RADAR TULUNGAGUNG – Pemerintah kembali menyalurkan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) tahap keempat pada November 2025.
Bantuan ini disalurkan bersamaan dengan bantuan beras 20 kilogram dan minyak goreng 4 liter bagi 18,3 juta keluarga penerima manfaat (KPM) di seluruh Indonesia.
Penyaluran dilakukan secara bertahap di 416 kabupaten dan kota, dengan progres nasional mencapai 70 hingga 80 persen.
Program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah menjaga daya beli masyarakat menjelang akhir tahun, sekaligus melanjutkan bantuan sosial tunai BLT Sembako Rp900 ribu yang telah cair sebelumnya.
Total nilai bantuan yang diterima setiap keluarga mencapai Rp1,5 juta, hasil akumulasi dari BPNT dan BLT tambahan tersebut.
Penyaluran Bertahap di 416 Kabupaten
Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Perum Bulog, program bantuan pangan periode Oktober–November 2025 mencakup distribusi beras total 365 ribu ton dan minyak goreng 73 ribu kiloliter atau setara 76 juta liter kemasan.
Penyaluran dilakukan melalui jaringan Bulog di seluruh Indonesia, termasuk di daerah tertinggal, terdepan, dan perbatasan (3T).
Hingga 7 November 2025, sejumlah daerah telah menuntaskan penyaluran 100 persen, seperti Kabupaten Kediri (Jawa Timur) dan Kota Batam (Kepulauan Riau).
Kediri menyalurkan bantuan untuk 26.508 KPM, dengan total 530 ton beras dan 106 ribu liter minyak goreng.
Sementara Batam menyalurkan 662 ton beras dan 132 ribu liter minyak goreng untuk lebih dari 33 ribu KPM.
Daerah lain seperti Bengkayang (Kalimantan Barat) mencatat progres sekitar 80 persen, sedangkan Probolinggo (Jawa Timur) masih dalam tahap persiapan penyaluran pada pekan kedua November.
Adapun wilayah seperti Tanah Datar (Sumatera Barat) dan Sukabumi (Jawa Barat) telah memasuki tahap akhir distribusi sejak akhir Oktober.
Syarat dan Aturan Pengambilan
Dalam proses penyaluran, masyarakat diminta memperhatikan aturan yang berlaku.
Setiap penerima manfaat wajib membawa tas sendiri saat mengambil bantuan dan memastikan pengambilan tidak melebihi lima hari setelah jadwal undangan.
Jika melewati batas waktu tersebut, bantuan bisa dialihkan ke penerima lain yang juga membutuhkan.
Bantuan ini menyasar keluarga miskin desil 1 sampai 5, sesuai Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dari Kementerian Sosial.
Undangan distribusi dicetak oleh pemerintah desa atau kelurahan dan disampaikan langsung kepada masing-masing penerima.
Daftar Wilayah Pencairan Melalui BNI dan BRI
Pencairan BPNT tahap ini dilakukan melalui dua bank penyalur utama, yakni BNI dan BRI.
Penyaluran via BNI telah berjalan di sejumlah daerah seperti Kabupaten Bandung, Cirebon, Probolinggo, Malang, Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Blitar, dan Sidoarjo.
Sementara itu, Bank BRI menyalurkan BPNT di wilayah lain seperti Cianjur, Tasikmalaya, Lombok Timur, Tangerang, Nganjuk, Lampung Tengah, dan Sumedang.
Beberapa daerah di luar Jawa juga sudah mulai menyalurkan bantuan, di antaranya Palembang, Gorontalo, Batam, dan Jambi.
Secara nasional, penyaluran BPNT dan bantuan beras-minyak goreng ditargetkan rampung akhir November 2025.
Evaluasi program akan dilakukan pada Desember untuk memastikan ketepatan sasaran dan efektivitas distribusi.
Tambahan Bantuan untuk Menjaga Daya Beli
Selain BPNT, pemerintah menyalurkan BLT Sembako Rp900 ribu sebagai bentuk “penebalan” bantuan.
Program ini diharapkan mampu membantu masyarakat berpendapatan rendah menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok menjelang akhir tahun.
Kementerian Sosial menegaskan bahwa tidak semua penerima BPNT otomatis mendapat BLT Sembako.
Hanya KPM kategori miskin desil 1–4 yang tercatat dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSN) yang berhak menerima bantuan tambahan tersebut.
Dengan adanya kombinasi bantuan beras, minyak goreng, dan BLT tunai, diharapkan kebutuhan pokok masyarakat dapat terpenuhi hingga akhir tahun.
Pemerintah juga mengingatkan agar masyarakat waspada terhadap penipuan yang mengatasnamakan bantuan sosial dan hanya memercayai informasi resmi dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
Program bantuan ini menjadi bagian penting dari strategi nasional menjaga ketahanan pangan, menekan angka kemiskinan ekstrem, serta memperkuat daya tahan ekonomi masyarakat menjelang pergantian tahun.
Editor : Anggi Septian A.P.