RADAR TULUNGAGUNG- Pergerakan saham BUMI kembali menjadi sorotan pelaku pasar. Pada perdagangan terakhir, saham emiten tambang milik Grup Bakrie ini ditutup melemah cukup dalam, memicu kekhawatiran investor ritel yang berharap harga segera pulih ke level 300-an.
Berdasarkan data perdagangan, saham BUMI ditutup di level 274 atau turun 22 poin setara minus 7,43 persen. Penurunan ini terjadi setelah sebelumnya sempat menyentuh area 296 bahkan bergerak di kisaran 300. Namun tekanan jual yang kuat membuat harga kembali tertekan.
Sejak awal sesi, saham BUMI sebenarnya sempat bergerak menghijau. Dibuka di 296 dan menyentuh level tertinggi 298, tetapi penguatan itu tidak bertahan lama. Memasuki sesi kedua perdagangan, tekanan jual semakin deras hingga harga sempat menyentuh level terendah di 270 sebelum akhirnya ditutup di 274.
Tekanan Jual Dominan, Volume Tembus 87 Juta Lot
Secara teknikal, tekanan jual terlihat lebih dominan dibandingkan aksi beli. Volume transaksi tercatat mencapai 87 juta lot dengan nilai transaksi sekitar Rp2,4 triliun. Angka ini menunjukkan saham BUMI masih menjadi salah satu saham dengan aktivitas tinggi di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Dalam daftar top value, top volume, hingga top frekuensi, saham berkode BUMI ini bahkan menempati posisi pertama. Artinya, meskipun harga terkoreksi dalam, minat transaksi tetap besar.
Namun dari sisi pergerakan investor asing, tercatat adanya aksi net sell. Data menunjukkan investor asing melakukan penjualan bersih signifikan. Di sisi bid dan offer juga terlihat tekanan jual lebih tebal dibandingkan antrean beli.
Secara teknikal, level support terdekat berada di area 262 hingga 252. Jika tekanan jual berlanjut dan level ini ditembus, maka potensi koreksi lanjutan masih terbuka. Sebaliknya, jika mampu bertahan dan memantul, peluang rebound jangka pendek bisa saja terjadi.
Baca Juga: Tak Hanya Gurih, Risol Matcha dan Cokelat Ramaikan Takjil Ramadan di Sumbergempol Tulungagung
Peran Broker: LB dan LG Dominan Jual
Menariknya, dari sisi broker summary terlihat adanya tekanan jual kuat dari beberapa broker besar. Broker berkode LB tercatat melakukan penjualan cukup signifikan, bahkan mencapai sekitar Rp105 miliar atau sekitar 3,8 juta lot. Selain LB, broker LG juga terlihat aktif melepas saham.
Di sisi lain, terdapat broker yang melakukan akumulasi, seperti CC dan MG, meski nilainya tidak sebesar tekanan jual yang terjadi. Beberapa broker lokal juga tercatat melakukan pembelian bertahap.
Dominasi jual oleh broker tertentu, khususnya pada sesi kedua perdagangan, membuat harga saham BUMI semakin tertekan hingga mendekati level low harian.
Sentimen APBN Defisit Jadi Faktor Tekanan?
Selain faktor teknikal dan aksi jual broker, sentimen makroekonomi turut menjadi perhatian. Rilis APBN Januari yang mencatat defisit Rp54,6 triliun atau sekitar 0,21 persen terhadap PDB dinilai bisa memengaruhi psikologis pasar.
Meski tidak secara langsung berkaitan dengan fundamental BUMI, sentimen negatif makro sering kali berdampak pada saham-saham berisiko tinggi, termasuk saham sektor tambang dan energi.
Pelaku pasar kini mencermati apakah koreksi ini murni akibat aksi ambil untung dan distribusi, atau ada sentimen lain yang lebih besar yang membayangi pergerakan saham BUMI.
Peluang Rebound atau Lanjut Koreksi?
Sebelumnya, saham BUMI sempat menembus area 300 dan memunculkan harapan akan melanjutkan penguatan menuju level gap di kisaran 328. Namun harapan tersebut pupus setelah harga kembali berbalik arah dan terkoreksi tajam.
Dengan kondisi saat ini, investor dihadapkan pada dua skenario. Jika tekanan jual mereda dan muncul akumulasi kuat di area support, potensi technical rebound terbuka. Namun jika distribusi masih berlanjut, risiko penurunan ke bawah 270 bahkan mendekati 260 masih perlu diwaspadai.
Pergerakan saham BUMI yang fluktuatif menuntut investor untuk lebih disiplin dalam manajemen risiko. Stop loss dan pengaturan posisi menjadi kunci di tengah volatilitas tinggi.
Untuk perdagangan selanjutnya, pelaku pasar akan mencermati apakah saham BUMI mampu bangkit dan kembali ke level psikologis 300, atau justru melanjutkan tren koreksi dalam jangka pendek.
Editor : Kirana Meigita Luciana Rani