Radar Tulungagung – Joao Fonseca Roland Garros menjadi perbincangan hangat setelah petenis muda Brasil itu berhasil menyingkirkan Novak Djokovic dalam pertandingan lima set yang spektakuler. Penampilan impresif tersebut membuat sejumlah pengamat mulai memasukkan nama Fonseca sebagai salah satu kandidat juara turnamen.
Kemenangan atas Djokovic dianggap sebagai bukti bahwa Fonseca sudah mampu bersaing di level tertinggi tenis dunia. Bahkan, beberapa analis menilai petenis muda tersebut memiliki peluang besar melangkah jauh hingga perebutan gelar.
Meski demikian, jalan Fonseca menuju trofi Roland Garros masih panjang karena sejumlah unggulan lain masih bertahan di turnamen.
Kemenangan atas Djokovic Jadi Bukti Kematangan Fonseca
Para analis menilai keberhasilan Fonseca mengalahkan Djokovic bukan sekadar hasil kejutan biasa.
Baca Juga: Ramalan Paranormal soal Kudeta dan Gempa Jogja Viral, Prediksi Politik Indonesia 2026 Jadi Sorotan
Dalam pertandingan tersebut, petenis Brasil mampu bangkit setelah tertinggal dua set dan menunjukkan ketenangan luar biasa pada momen-momen penting.
Salah satu aspek yang paling mendapat sorotan adalah kemampuannya menjaga level permainan hingga set kelima. Saat Djokovic mulai berusaha mengambil alih momentum, Fonseca tetap tampil agresif dan berani mengambil risiko.
Bahkan pada gim-gim terakhir pertandingan, ia mampu mencatatkan tiga ace beruntun ketika berada dalam tekanan besar.
Penampilan tersebut dianggap sebagai tanda bahwa Fonseca sudah siap bersaing di panggung Grand Slam.
Faktor Fisik Jadi Pembeda saat Hadapi Djokovic
Pengamat tenis menilai kondisi fisik menjadi salah satu faktor penting yang menentukan hasil pertandingan.
Baca Juga: Atlet PTMSI Tulungagung Raih Hasil Positif Dalam Putaran Perdana Jatim Pingpong Super League 2026
Meski Djokovic masih mampu menunjukkan kualitas luar biasa di usia 39 tahun, pertandingan panjang lima set membuat stamina menjadi faktor yang sangat berpengaruh.
Pada set-set akhir, Fonseca terlihat mampu bergerak lebih leluasa dan mempertahankan intensitas permainan.
Sementara itu, Djokovic sendiri mengakui bahwa dirinya mulai kehabisan tenaga ketika pertandingan memasuki fase penentuan.
Perbedaan energi tersebut terlihat jelas saat reli-reli panjang berlangsung. Fonseca tetap mampu menghasilkan pukulan keras dari baseline, sedangkan Djokovic mulai kesulitan mempertahankan ritme terbaiknya.
Meski kalah, banyak pihak tetap memberikan apresiasi terhadap performa Djokovic yang masih mampu bersaing di level Grand Slam setelah sempat mengalami cedera panjang.
Alexander Zverev Disebut Jadi Ancaman Terbesar
Setelah tersingkirnya Djokovic, peta persaingan Roland Garros mulai berubah.
Beberapa analis menilai Fonseca kini masuk dalam kelompok favorit juara. Namun, nama yang dianggap memiliki peluang terbesar saat ini adalah Alexander Zverev.
Petenis Jerman tersebut dinilai memiliki jalur yang relatif lebih ringan dibanding beberapa rival lainnya dan pengalaman yang lebih matang di level Grand Slam.
"Kalau harus memilih favorit saat ini, saya akan mengatakan Zverev," ujar salah satu analis tenis dalam pembahasan pascapertandingan.
Meski begitu, kemenangan atas Djokovic membuat Fonseca tidak bisa lagi dipandang sebagai kuda hitam semata.
Petenis muda Brasil itu telah menunjukkan bahwa dirinya mampu mengalahkan pemain terbaik dunia dalam pertandingan besar. Jika mampu menjaga konsistensi performa, peluang Fonseca untuk menciptakan kejutan berikutnya masih sangat terbuka.
Dengan tersingkirnya Novak Djokovic di babak ketiga, Roland Garros kini memasuki babak baru. Sorotan mulai mengarah kepada Joao Fonseca yang tampil gemilang, sementara Alexander Zverev disebut sebagai pesaing utama dalam perebutan gelar Grand Slam tanah liat tahun ini.
Editor : Maylanni Diana Fitri