Radar Tulungagung - Pergerakan saham BUMI terbang dalam dua pekan terakhir kembali menyedot perhatian pasar modal. Setelah lama tertekan, saham PT Bumi Resources Tbk kini mencatat lonjakan signifikan dan dinilai memasuki fase kebangkitan. Kenaikan ini bukan tanpa alasan. Transaksi jumbo, pergerakan broker tertentu, serta konfirmasi data kepemilikan menjadi pemicu utama reli harga saham BUMI.
Lonjakan harga saham BUMI terjadi seiring melonjaknya nilai transaksi harian yang menembus Rp3 triliun. Dalam kondisi tersebut, investor asing justru tercatat net sell secara agregat. Artinya, penguatan harga tidak semata didorong oleh asing, melainkan oleh pergerakan pihak-pihak tertentu yang melakukan akumulasi besar melalui mekanisme pasar.
Data transaksi menunjukkan broker dengan kode AK dan MG menjadi aktor dominan. Broker AK tercatat melakukan pembelian jumbo hingga puluhan juta lot dan belum menunjukkan aksi distribusi. Sementara MG berperan aktif dalam meningkatkan volume perdagangan dan menjaga likuiditas. Kolaborasi keduanya menjadi faktor penting mengapa saham BUMI terbang secara agresif dalam waktu singkat.
Transaksi Jumbo dan Pola Akumulasi
Berdasarkan pembacaan broker summary, pola yang terbentuk mengindikasikan proses akumulasi, bukan distribusi. Harga saham sempat ditekan ke area 260–270 sebelum kembali didorong naik. Pola ini lazim terjadi ketika pelaku bermodal besar mengumpulkan pasokan saham secara bertahap sebelum mengerek harga.
Kondisi tersebut diperkuat oleh fakta bahwa tekanan jual dari investor asing mulai berkurang. Sejumlah institusi asing yang sebelumnya agresif melepas saham, kini volumenya menyusut. Dengan suplai yang semakin menipis dan permintaan yang meningkat, ruang kenaikan harga saham BUMI dinilai masih terbuka.
Manfaat Akhir Terungkap, Sentimen Makin Positif
Sentimen positif juga datang dari keterbukaan data kepemilikan. Berdasarkan laporan yang dirujuk dari Bloomberg, BUMI kini secara resmi mengungkap penerima manfaat akhir sahamnya. Nama Irwan Dermawan Bakrie dan Antoni Salim tercantum sebagai beneficial owner.
Bagi pasar, keterbukaan ini menjadi sinyal penting perbaikan tata kelola. Selama ini, struktur kepemilikan yang tidak transparan menjadi salah satu alasan investor ragu masuk ke saham BUMI. Dengan identitas pemilik manfaat akhir yang jelas, kepercayaan pasar dinilai meningkat.
Masuknya Antoni Salim sejak private placement 2022 juga dinilai membawa perubahan signifikan. Perbaikan manajemen, efisiensi biaya, hingga restrukturisasi keuangan membuat kinerja BUMI berbalik dari rugi menjadi laba. Inilah yang kemudian menjadi dasar fundamental mengapa saham BUMI kembali diminati.
Teknikal Menguat, Masih Ada Ruang Naik
Dari sisi teknikal, saham BUMI telah berhasil rebound dari area jenuh jual. Indikator RSI menunjukkan penguatan yang sehat, sementara harga bertahan di atas rata-rata pergerakan penting. Selama saham mampu bertahan di atas area support 270–254, tren naik dinilai masih terjaga.
Level psikologis 300 menjadi area uji berikutnya. Jika berhasil ditembus dengan volume besar, saham berpotensi melanjutkan kenaikan ke area 330 hingga 350. Secara teknikal, saham BUMI juga masih memiliki gap yang belum tertutup, yang kerap menjadi target pergerakan harga selanjutnya.
Didukung Sektor dan Indeks
Penguatan BUMI juga sejalan dengan kondisi pasar secara umum. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai bangkit dari titik nadir, sementara sektor energi menunjukkan tren bullish. Dengan likuiditas tinggi dan nilai transaksi besar, saham BUMI dinilai aman bagi pelaku pasar yang membutuhkan fleksibilitas keluar-masuk dana.
BUMI juga tercatat masuk dalam indeks MSCI Small Cap. Keberadaan dalam indeks global membuka peluang masuknya dana institusi melalui produk ETF dan reksa dana yang menjadikan MSCI sebagai acuan.
Masih Layak Diperhatikan
Dengan kombinasi sentimen positif, perbaikan fundamental, transparansi kepemilikan, serta dukungan teknikal dan sektor, saham BUMI terbang dinilai bukan sekadar euforia sesaat. Meski volatilitas tetap tinggi, pasar melihat BUMI tengah memasuki fase transformasi yang berpotensi berlanjut sepanjang 2026.
Investor tetap diimbau mencermati manajemen risiko dan menyesuaikan strategi dengan profil masing-masing. Namun satu hal jelas, BUMI kembali hidup dan menjadi salah satu saham paling ramai dibicarakan di Bursa Efek Indonesia.
Editor : Auliya Nur'Aini Khafadzoh