Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Pancasila Dasarnya Apa? Refleksi Hari Kelahiran Pancasila

Soenarwoto • Rabu, 3 Juni 2026 | 08:35 WIB
Refleksi Hari Lahir Pancasila 2026, Soenarwoto mengulas makna hikmat dan hikmah serta pentingnya memahami nilai Pancasila.(PINTEREST)
Refleksi Hari Lahir Pancasila 2026, Soenarwoto mengulas makna hikmat dan hikmah serta pentingnya memahami nilai Pancasila.(PINTEREST)

TULUNGAGUNG - 1 Juni 2026. Hari yang seperti biasa saya bangun tidur, langsung minum kopi. Minum kopi seusai bangun tidur sungguh memiliki "daya" yang luar biasa untuk tubuh. Bukan hanya sekadar menyegarkan, tapi langsung menghidupkan segala potensi jiwa raga; memunculkan semangat hidup. Menyala abangku!

Dalam sejarahnya, konon dari warung kopi-lah munculnya "gerakan revolusi", menentang penjajah Belanda dengan hasil; 17 Agustus 1945 Indonesia Merdeka. Agar tidak lupa dengan sejarah itu, maka generasi bangsa ini sekarang sering-seringlah "ngopi". Apalagi, bagi mereka yang belum merdeka hidupnya (nganggur atau jomlo), terjepit ekonominya, dan yang merasa tertindas oleh "penjajah model baru" jaman ini; penguasa dan Oligarki.

Tadi pagi sembari minum kopi saya "gegojekan" dengan isteri. "Hari ini, 1 Juni adalah Hari Lahirnya Pancasila. Sampean apa masih hafal dengan kelima sila dari Pancasila itu," tanya saya kepada isteri. Mendengar itu isteri saya dengan percaya diri langsung menjawab, "yo, hafal."

Agar minum kopi lebih terasa hangat, saya pun meminta isteri untuk mengeja lima sila dari Pancasila. Tanpa panjang waktu isteri segera membaca lima butir Pancasila itu. Mulai sila pertama hingga sila kelima dibaca dengan benar. Tanpa sedikit pun ada kesalahan kata.

"Keren tenan bojoku. Berarti sampean layak jadi rakyat Indonesia. Jika nggak hafal dan tidak benar, berarti sampean itu rakyat asing. Atau rakyat Indonesia yang jadi anthek-anthek asing," canda saya.

Biar tambah hangat pagi itu, saya pun bertanya lagi kepada isteri. "Sila keempat itu kerakyatan yang dipimpinan oleh "hikmah" atau "hikmat". Yang benar yang mana, pakai kata "hikmat" atau kata "hikmah". Ayo jawab cepet, nggak harus mikir," tanya saya kali ini serius.

Isteri tidak langsung menjawab. Ia terdiam sesaat dan terlihat berpikir. Tapi sebelum menjawab ia dengan pelan bertanya kepada dirinya sendiri, "Hikmah atau hikmat ya. Hikmat atau hikmah." Setelah beberapa kali mengulangnya, ia lalu menjawab, "yang benar Hikmat."

Mendengar jawaban isteri benar, saya pun menberi apllaus. "Sampean memang layak jadi anggota DPR (Dewan Perwakilan Rakyat)," canda saya lagi.

Isteri saya tidak berkenan. "Nggak, saya nggak suka. Anak-cucu saya nggak boleh jadi anggota DPR, apalagi masuk politik," jawabnya dengan nada sedikit meninggi.

 

Saya pun mafhum dengan pernyataan isteri tersebut. Agar suasana minum kopi tetap terasa hangat di pagi itu, saya kembali bertanya. "Apa arti hikmat dan hikmah?"

Kali ini isteri balik bertanya. "Itu yang bisa menjelaskan sampean. Coba jelaskan. Kalau wartawan nggak bisa menjelaskan, ya itu berarti bukan wartawan Indonesia," katanya.

Mendengar itu saya tersenyum. Lalu saya pun menjelaskan arti kata "hikmat" dan kata "hikmah". Sebenarnya, baik "hikmat" dan maupun "hikmah" itu sama-sama kata serapan dari Arab. Tapi, artinya sedikit berbeda.

"Hikmah" adalah, kemampuan menggunakan akal dan budi pekerti untuk mengambil keputusan yang tepat. "Hikmah" adalah, manfaat atau pelajaran yang bisa dipetik dari sebuah kejadian, cobaan, dan ketentuan. "Hikmat" pengertian lebih pada kesadaran sebelum ketetapan atau keputusan diambil. "Hikmah" adalah kesadaran setelah diberlakukan ketetapan atau keputusan dihasilkan.

"Sialnya, DPR kita konon sering bikin undang-undang atau ketetapan tanpa dengan hikmat. Tak menggunakan akal dan budi pekerti. Tapi kalau ketetapan DPR tak membuahkan hasil, rakyat selalu yang disuruh mengambil hikmahnya. Lucu memang DPR," gumam saya.

Bersamaan itu saya jadi teringat Harry Roesli (alm), musisi asal Bandung, cucu pujangga besar penulis roman "Sitti Noerbaja". Melihat realitas itu Harry Roeli "berparodi" dengan memlesetkan lagu "Garuda Pancasila". Begini liriknya; "Pancasila dasarnya apa.., rakyat adil makmurnya kapan.., pribadi bangsaku tidak maju maju...tidak maju maju."

Begitulah selarik penggalan "lagu parodi" Harry Roesli yang dulu pernah "viral" di zaman Orde Baru. Anggota DPR memang "lucu-lucu". "Mereka itu seperti anak-anak TK," kata mendiang Gus Dur yang masih segar dalam ingatan saya ketika minum kopi tadi pagi. (**)

Penulis adalah wartawan senior tinggal di Tulungagung 

Editor : Anggi Septian A.P.
#Hari Lahir Pancasila 2026 #Pancasila Dasarnya Apa #Soenarwoto #Makna Hikmat dan Hikmah #Refleksi Pancasila