Pasaran Jawa Bukan Sekadar Weton, Ini Jejak Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 17:05 WIB
Pasaran Jawa terdiri dari Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Begini sejarahnya dari kalender Jawa kuno hingga era digital.(pinterest)
Pasaran Jawa terdiri dari Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Begini sejarahnya dari kalender Jawa kuno hingga era digital.(pinterest)

JAKARTA - Pasaran Jawa yang terdiri dari Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon ternyata memiliki sejarah panjang. Kelima nama tersebut bukan sekadar penanda hari dalam tradisi masyarakat Jawa, tetapi bagian dari sistem penanggalan yang berkembang sejak masa Jawa kuno hingga era digital.

Pasaran dikenal sebagai bagian dari pancawara, yakni siklus lima hari. Dalam sejarahnya, siklus tersebut berkaitan dengan aktivitas pasar tradisional yang beroperasi berdasarkan rotasi lima harian. Karena itu, masyarakat pada masa lalu tidak hanya mengenali Senin atau Selasa, tetapi juga menyebut hari berdasarkan pasarannya.

Seorang pedagang, misalnya, dapat mengetahui kapan sebuah pasar ramai dengan melihat siklus pasaran. Pasar menjadi tempat bertemunya penjual dan pembeli sekaligus ruang pertukaran kabar, hubungan sosial, serta berbagai kebutuhan masyarakat.

Dari fungsi tersebut, pasaran Jawa pada awalnya dapat dipahami sebagai salah satu cara masyarakat mengatur aktivitas kehidupan. Maknanya kemudian berkembang seiring perjalanan sejarah dan perubahan kebudayaan.

Berasal dari Kalender Jawa Kuno

Salah satu bagian penting dalam sejarah pasaran adalah keberadaannya sebelum kalender Jawa Islam pada masa Sultan Agung. Prasasti Cunggrang yang bertarikh Saka 851 disebut mencatat unsur penanggalan yang memadukan beberapa siklus hari, termasuk pancawara.

Baca Juga: 3 Sio Paling Berjaya Agustus 2026, Naga Diprediksi Paling Bersinar

Dalam sumber Jawa kuno, bentuk nama pasaran juga tidak selalu sama dengan yang dikenal sekarang. Terdapat bentuk seperti umanis, pahing, pon, wagai, dan kaliwang. Seiring perubahan bahasa dan perkembangan kebudayaan, bentuk tersebut kemudian dikenal sebagai Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.

Pada masa Jawa kuno, sistem penanggalan juga mengenal berbagai siklus lain. Selain pancawara lima hari dan saptawara tujuh hari, terdapat pula sadwara enam hari serta wuku yang membentuk siklus 210 hari.

Perpaduan berbagai siklus tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Jawa telah memiliki cara kompleks dalam memahami waktu. Penanggalan tidak hanya berkaitan dengan pergantian hari, tetapi juga berhubungan dengan kehidupan masyarakat dan berbagai aktivitas yang mengikuti perubahan waktu.

Sultan Agung Pertahankan Pasaran

Babak penting berikutnya terjadi pada 1633 ketika Sultan Agung melakukan pembaruan sistem penanggalan Mataram. Kalender yang kemudian dikenal sebagai kalender Sultan Agungan memadukan warisan penanggalan Saka dengan sistem lunar Islam.

Baca Juga: Ramalan Zodiak September 2026: 6 Zodiak Disebut Keluar dari Zona Penderitaan

Menariknya, pembaruan tersebut tidak menghilangkan pancawara. Siklus lima hari tetap berjalan bersama saptawara tujuh hari.

Pertemuan kedua siklus itu menghasilkan 35 kombinasi hari dan pasaran. Dalam tradisi Jawa, kombinasi tersebut dikenal sebagai weton. Misalnya, seseorang dapat memiliki weton Selasa Pahing. Setelah 35 hari, kombinasi Selasa dan Pahing kembali muncul.

Dari sini, pasaran kemudian tidak hanya menjadi penanda waktu. Hari dan pasaran kelahiran mulai digunakan dalam berbagai tradisi masyarakat. Nilai tertentu yang melekat pada hari dan pasaran dikenal sebagai neptu, yang kemudian digunakan dalam petungan atau pitungan Jawa.

