RADAR TULUNGAGUNG – Prediksi Harga Bitcoin Februari 2026 menjadi sorotan investor kripto global setelah BTC gagal mempertahankan breakout di atas level psikologis USD 100.000 pada Januari.
Penolakan di area tersebut memicu aksi ambil untung jangka pendek, namun tekanan jual dinilai mulai mereda seiring stabilnya permintaan pasar.
Pergerakan harga Bitcoin kini memasuki fase konsolidasi setelah euforia awal tahun tidak berlanjut.
Alih-alih mengalami penurunan agresif, harga BTC justru bergerak relatif stabil. Sejumlah indikator on-chain dan faktor makroekonomi menunjukkan kondisi yang berpotensi mendukung pemulihan harga pada Februari 2026.
Secara historis, Februari dikenal sebagai bulan yang cukup bullish bagi Bitcoin. Data historis menunjukkan rata-rata imbal hasil Bitcoin di bulan Februari mencapai sekitar 14,3 persen.
Hal inilah yang membuat Prediksi Harga Bitcoin Februari 2026 menjadi semakin relevan bagi pelaku pasar yang tengah menunggu arah pergerakan selanjutnya.
Konsolidasi Pasca Gagal Breakout USD 100.000
Bitcoin sempat mencoba menembus level USD 100.000 pada Januari 2026, namun gagal mempertahankan momentum.
Kegagalan ini mendorong aksi profit taking, terutama dari investor jangka pendek. Meski demikian, koreksi yang terjadi relatif terkendali dan tidak disertai lonjakan tekanan jual ekstrem.
Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di kisaran USD 88.000 hingga USD 89.000. Stabilnya harga di zona ini menandakan pasar masih memiliki minat beli yang cukup kuat.
Investor cenderung menunggu konfirmasi arah, bukan melakukan panic selling seperti pada fase bearish sebelumnya.
Indikator Profit/Loss Beri Sinyal Positif
Salah satu indikator penting yang diamati dalam Prediksi Harga Bitcoin Februari 2026 adalah Realized Profit/Loss Ratio berbasis rata-rata pergerakan 90 hari.
Secara historis, reli Bitcoin yang berkelanjutan biasanya terjadi ketika rasio ini berhasil menembus level 5,0.
Dalam dua tahun terakhir, setiap pemulihan harga di pertengahan siklus mengikuti pola serupa.
Ketika rasio ini gagal bertahan di atas ambang tersebut, reli cenderung cepat kehilangan tenaga. Namun, pergerakan terbaru mengindikasikan potensi masuknya modal baru yang mampu menyerap aksi ambil untung, sehingga tekanan jual tidak lagi mendominasi.
Peran Federal Reserve dan Sentimen Pasar
Faktor makroekonomi turut memengaruhi prediksi pergerakan Bitcoin pada Februari.
Federal Reserve memutuskan untuk menahan suku bunga pada rapat kebijakan awal tahun. Ketua The Fed Jerome Powell menyebut suku bunga berada pada “kisaran netral”, mengindikasikan peluang jeda pengetatan yang lebih panjang.
Dari sisi psikologi pasar, data Santiment menunjukkan sentimen investor masih berada di level hati-hati.
Kondisi ini justru sering menjadi landasan kenaikan bertahap, karena reli biasanya dimulai saat pasar belum terlalu optimistis.
Arus Keluar ETF Bitcoin Mulai Melambat
Exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot juga menjadi faktor penting dalam Prediksi Harga Bitcoin Februari 2026.
Selama tiga bulan terakhir, ETF Bitcoin mengalami arus keluar bersih yang cukup besar. Pada November 2025, arus keluar tercatat mencapai USD 3,48 miliar, disusul USD 1,09 miliar pada Desember.
Namun, pada Januari 2026, arus keluar tersebut melambat drastis menjadi sekitar USD 278 juta. Perlambatan ini mengindikasikan tekanan jual dari investor institusional mulai berkurang.
Jika arus ETF berbalik positif pada Februari, hal ini berpotensi memberikan dukungan struktural bagi harga Bitcoin.
Target Harga dan Risiko yang Perlu Diwaspadai
Dari sisi teknikal, Bitcoin masih bergerak dalam pola ascending broadening wedge. Harga baru-baru ini memantul dari batas bawah pola tersebut. Level USD 90.000 menjadi kunci utama yang harus direbut kembali untuk mengonfirmasi momentum bullish.
Jika Bitcoin mampu bertahan dan diterima di atas USD 90.000, target kenaikan jangka pendek berada di area USD 98.000 hingga USD 101.000. Namun, risiko penurunan tetap ada. Apabila harga turun menembus USD 87.210, Bitcoin berpotensi terkoreksi lebih dalam menuju USD 84.698, yang akan menunda skenario bullish pada Februari.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula