Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Fenomena Superioritas Selera, Tren Baru di Media Sosial saat Orang Merasa Selera Mereka Paling Benar

Siti Fadhilah Salsabila • Jumat, 28 November 2025 | 05:26 WIB
Selera bukan alat ukur derajat. Yang beda bukan berarti lebih rendah.
Selera bukan alat ukur derajat. Yang beda bukan berarti lebih rendah.

RADAR TULUNGAGUNG - Di tengah maraknya budaya digital, perdebatan soal “selera siapa yang paling keren” semakin sering muncul.

Mulai dari musik, film, fashion, hingga olahraga, banyak orang merasa kesukaannya lebih istimewa dibanding milik orang lain.

Fenomena merasa superior hanya karena preferensi pribadi bukan sekadar persoalan ego, tetapi memiliki penjelasan psikologis yang cukup kompleks.

Baca Juga: Apakah Perilaku Negatif Dapat Diwariskan Kepada Anak? Berikut Beberapa Contoh dan Penjelasannya

Psikolog sosial menyebutnya sebagai Identity Signaling, yaitu proses ketika seseorang menggunakan kesukaannya sebagai penanda identitas.

Apa yang mereka sukai bukan lagi sekadar hobi, melainkan cara untuk menunjukkan siapa mereka dan bagaimana ingin dilihat oleh publik.

Semakin unik dan dianggap eksklusif, semakin kuat pula kebutuhan untuk memamerkannya.

Fenomena ini terhubung dengan teori psikologi sosial bernama Social Identity Theory, yang menjelaskan kecenderungan manusia untuk membentuk kelompok berdasarkan kesamaan minat.

Kelompok ini menjadi in-group, sementara mereka yang berbeda dianggap out-group.

Untuk merasa lebih penting, sebagian orang cenderung meninggikan kelompoknya sendiri sambil merendahkan yang lain.

Baca Juga: Menikmati Hujan Sambil Mendengarkan Musik Favorit, Cara Paling Sederhana untuk Menenangkan Pikiran

Banyak perilaku superioritas selera juga berasal dari rasa tidak aman (insecurity).

Ketika seseorang merasa kurang, mereka mencari cara untuk merasa lebih baik, salah satunya dengan memposisikan selera mereka sebagai yang paling berkelas dan paling benar.

Meremehkan pilihan orang lain menjadi bentuk mekanisme pertahanan diri.

Selain itu, dorongan mencari status sosial dan pengakuan semakin kuat di era media sosial, di mana selera menjadi komoditas untuk meraih validasi melalui like, komentar, dan followers.

Selera bukan lagi perkara kenyamanan, tetapi kompetisi popularitas.

Baca Juga: Rahasia Self-Care Sederhana yang Efektif dengan Masker Wajah, Manfaat dan Tips Merawat Kulit di Rumah

Pada akhirnya, perbedaan selera semestinya menjadi ruang saling menghargai, bukan alat untuk merendahkan.***

Editor : Vidya Sajar Fitri
#psikologi #selera #fenomena sosial #superioritas