Oleh: Wawan Susetya, Budayawan
DALAM dunia pendidikan terutama mengenai sistem pendidikan di negara kita telah banyak mengalami perubahan. Tentu, dalam hal ini berkaitan dengan tiga faktor yang melingkupi sistem pendidikan, yakni kurikulum, guru dan siswa.
Ketika Anda ditanya, dari tiga faktor di atas (kurikulum, guru dan siswa), faktor apakah yang paling mempengaruhi sistem pendidikan?
Boleh jadi semua jawaban dari tiga faktor tersebut memang ada benarnya, tetapi jawaban yang paling tepat yaitu menyangkut kurikulum. Ya, kurikulum lah yang paling mempengaruhi keberhasilan memajukan atau mengembangkan dunia pendidikan. Kurikulum merupakan sesuatu hal yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Tanpa adanya kurikulum yang tepat, para guru akan mengalami kebingungan dan tak punya arah ketika mengajar dan para siswa (peserta didik) pun tidak akan memperoleh target pembelajaran yang sesuai.
Baca Juga: Refleksi Hari Sumpah Pemuda
Wajar kiranya, pemerintah-dalam hal ini Mendikbud (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan)-selalu berusaha mencari formula kurikulum pendidikan yang paling presisi, tepat dan cocok untuk diterapkan di sekolah-sekolah. Meski demikian, seiring dengan perkembangan zaman, kurikulum juga mengalami perubahan demi perbaikan kualitas pendidikan yang disesuaikan dengan zaman atau era-nya masing-masing. Secara umum, barangkali kita mengenal beberapa kurikulum pendidikan yang pernah diterapkan di sekolah-sekolah, yakni;
Pertama, KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) tahun 2004.
Kedua, KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) tahun 2006.
Ketiga, K-13 (Kurikulum 2013) tahun 2013.
Keempat, Kurikulum Merdeka Belajar tahun 2022.
Pada kurikulum yang terakhir yaitu Kurikulum Merdeka Belajar tahun 2022 memiliki fokus pada materi yang esensial dan pada pengembangan karakter Profil Pelajar Pancasila yang memiliki nilai-nilai. Prinsipnya dalam Kurikulum Merdeka dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam, guru memiliki keleluasaan untuk memilih berbagai perangkat ajar sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar dengan minat peserta didik. Dan, bagi para peserta didik juga memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetenesi.
Baca Juga: Refleksi HUT TNI Ke-78 Dan Renungan Hari Guru Sedunia
Meski demikian, penerapan Kurikulum Merdeka tersebut melalui beberapa tahapan implementasi, yaitu tahap Mandiri Belajar, Mandiri Berubah dan Mandiri Berbagi. Sementara, penerapan kurikulum secara nasional baru akan dilaksanakan pada tahun 2024 yang sebelumnya telah melalui literasi perbaikan sekolah selama 3 tahun di sekolah/madrasah.
Nampaknya Kurikulum Merdeka tahun 2022 tersebut terinspirasi oleh konsep Sistem Among yang dicetuskan oleh Ki Hadjar Dewantara, yakni: “Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tutwuri handayani. Selain sebagai Mendikbud pertama di era pemerintahan Bung Karno, Ki Hadjar Dewantara yang nama aslinya Raden Mas Soewardi Soerjaningrat adalah aktivias pergerakan kemerdekaan Indonesia sekaligus pendiri Perguruan Taman Siswa yang pusatnya di Yogyakarta. Sebagaimana nama perguruan pendidikan yang didirikan, Taman Siswa, maka Ki Hadjar memiliki konsep bahwa para siswa ketika belajar di sekolah seperti berada di taman yang menyenangkan. Dengan demikian para siswa tidak memiliki beban berat ketika belajar, baik di sekolah maupun di rumah. Dan, perasaan yang menyenangkan dan menggembirakan tersebut identik dengan kata “merdeka” yang kemudian dinamakan Kurikulum Merdeka Belajar. Dan, makna merdeka adalah bebas, yang dalam Pendidikan Taman Siswa disebutkan “bebas yang bertanggung jawab.”
Hanya saja, sayangnya slogan atau semboyan dari Sistem Among Ki Hadjar Dewantara yang yang dipakai di sekolah-sekolah hanya sepertiga saja yaitu Tutwuri Handayani saja. Lalu, di mana Ing ngarsa sung tuladha dan Ing madya mangun karsa?
Baca Juga: Refleksi Hari Batik Nasional
Diakui atau tidak, konsep Sistem Among Ki Hadjar Dewantara sudah mendunia atau go internasional, bahkan telah diterapkan atau diadopsi di negara Finlandia hingga sistem pendidikan di negara itu (Finlandia) menjadi terbaik di dunia. Padahal pada era tahun 1980-an, pendidikan di Finlandia lebih buruk daripada sistem pendidikan di Indonesia. Namun, karena Finlandia melakukan reformasi pendidikan secara pesat dengan mengadopsi Sistem Among Ki Hadjar Dewantara, maka mengalami perkembangan yang sangat pesat hingga menjadi terbaik di dunia. Dan, salah satu keberhasilan dalam dunia pendidikan di Finlandia tersebut ditandai dengan memiliki kemampuan literasi yang baik para siswanya. Dan, faktor utama yang mendasarinya adalah mengenai kejujuran.
Dalam peringatan Hari Guru Nasional (HGN) yang bertepatan dengan pembentukan organisasi PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) tanggal 25 November 2045, tema yang diangkat dalam peringatan tersebut tahun 2023 yaitu “Bergerak Bersama Rayakan Merdeka Belajar.”
Selamat Hari Guru tanggal 25 November 2023, semoga predikat “guru tanpa tanda jasa” dan “pembangun insan cendekia” tetap melekat di dadamu!.(*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah