RADAR TULUNGAGUNG – Julukan Menteri Koboi Purbaya Yudhi Sadewa belakangan ramai diperbincangkan publik.
Sebutan itu muncul karena gaya blak-blakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang kerap berbicara apa adanya, berani mengambil keputusan besar, serta tak ragu mengungkapkan berbagai penyimpangan di sektor keuangan negara.
Dalam sebuah wawancara, Purbaya membeberkan bagaimana dirinya ditunjuk menjadi Menkeu hingga alasan di balik gaya komunikasinya yang dianggap “koboi”.
Awal Penunjukan: Dipanggil Tiga Hari Berturut-turut
Purbaya memulai ceritanya dengan masa sebelum dilantik menjadi Menteri Keuangan.
Ia mengungkapkan bahwa Presiden memanggilnya selama tiga hari berturut-turut di Hambalang: Jumat, Sabtu, dan Minggu.
Setiap pertemuan berlangsung sekitar dua hingga tiga jam, penuh dengan diskusi serius mengenai situasi ekonomi Indonesia.
“Jumat datang ngomong dua sampai tiga jam. Sabtu datang, bicara lagi dua sampai tiga jam. Minggu juga sama,” ujarnya mengkisahkan.
Menurutnya, meskipun ada “kode” pada hari Minggu tentang kemungkinan pelantikan, Presiden tetap menegaskan bahwa apa pun bisa terjadi.
Karena itu, ia tidak mau berharap berlebihan.
Bahkan, ia dengan santai menyebut dirinya “spesialis calon”, sebab sering kali ia hanya menjadi kandidat tanpa benar-benar terpilih.
Namun, Senin pagi, sebuah pesan masuk.
Ia diminta datang untuk mengikuti pelantikan dengan pakaian formal yang sudah ditentukan.
Saat itu, barulah Purbaya memahami bahwa tanggung jawab besar tersebut resmi diberikan kepadanya.
Asal-usul Julukan “Menteri Koboi”
Sejak menjabat, Purbaya kerap membuat publik terkejut dengan gaya bicara yang lugas dan tanpa basa-basi.
Ia menegaskan bahwa gaya tersebut bukan dibuat-buat.
“Dari dulu juga saya begitu. Kalau ngomong ya lepas saja, enggak saya tahan-tahan,” tuturnya.
Ia menyadari bahwa sikap tegas dan cepat mengambil keputusan membuatnya dicap sebagai “koboi”.
Namun, ia menilai keberanian diperlukan demi menjaga optimisme ekonomi, terutama pada situasi penuh ketidakpastian.
Selalu Minta Restu Presiden Sebelum Bertindak
Meski dikenal berani dan spontan, Purbaya menegaskan bahwa hampir semua langkah strategis yang ia ambil telah dilaporkan terlebih dahulu kepada Presiden.
Ia mencontohkan keputusan besar seperti memindahkan dana hingga Rp200 triliun untuk mempercepat penyerapan anggaran.
“Saya lapor dulu. ‘Pak, saya akan pindahin uangnya 200 triliun.’ Presiden bilang jalan saja,” ujarnya.
Baginya, bekerja sebagai Menteri Keuangan bukan sekadar soal keberanian pribadi, tetapi memastikan setiap kebijakan sejalan dengan arah Presiden.
Pentingnya Sikap Berani untuk Menumbuhkan Kepercayaan
Dalam wawancara, Purbaya menjelaskan bahwa keberanian yang ia tunjukkan bukan semata gaya pribadi, melainkan strategi untuk menciptakan optimisme.
Saat situasi ekonomi sedang lesu, publik membutuhkan figur yang tampil tegas dan tidak ragu mengambil keputusan.
“Kalau kita enggak cukup bold, enggak cukup berani, gimana bisa optimis?” katanya.
Bahkan pada hari pertama menjabat, ia mengaku tidak mempermasalahkan berbagai reaksi keras yang muncul.
Baginya, hal itu justru menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa struktur anggaran bisa dibenahi dengan cepat.
Berhadapan dengan DPR: Momen Penentu
Salah satu momen yang paling menyedot perhatian publik adalah ketika Purbaya harus menghadapi rapat dengan DPR.
Banyak yang memperkirakan ia akan “dihabisi” oleh para anggota dewan karena sikap kerasnya.
Namun, momen itu justru berubah menjadi titik balik.
“Orang melihat Menteri Keuangan ini akan dihancurkan oleh DPR. Ternyata saya pintar sedikit, kita bisa balik dari situ,” katanya sambil tertawa.
Purbaya merasa bahwa keterbukaan dan argumen yang kuat menjadi kunci untuk mendapatkan kepercayaan DPR.
Ia juga menyebut bahwa jika ia tidak mampu menjawab pertanyaan DPR pada hari itu, ia siap saja dipecat.
“Enggak apa-apa dipecat, memang enggak berguna,” ujarnya berseloroh.
Tetap Menjadi Diri Sendiri
Meski kini mendapat sorotan publik lebih besar, Purbaya menegaskan bahwa ia hanya menjalankan tugas sesuai gaya asli dirinya: jujur, langsung pada inti masalah, dan berani mengeksekusi kebijakan.
Ia mengaku tidak pernah berusaha tampil berbeda demi citra tertentu.
Julukan Menteri Koboi Purbaya justru ia terima sebagai penyemangat agar institusi keuangan negara terus diperbaiki dengan cepat dan tegas.
Baginya, yang terpenting adalah menjaga optimisme dan memastikan anggaran negara berjalan sesuai kebutuhan rakyat.***
Editor : Vidya Sajar Fitri