Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Di Balik Pidato Optimis, Pasar Berbicara Lain

Tim Redaksi • Kamis, 4 Juni 2026 | 13:54 WIB
(Rokhmat Subagiyo, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam serta Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung)
(Rokhmat Subagiyo, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam serta Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung)

Seorang pedagang kain di Pasar Wage Tulungagung, yang sudah empat puluh tahun bergelut di bisnis batik dan biasa dipanggil Pak Hendra, menceritakan hal yang mencemaskan beberapa pekan lalu. Dulu dengan Rp100 juta, dia bisa mendatangkan 50 meter kain berkualitas bagus tiap bulan. Sekarang hanya dapat setengahnya.

Bagi Pak Hendra, angka kurs rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar bukan soal statistik. Itu soal untung yang menipis, stok yang berkurang, dan pelanggan yang mengeluh.

"Pemerintah kan bilang ekonomi lagi bagus," katanya. "Tapi pelanggan saya, para pengrajin batik dari Sumenep dan Madura, juga pada kesulitan. Mereka tanyakan kapan harga bahannya turun. Bagaimana saya jawab?"

Kegelisahan Pak Hendra bukan keluhan sendirian. Rupiah mendekati level Rp18.000 per dolar, nilai terlemah sepanjang sejarah (Bank Indonesia, 2026). Bersamaan dengan itu, Indeks Harga Saham Gabungan anjlok menembus ke bawah level 6.000, bahkan sempat menyentuh 5.939, terendah sejak April 2025 (IDXChannel, 2026).

Ibrahim Assuaibi, pengamat pasar uang, menyebut tekanan ini dipicu kombinasi menguatnya dolar global dan meningkatnya ketidakpastian terhadap arah kebijakan ekonomi domestik (Antaranews, 2026). Sementara itu, Josua Pardede, Chief Economist PermataBank, menilai melemahnya surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 ke level terendah enam tahun terakhir turut memperparah sentimen pasar (Kontan, 2026).

Lantas, apa yang kita dengar dari Jakarta? Pidato optimis. Lawatan presiden ke forum-forum internasional. Penampilan menteri ekonomi di podium G20 yang berapi-api menceritakan visi Indonesia sebagai pemimpin ekonomi Asia Tenggara.

Program Makan Bergizi Gratis yang mendapat alokasi anggaran Rp335 triliun dalam APBN 2026 (Tempo, 2025) terus diangkat sebagai bukti keseriusan pemerintah. Tapi ada yang terasa ganjil. Seperti ada siklus yang berulang. Berawal dari lawatan, disambung pidato optimis, lalu pasar kembali memberi sinyal ketidakpercayaan. Seolah pasar dan pemerintah berbicara dalam bahasa yang berbeda.

Dan memang begitu adanya. Pasar tidak membaca siaran pers. Pasar membaca kualitas belanja negara, konsistensi kebijakan, dan fondasi produktivitas yang nyata. Target defisit APBN tahun ini 2,5 persen dari PDB, sementara proyeksi pertumbuhan direvisi ke bawah menjadi 5,1 persen dan beban bunga utang terus membesar (Kementerian Keuangan RI, 2025).

Bank Indonesia bahkan harus menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin secara mengejutkan demi meredam tekanan inflasi dan menjaga nilai tukar (Kontan, 2026). Kebijakan defensif semacam itu bukan sinyal kepercayaan diri. Itu sinyal kewaspadaan.

Dampaknya terasa nyata di lapangan. Industri batik di Tulungagung, Sumenep, dan Madura menghadapi tekanan berlipat karena bahan baku impor kian mahal, sementara UMK Tulungagung 2025 yang ditetapkan sebesar Rp2.470.800 per bulan (Gubernur Jawa Timur, 2024) belum diikuti kenaikan produktivitas yang sebanding. Sejumlah pembeli dari pasar ekspor mulai mempertimbangkan ulang keputusan mereka, bukan semata karena harga, melainkan karena ketidakpastian kondisi ekonomi Indonesia yang membuat mereka ragu membuat komitmen jangka panjang. Kepercayaan yang hilang jauh lebih mahal dari kurs yang melemah.

Tekanan eksternal memang nyata. Penguatan dolar AS dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga energi turut memberatkan rupiah (Antaranews, 2026). Tapi faktor eksternal hanya memperbesar luka yang sudah ada.

Pemerintah tampak lebih nyaman dengan hal-hal yang cepat terlihat dan mudah dikomunikasikan ke publik, sementara kerja-kerja struktural seperti perbaikan iklim investasi, efisiensi birokrasi, dan penguatan daya saing industri berjalan lebih lambat dari yang diharapkan pasar.

