RADAR TULUNGAGUNG - Politikus Partai Amanat Nasional (PAN), Surya Utama alias Uya Kuya, mengisahkan kembali cerita kelam penjarahan rumahnya. Peristiwa di Duren Sawit, Jakarta Timur, akhir Agustus lalu, diduga dipicu video hoaks.
Ia menduga penjarahan itu berawal dari banyaknya penyebaran video hoaks tentang aksi joget anggota dewan. Uya Kuya sendiri tidak membantah dirinya memang ikut berjoget usai Sidang Tahunan DPR pada 15 Agustus 2025.
Uya Kuya merasa dirinya difitnah dan diframing secara terstruktur, sistematis, dan masif (TSM) di media sosial. Aksi joget itu sendiri dilakukan Uya untuk menghargai penampilan musik dari mahasiswa Unhan.
Video joget yang viral itu telah diubah secara sengaja dengan musik latar yang berbeda. Musik latar yang disisipkan adalah musik yang biasa terdengar di klub malam.
Video-video hoaks ini diberi caption yang sangat provokatif tentang kenaikan gaji dewan. Narasi palsu menyebut anggota dewan merayakan kenaikan gaji Rp3 juta sehari.
Uya Kuya menegaskan bahwa narasi tersebut sepenuhnya tidak benar dan hoaks. Ia memastikan bahwa faktanya sampai saat ini gaji anggota DPR tidak naik sama sekali.
Kemarahan publik semakin bertambah karena beredar video lama milik Uya yang diunggah ulang. Video lama itu diberi caption palsu seolah Uya mengatakan gaji Rp3 juta itu kecil.
Uya menjelaskan ia tidak pernah mengunggah konten dengan narasi semacam itu. Ia juga mengaku tidak memberikan satu patah kata pun pernyataan setelah kejadian joget di DPR.
Ia menyadari ribuan konten hoaks ini muncul secara serentak pada hari yang sama. Pola TSM ini membuat banyak orang, termasuk jenderal yang dikenalnya, ikut termakan hoaks.
Banyak pihak yang Uya kenal sempat marah besar kepadanya karena percaya narasi palsu. Setelah Uya memberikan fakta, mereka akhirnya meminta maaf.
Awalnya, Uya Kuya hanya mengira rumahnya akan didatangi demonstran. Namun, ia berubah pikiran setelah rumah Ahmad Sahroni dijarah pada 30 Agustus 2025.
Uya bersama keluarganya kemudian memutuskan meninggalkan rumahnya di Duren Sawit untuk mencari tempat yang aman. Uya sendiri masih berada di rumah dua jam sebelum insiden penjarahan itu terjadi.
Mertua Uya baru keluar dari rumah hanya 45 menit sebelum massa masuk dan menjarah. Mereka meninggalkan rumah tanpa membawa apa-apa, hanya membawa empat lembar baju.
Surat-surat berharga dan aset penting lainnya ditinggalkan, karena mereka tidak menyangka massa akan masuk ke dalam rumah. Mereka hanya berpikir untuk keluar demi keamanan semata.
Saat penjarahan, Uya dan istrinya berada di apartemennya. Ia membantah narasi hoaks yang beredar bahwa ia kabur ke luar negeri saat kejadian.
Personel dari Polres Jakarta Timur sudah berada di depan kediaman Uya untuk berjaga. Akan tetapi, jumlah petugas yang ada tidak sebanding dengan jumlah massa yang datang menyerbu.
Uya juga mendapat laporan bahwa para penjarah bukanlah warga di sekitar kediaman. Ada pihak tertentu yang membawa mobil besar untuk mengangkut massa ke lokasi penjarahan.
Uya menyebut ada pihak tertentu yang bertindak sebagai koordinator lapangan (korlap). Orang-orang ini memberikan komando agar massa mendobrak pintu dan masuk ke dalam.
Setelah memberikan komando, para korlap ini segera pergi dari lokasi. Pola "membuka jalan" seperti ini terlihat mirip dengan penjarahan di rumah-rumah anggota dewan lain.
Massa yang terpancing emosinya akhirnya mengambil barang-barang milik keluarga Uya. Meskipun warga sekitar sempat membantu menahan massa selama 1,5 hingga 2 jam.
Editor : Dharaka R. Perdana