Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Banyak Orang di Zaman Sekarang Menormalisasikan Hal-Hal Buruk seperti Korupsi, Pemicunya di Luar Perkiraan

Naufal Shafa Diya • Jumat, 5 Desember 2025 | 03:46 WIB

 

Fenomena normalisasi perilaku buruk seperti korupsi semakin terlihat di masyarakat modern. Mengapa?
Fenomena normalisasi perilaku buruk seperti korupsi semakin terlihat di masyarakat modern. Mengapa?

RADAR TULUNGAGUNG - Di berbagai negara, termasuk Indonesia, korupsi dan perilaku tidak etis lainnya seolah semakin “biasa”.

Banyak orang melihatnya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan lagi sesuatu yang harus ditentang keras.

Fenomena normalisasi ini sangat berbahaya, karena dapat merusak sistem sosial dan moral generasi mendatang. 

Baca Juga: Tumbler Bersih Total: Cara Ampuh Bersihkan Tumbler Sampai Bagian Dalam dan Tanpa Sisa Bau

1. Paparan Berulang Membuat Kita Terbiasa

Psikologi menjelaskan bahwa manusia mudah menormalisasi sesuatu jika sering melihatnya. Ketika kasus korupsi muncul hampir setiap minggu di berita, ada kecenderungan untuk menganggapnya hal yang wajar, meski sebenarnya sangat salah.

Efeknya: Rasa kaget dan marah berkurang, Muncul pikiran “semua orang juga begitu”, Standar moral ikut menurun tanpa disadari

2. Budaya “Semua Orang Melakukan”

Salah satu penyebab terbesar normalisasi perilaku buruk adalah social conformity—keinginan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Jika seseorang berada di lingkungan yang menganggap korupsi, nepotisme, atau manipulasi kecil sebagai hal biasa, mereka lebih mungkin ikut melakukannya.

Baca Juga: Pendapatan APBD Kota Batu 2026 Terkoreksi, Pemkot Genjot PAD Lewat Digitalisasi dan Penguatan BUMD

Contoh nyata: “Memberi uang pelicin” dianggap jalan cepat, Mark-up biaya dianggap normal dalam pekerjaan, Minta bantuan kenalan pejabat dianggap hal lumrah, Saat lingkungan menerima hal buruk, individu pun ikut terbawa.

3. Rasa Ketidakberdayaan Terhadap Sistem

Banyak orang merasa bahwa sistem hukum atau pemerintahan tidak cukup kuat atau adil untuk menangani korupsi. Akibatnya, muncul sikap:

“Percuma melawan, tetap saja terjadi”

“Yang kecil ditangkap, yang besar bebas”

“Kalau orang lain boleh, kenapa saya tidak?”
Perasaan tidak berdaya ini membuat orang berhenti peduli, lalu lama-kelamaan ikut menormalisasi perilaku buruk.

4. Media dan Konten yang Membentuk Persepsi

Media modern, termasuk media sosial, sering menyajikan berita buruk secara terus-menerus. Tidak jarang, kasus korupsi bahkan dijadikan bahan komedi atau meme.

Walau terlihat lucu, ini bisa membuat masyarakat kehilangan sensitivitas terhadap kejahatan tersebut. Semakin banyak sebuah perilaku dijadikan konten hiburan, semakin besar kemungkinan dianggap tidak terlalu serius.

5. Kurangnya Pendidikan Etika Sejak Dini

Baca Juga: Wajahmu Jadi Meme Tanpa Izin? Hati-Hati, Ini Bisa Jadi Masalah Hukum Serius!

Pendidikan moral sering kali hanya teori di buku, tanpa contoh nyata. Jika anak-anak tumbuh melihat orang dewasa melakukan korupsi kecil—misalnya menyontek, memanipulasi data, atau memberi uang sogokan.

Mereka akan menganggap hal itu normal ketika dewasa. Moral yang tidak dipraktikkan akan kalah oleh lingkungan yang penuh contoh buruk.

6. Godaan Ekonomi dan Tekanan Hidup

Beberapa orang melakukan tindakan tidak etis karena tekanan ekonomi atau kebutuhan mendesak. Ketika banyak orang mencari “jalan pintas”, budaya ini menyebar dengan cepat.

Jika masyarakat lebih fokus pada hasil daripada proses, perilaku buruk akan semakin sering dibenarkan.

7. Krisis Teladan di Kalangan Pejabat dan Publik Figur

Ketika tokoh publik, pejabat, atau orang berpengaruh tertangkap melakukan tindakan korupsi, tetapi tetap hidup nyaman atau kembali populer, masyarakat pun belajar satu hal:

“Perilaku buruk ternyata tidak terlalu berbahaya.”

Normalisasi perilaku buruk seperti korupsi bukan terjadi secara tiba-tiba. Fenomena ini dipengaruhi oleh budaya, media, lingkungan, tekanan ekonomi, dan berulangnya kasus serupa.

Untuk mencegahnya, masyarakat perlu: Meningkatkan pendidikan moral, Memperkuat sistem hukum, Memberikan teladan nyata yang baik, Membangun budaya yang menghargai kejujuran.

Perubahan besar selalu dimulai dari hal kecil: berhenti menerima perilaku tidak etis sebagai sesuatu yang biasa. **** 

Editor : Dharaka R. Perdana
#hal buruk #korupsi #Normalisasi