Penggunaan petungan tidak seragam. Dalam tradisi yang berkembang di berbagai daerah, perhitungan weton dapat digunakan untuk mempertimbangkan waktu pernikahan, perjalanan, membangun rumah, hingga kegiatan tertentu lainnya.

Namun, pemaknaan tersebut berada dalam ranah budaya dan kepercayaan. Tidak ada dasar dalam transkrip yang menunjukkan bahwa pasaran secara ilmiah dapat menentukan nasib seseorang.

Tetap Hidup di Era Digital

Perjalanan pasaran Jawa tidak berhenti setelah masyarakat memasuki zaman modern. Kalender Masehi kini digunakan untuk berbagai kebutuhan administratif, pendidikan, pemerintahan, dan aktivitas sehari-hari. Meski begitu, kalender Jawa tetap digunakan dalam lingkungan keluarga, tradisi, pasar, dan kegiatan adat tertentu.

Nama pasar juga menjadi salah satu jejak fungsi lama pasaran. Di berbagai daerah masih ditemukan nama seperti Pasar Legi, Pasar Kliwon, Pasar Pon, Pasar Wage, dan Pasar Pahing.

Teknologi bahkan membuat perhitungan pasaran semakin mudah. Jika dahulu masyarakat perlu memahami perhitungan kalender secara manual, kini tanggal dan weton dapat diketahui melalui kalender digital atau aplikasi.

Kondisi tersebut menunjukkan perubahan fungsi pasaran. Kelima nama itu tidak lagi hanya berkaitan dengan aktivitas pasar. Pasaran telah menjadi bagian dari identitas budaya, pengetahuan tradisional, sejarah keluarga, hingga objek kajian matematika dan kebudayaan.

Siklus lima hari dan tujuh hari dapat dipahami melalui pola matematika yang kembali bertemu setiap 35 hari. Sementara itu, kalender Jawa memiliki siklus yang lebih panjang, termasuk pawukon, windu, dan kurup.

Pada akhirnya, kekuatan pasaran Jawa bukan semata-mata terletak pada kemampuan menghitung waktu. Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon bertahan karena terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di tengah kalender digital dan teknologi modern, lima nama tersebut tetap menjadi pengingat bahwa masyarakat Jawa memiliki sejarah panjang dalam memahami waktu. Pasaran berubah bentuk mengikuti zaman, tetapi warisan budaya yang menyertainya masih terus hidup.

- Pasaran Jawa yang terdiri dari Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon ternyata memiliki sejarah panjang. Kelima nama tersebut bukan sekadar penanda hari dalam tradisi masyarakat Jawa, tetapi bagian dari sistem penanggalan yang berkembang sejak masa Jawa kuno hingga era digital.

Pasaran dikenal sebagai bagian dari pancawara, yakni siklus lima hari. Dalam sejarahnya, siklus tersebut berkaitan dengan aktivitas pasar tradisional yang beroperasi berdasarkan rotasi lima harian. Karena itu, masyarakat pada masa lalu tidak hanya mengenali Senin atau Selasa, tetapi juga menyebut hari berdasarkan pasarannya.

Seorang pedagang, misalnya, dapat mengetahui kapan sebuah pasar ramai dengan melihat siklus pasaran. Pasar menjadi tempat bertemunya penjual dan pembeli sekaligus ruang pertukaran kabar, hubungan sosial, serta berbagai kebutuhan masyarakat.

Dari fungsi tersebut, pasaran Jawa pada awalnya dapat dipahami sebagai salah satu cara masyarakat mengatur aktivitas kehidupan. Maknanya kemudian berkembang seiring perjalanan sejarah dan perubahan kebudayaan.

Berasal dari Kalender Jawa Kuno

Salah satu bagian penting dalam sejarah pasaran adalah keberadaannya sebelum kalender Jawa Islam pada masa Sultan Agung. Prasasti Cunggrang yang bertarikh Saka 851 disebut mencatat unsur penanggalan yang memadukan beberapa siklus hari, termasuk pancawara.

Dalam sumber Jawa kuno, bentuk nama pasaran juga tidak selalu sama dengan yang dikenal sekarang. Terdapat bentuk seperti umanis, pahing, pon, wagai, dan kaliwang. Seiring perubahan bahasa dan perkembangan kebudayaan, bentuk tersebut kemudian dikenal sebagai Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.

