JAKARTA - Isu Syiah menurut ulama kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial. Sebuah kajian yang beredar di YouTube membahas secara khusus alasan mengapa sebagian kalangan menilai Syiah membenci sahabat Nabi Muhammad SAW, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab, hingga istri Rasulullah, Sayyidah Aisyah.
Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa sebelum membahas lebih jauh, penting memahami bahwa Syiah bukanlah satu kelompok tunggal. Ada banyak cabang dalam Syiah dengan ajaran yang berbeda-beda. Namun, pembahasan difokuskan pada Syiah Itsna Asyariyah atau Syiah Dua Belas Imam, yang disebut sebagai kelompok mayoritas penganut Syiah di dunia, terutama di Iran dan Irak.
Tiga Kelompok Besar Syiah
Secara umum, terdapat tiga kelompok Syiah yang dikenal luas. Pertama adalah Syiah Zaidiyah yang banyak ditemukan di Yaman. Kelompok ini disebut memiliki ajaran yang relatif lebih dekat dengan Ahlusunah wal Jamaah dan tidak dikenal membenci sahabat Nabi maupun istri Rasulullah.
Kedua adalah Syiah Ismailiyah yang ajarannya dinilai cukup jauh berbeda dari mayoritas umat Islam. Namun, kedua kelompok ini disebut sebagai minoritas dibandingkan Syiah Itsna Asyariyah.
Kelompok ketiga inilah yang menjadi sorotan utama dalam pembahasan Syiah menurut ulama, yakni Syiah Dua Belas Imam. Mereka meyakini bahwa kepemimpinan umat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW adalah hak Ali bin Abi Thalib dan keturunannya.
Konsep Imamah dan Polemik Kepemimpinan
Dalam ajaran Syiah Dua Belas Imam, terdapat keyakinan tentang dua belas imam yang dianggap sebagai penerus sah kepemimpinan umat Islam. Imam pertama adalah Ali bin Abi Thalib, disusul Hasan, Husain, hingga imam ke-12 yang diyakini sebagai Muhammad Al-Mahdi.
Menurut keyakinan ini, imam ke-12 disebut masih ghaib dan akan muncul pada akhir zaman. Keyakinan tentang Imam Mahdi ini menjadi salah satu pembeda utama antara Syiah dan Ahlusunah wal Jamaah.
Perbedaan mendasar inilah yang kemudian melahirkan polemik sejarah, khususnya terkait proses pengangkatan Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai khalifah pertama setelah wafatnya Rasulullah.
Dalam versi yang disampaikan dalam kajian tersebut, disebutkan bahwa Syiah meyakini kepemimpinan Abu Bakar dan Umar sebagai bentuk perampasan hak Ali bin Abi Thalib.
Namun, dalam perspektif Ahlusunah, pengangkatan Abu Bakar terjadi melalui musyawarah para sahabat di Saqifah Bani Sa’idah dan dilakukan secara sah.
Tuduhan terhadap Sayyidah Aisyah
Selain persoalan kepemimpinan, kajian tersebut juga menyoroti tuduhan terhadap Sayyidah Aisyah. Salah satu peristiwa yang diangkat adalah Haditsul Ifk, yakni fitnah yang menuduh Aisyah melakukan perbuatan tidak terpuji.
Dalam sejarah Islam versi Ahlusunah, tuduhan tersebut telah dibantah melalui turunnya ayat-ayat Al-Qur’an dalam Surah An-Nur ayat 11–20 yang menyatakan kesucian Aisyah. Namun, disebutkan bahwa sebagian kalangan Syiah tetap mempersoalkan peristiwa tersebut.
Tuduhan lain yang juga disinggung adalah narasi tentang dugaan keterlibatan dalam peristiwa wafatnya Rasulullah. Namun, dalam kajian tersebut ditegaskan bahwa tuduhan tersebut tidak memiliki dasar yang kuat dalam literatur sejarah arus utama.
Pesan Bijak dalam Perbedaan
Meski membahas isu sensitif, kajian itu juga menekankan pentingnya menjaga adab dalam menyikapi perbedaan.
Dalam konteks Syiah menurut ulama, disampaikan bahwa perbedaan pandangan teologis tidak boleh menjadi alasan untuk saling mencaci atau mudah mengkafirkan pihak lain.
Pengkafiran disebut sebagai perkara berat yang memiliki konsekuensi serius dalam ajaran Islam.
Oleh karena itu, persoalan akidah dan penetapan hukum terhadap suatu kelompok sebaiknya diserahkan kepada ulama yang memiliki otoritas dan kapasitas keilmuan.
Perdebatan antara Syiah dan Ahlusunah memang telah berlangsung berabad-abad dalam sejarah Islam.
Namun, di tengah perbedaan tersebut, menjaga persatuan dan mengedepankan diskusi ilmiah dinilai jauh lebih penting daripada memperuncing konflik.
Isu Syiah menurut ulama menjadi pengingat bahwa literasi sejarah dan pemahaman mendalam sangat dibutuhkan sebelum menarik kesimpulan.
Masyarakat pun diimbau untuk bijak dalam menerima informasi, terutama dari media sosial, agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang belum tentu utuh dan berimbang.
Editor : Davina Ar Raafika