Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Update Kasus DBD di Tulungagung: Februari 2024, Tren Kasus Meningkat Sejumlah Ini

Matlaul Ngainul Aziz • Rabu, 28 Februari 2024 | 00:08 WIB
Nyamuk menggit kulit manusia
Nyamuk menggit kulit manusia

TULUNGAGUNG - Tren kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Tulungagung terus menunjukkan peningkatan. Kendati tidak lebih tinggi dari periode 5 tahunan, jumlah kasus DBD di tahun ini mencapai 113 kasus. Empat kasus menyebabkan pasien meninggal dunia.

Kepala Dinas Kesehatan Tulungagung, dr Kasil Rokhmad mengatakan, periodisasi lima tahunan penyakit DBD tidak separah dari dugaan sebelumnya.

Menurutnya angka positif DBD tahun ini masih terpaut jauh dengan periode 5 tahun lalu. Diketahui prediksi puncak dari penyakit DBD ini akan meningkat di bulan Maret seiring dengan musim hujan.

“Ya prediksinya maret puncaknya, seiring dengan musimnya itu,” jelasnya kemarin (27/2/2024).

Mendapati hal tersebut, pihaknya melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) serta pemberian fertilisasi kepada warga. Pasalnya, nyamuk aedes aegypti justru lebih senang berada di air bersih yang dibiarkan tergenang.

“Iya fertilisasi itu kita berikan ke seluruh warga agar ditaruh di kamar mandinya yang punya bak. Kalau dari timba itu tidak usah,” tutup pria yang akan beradu kursi AG satu.

Sementara itu, Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Tulungagung, Desi Lusiana Wardani membenarkan sebaran DBD jika dibandingkan tahun 2023 lalu mengalami sejumlah peningkatan. Diketahui pada bulan Januari tahun 2023 lalu hanya ada 15 kasus DBD.

Kini setidaknya ada 56 kasus DBD di bulan Januari dan 57 kasus di bulan Februari tahun 2024. Mendapati hak tersebut, pihaknya meyakini siklus lima tahunan kasus DBD akan terjadi ditahun ini.

“Mulai terlihat dan akan terus berlangsung sampai musim penghujan selesai. Jadi tidak bisa diperkirakan pasti kapan selesainya, jadi harus tetap waspada,” jelasnya.

Berdasarkan data, setidaknya ada 4 kasus pasien DBD di Tulungagung meninggal dunia. Yang mana keempatnya merupakan pasien anak dengan usia paling tinggi 17 tahun. Diketahui keempat pasien tersebut telah mendapatkan penanganan medis di rumah sakit.

“Semuanya anak, yang paling tua itu 17 tahun. Semua meninggalnya di rumah sakit,” ucapnya.

Baca Juga: Mudah Marah dan Temperamen? Simak Tips Sehat Mental Kelola Emosi dengan Metode Journaling

Mendapati hal ini, pihaknya terus menggencarkan sosialisasi terkait siklus DBD baik bagaimana gejala dari proses penyakit DBD ini. Menurutnya masa kritis dari penyakit DBD ada pada hari ke 5, 6 dan 7.

Bahkan salah satu pasien ada yang memaksa untuk pulang dari perawatan medis karena menggap sudah sembuh.

“Karena ketika hari-hari itu merasa sudah tidak panas, akan dianggap sudah sembuh. Jadi masyarakat itu agak terlena,” paparnya.

Selain sosialisasi, pihaknya juga telah mendistribusikan larvasida di seluruh puskesmas di Tulungagung. Apabila ada masyarakat yang menginginkan larvasida dapat mengambil di puskesmas terdekat secara gratis. Menurutnya sebelum melakukan larvasida, masyarakat dianjurkan untuk melakukan PSN terlebih dahulu.

“Boleh gratis, bisa diambil di seluruh puskesmas,” pungkasnya.***

Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra
#dr kasil rokhmad #tulungagung #tren #dbd