagung #dr sekar puspita lilasari #tindakan medis