Ada pula persoalan koordinasi yang perlu diakui. Tim ekonomi pemerintah terlihat tidak selalu berbicara dengan satu suara. Pernyataan optimis soal pertumbuhan dari satu kementerian bertemu dengan langkah defensif dari otoritas moneter. Ketidakkonsistenan seperti itu membingungkan pasar. Kepastian adalah modal utama dalam bisnis, dan investor menghindari ketidakpastian melebihi apa pun.

Saya tidak anti program sosial. Anak-anak kurang gizi memang butuh makan yang bergizi. Tapi ketika anggaran sebesar Rp335 triliun untuk satu program konsumsi digelontorkan dalam satu tahun fiskal, sementara investasi untuk memperkuat fondasi produktivitas jangka panjang berjalan lebih lambat, ada pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur, apakah pilihan prioritas itu benar-benar memperkuat ekonomi dalam sepuluh tahun ke depan, atau hanya membeli kepuasan hari ini.

Ini bukan kritik terhadap niat baik program, melainkan pertanyaan tentang keseimbangan antara belanja sosial jangka pendek dan investasi struktural yang menentukan daya saing bangsa.

Yang dibutuhkan bukan optimisme yang lebih keras. Yang dibutuhkan adalah kejujuran tentang pilihan-pilihan sulit, prioritaskan mana, korbankan apa, dan ukur hasilnya dengan angka yang bisa dipertanggungjawabkan. Tunjukkan kepada pasar bahwa disiplin fiskal bukan sekadar kalimat dalam pidato.

Tunjukkan kepada pengusaha bahwa aturan main tidak berubah bergantung kepentingan sesaat. Itulah bahasa yang pasar dengarkan, dan itulah yang perlahan akan memulihkan kepercayaan investor.

Untuk Pak Hendra dan ribuan pelaku usaha kecil lain di Tulungagung dan seluruh Jawa Timur, semua ini bukan soal teori ekonomi. Itu soal apakah harga bahan baku bulan depan akan lebih terjangkau, dan apakah kerja keras mereka masih bisa menghidupi keluarga dengan layak. Mereka tidak butuh pidato optimis. Mereka butuh ekonomi yang benar-benar bergerak ke arah yang benar.

Semoga di meja kepemimpinan ekonomi ada yang membaca dan bersedia mengambil pelajaran. Karena pasar tidak berbohong, meski kita sering tidak suka dengan apa yang dikatakannya.
Wallahu a'lam bis shawab.***

Referensi

Antaranews. (2026, 3 Juni). IHSG turun 4 persen, analis saham sebut terbebani pelemahan rupiah. Antara News. https://kalsel.antaranews.com/berita/521084/ihsg-turun-4-persen-analis-saham-sebut-terbebani-pelemahan-rupiah
Bank Indonesia. (2026, Juni). Kurs transaksi Bank Indonesia. https://www.bi.go.id/id/statistik/informasi-kurs/transaksi-bi/Default.aspx

Gubernur Jawa Timur. (2024). Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 100.3.3.1/775/KPTS/013/2024 tentang Upah Minimum Kabupaten/Kota di Jawa Timur Tahun 2025. Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

IDXChannel. (2026, 3 Juni). IHSG turun lebih dari 3 persen ke bawah 6.000, rupiah tembus Rp17.900 per USD. IDX Channel. https://www.idxchannel.com/amp/market-news/ihsg-turun-lebih-dari-3-persen-ke-bawah-6000-rupiah-tembus-rp17900-per-usd
Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2025). Nota keuangan dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun anggaran 2025. Kementerian Keuangan RI. https://www.kemenkeu.go.id/

Kontan. (2026, 2 Juni). BURSA ASIA-IHSG anjlok ke level terendah 5 tahun, rupiah ambruk ke Rp17.930. Kontan. https://internasional.kontan.co.id/news/bursa-asia-ihsg-anjlok-ke-level-terendah-5-tahun-rupiah-ambruk-ke-rp-17930

Tempo. (2025, 15 Agustus). Prabowo naikkan anggaran makan bergizi gratis jadi Rp335 triliun tahun depan. Tempo. https://www.tempo.co/politik/prabowo-naikkan-anggaran-makan-bergizi-gratis-jadi-rp-335-triliun-tahun-depan-2059245

Editor : Vidya Sajar Fitri
#dolar #ekonomi #pasar #rupiah