KASUS korupsi Haji 2024, dengan tersangka utama mantan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas, kini tambah melebar. Menyeret banyak nama dan banyak pihak.
Di antaranya ada Menteri Agraria Nusron Wahid, 24 anggota Panja Haji DPR RI, serta anggota TNI, Polri dan BIN. Ada gus-gus dan kiai pula. Malah belakangan ditengarai menyeret mantan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi).
Mendengar ini saya jadi teringat cerita sufi haji. Alkisah, Ali Zainal Abidin, cicit Rasulullah SAW ketika masih muda mendatangi pelataran Ka'bah.
Ia kaget ketika melihat jemaah haji berjubel dan berdesak-desakan melakukan tawaf. Ali Zaenal Abidin menangkap ada sesuatu yang ganjil.
Ia lalu bertanya kepada Syech Abdullah Umar, putra Sayidina Umar bin Khatab. "Ya Syech Abdullah, siapa mereka dan dari mana rombongan jemaah haji itu berasal," tanya cicit Rasul.
Mendapati pertanyaan ini Abdullah tak cepat menjawab. Tapi, Syech Abdullah tahu akan arah pertanyaan Ali Zaenal Abidin. "Rombongan jemaah itu datang dari negeri seberang, baginda," jawab Syech Abdullah.
"Mereka melakukan ibadah tawaf, kok kelakuannya seperti itu," tanya Ali Zaenal Abidin dengan nada heran.
Mendengar itu akhirnya Syech Abdullah menyingkap tabirnya. "Jika baginda ingin tahu siapa mereka sebenarnya, mohon menunduk dan tutuplah mata baginda," pinta Syech Abdullah.
Ali Zaenal Abidin pun memenuhi permohonan Syech Abdullah Umar. Ketika menunduk dan menutup kedua matanya, Abdullah dengan cepat mengusap wajah Ali Zaenal Abidin dengan "ilmu khasaf".
Ilmu yang bisa melihat perihal "ghaib". Setelah diusap dengan ilmu khasaf, Syech Abdullah mempersilakan Ali Zaenal Abidin membuka matanya.
Ketika membuka matanya, Ali Zaenal Abidin tersentak kaget. Sebab, jemaah haji wujudnya semua berubah menjadi wajah binatang. Ada wajah anjing, singa, harimau, srigala, buaya, ular, tikus, dan monyet.
"Mengapa wajah para jemaah haji itu berubah wujudnya dengan wajah-wajah binatang. Berubah wajah binatang buas dan wajah binatang rakus," tanya Ali Zaenal Abidin.
Syech Abdullah pun segera menjelaskan. Bahwa mereka itu berangkat haji bukan karena "lillah" (Allah), tapi karena niat "liyane" (lain).
Niatnya demi gengsi punya predikat haji, biar dianggap shaleh atau orang suci, agar dibilang orang kaya, biar dihormati dan niat-niat lainnya yang bukan niat karena Allah. Lillah.
Biaya ongkos haji mereka pun dari berbagai macam cara. Tak mengindahkan halal dan haram.
Ongkos haji mereka diperoleh dari hasil korupsi, mencuri, dan menodong lain. Atau berniaga mengurangi takaran timbangan, berdagang dengan tipu daya merugikan pembeli.
Karena itu, ketika di Tanah Suci oleh Allah SWT mereka ditampakkan wajahnya berupa wajah binatang. Seperti tabiatnya yang buas, mau menangnya sendiri, dan rakus.
Selain itu demi mendapat "pahala besar" atau "masuk surga", mereka suka berebut keutamaan dalam menjalankan ibadah, dengan saling mendahului, menerjang, menginjak, dan menyikut lain. Menyerobot visa dan menempati maktab jemaah lain.
Mereka pun suka marah-marah. Tidak bisa sabar.
"Itu semua karena niat haji mereka tidak lillahi ta'ala. Menjalankan ibadah suci tidak dengan kesadaran atau tidak lurus kepada Allah. Menjalankan ibadah dengan nafsu. Mereka tidak mengerti bahwa haji itu hakikatnya menyembelih sifat-sifat kebinatangan atau mematikan keakuan diri. Fana'un billah," jelas Syech Abdullah.
Kisah ini seakan menjadi wajah "kebinatangan" haji kita sekarang. Kiranya itu pentingnya kita kini mengoreksi diri. Betulkah "niat" kita menjalankan ibadah haji, itu "tulus" hanya karena Allah?
Bisakah kita mengerjakan rangkaian ibadah haji dengan penuh "kesadaran", itu lurus hanya kepada Allah?
Mampukah kita berhikmah haji, itu menyembelih sifat-sifat kebinatangan diri?
Jika tidak mampu tunggulah dulu, sampai kita benar-benar mampu lahir dan batin. Ini agar tidak semakin banyak dan panjang antrean haji yang setiap tahun selalu bikin cerita buruk wajah haji kita. Astaghfirullah. (*)
Penulis adalah wartawan senior tinggal di Tulungagung.
Editor : Anggi Septian A.P.