Pada masa Jawa kuno, sistem penanggalan juga mengenal berbagai siklus lain. Selain pancawara lima hari dan saptawara tujuh hari, terdapat pula sadwara enam hari serta wuku yang membentuk siklus 210 hari.

Perpaduan berbagai siklus tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Jawa telah memiliki cara kompleks dalam memahami waktu. Penanggalan tidak hanya berkaitan dengan pergantian hari, tetapi juga berhubungan dengan kehidupan masyarakat dan berbagai aktivitas yang mengikuti perubahan waktu.

Sultan Agung Pertahankan Pasaran

Babak penting berikutnya terjadi pada 1633 ketika Sultan Agung melakukan pembaruan sistem penanggalan Mataram. Kalender yang kemudian dikenal sebagai kalender Sultan Agungan memadukan warisan penanggalan Saka dengan sistem lunar Islam.

Menariknya, pembaruan tersebut tidak menghilangkan pancawara. Siklus lima hari tetap berjalan bersama saptawara tujuh hari.

Pertemuan kedua siklus itu menghasilkan 35 kombinasi hari dan pasaran. Dalam tradisi Jawa, kombinasi tersebut dikenal sebagai weton. Misalnya, seseorang dapat memiliki weton Selasa Pahing. Setelah 35 hari, kombinasi Selasa dan Pahing kembali muncul.

Dari sini, pasaran kemudian tidak hanya menjadi penanda waktu. Hari dan pasaran kelahiran mulai digunakan dalam berbagai tradisi masyarakat. Nilai tertentu yang melekat pada hari dan pasaran dikenal sebagai neptu, yang kemudian digunakan dalam petungan atau pitungan Jawa.

Penggunaan petungan tidak seragam. Dalam tradisi yang berkembang di berbagai daerah, perhitungan weton dapat digunakan untuk mempertimbangkan waktu pernikahan, perjalanan, membangun rumah, hingga kegiatan tertentu lainnya.

Namun, pemaknaan tersebut berada dalam ranah budaya dan kepercayaan. Tidak ada dasar dalam transkrip yang menunjukkan bahwa pasaran secara ilmiah dapat menentukan nasib seseorang.

Tetap Hidup di Era Digital

Perjalanan pasaran Jawa tidak berhenti setelah masyarakat memasuki zaman modern. Kalender Masehi kini digunakan untuk berbagai kebutuhan administratif, pendidikan, pemerintahan, dan aktivitas sehari-hari. Meski begitu, kalender Jawa tetap digunakan dalam lingkungan keluarga, tradisi, pasar, dan kegiatan adat tertentu.

Nama pasar juga menjadi salah satu jejak fungsi lama pasaran. Di berbagai daerah masih ditemukan nama seperti Pasar Legi, Pasar Kliwon, Pasar Pon, Pasar Wage, dan Pasar Pahing.

Teknologi bahkan membuat perhitungan pasaran semakin mudah. Jika dahulu masyarakat perlu memahami perhitungan kalender secara manual, kini tanggal dan weton dapat diketahui melalui kalender digital atau aplikasi.

Kondisi tersebut menunjukkan perubahan fungsi pasaran. Kelima nama itu tidak lagi hanya berkaitan dengan aktivitas pasar. Pasaran telah menjadi bagian dari identitas budaya, pengetahuan tradisional, sejarah keluarga, hingga objek kajian matematika dan kebudayaan.

Siklus lima hari dan tujuh hari dapat dipahami melalui pola matematika yang kembali bertemu setiap 35 hari. Sementara itu, kalender Jawa memiliki siklus yang lebih panjang, termasuk pawukon, windu, dan kurup.

Pada akhirnya, kekuatan pasaran Jawa bukan semata-mata terletak pada kemampuan menghitung waktu. Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon bertahan karena terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di tengah kalender digital dan teknologi modern, lima nama tersebut tetap menjadi pengingat bahwa masyarakat Jawa memiliki sejarah panjang dalam memahami waktu. Pasaran berubah bentuk mengikuti zaman, tetapi warisan budaya yang menyertainya masih terus hidup.

Editor : Maylanni Diana Fitri
pasaran Jawa Legi Pahing Pon Wage Kliwon Sultan Agung Weton Jawa kalender jawa