JAKARTA - Sebanyak 13 SPBU Pertamina tidak lagi jual Pertalite setelah resmi berubah status menjadi SPBU Signature di wilayah Jakarta, Depok, dan Bogor per Mei 2026. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas layanan premium, namun memaksa pemilik kendaraan yang biasa menggunakan BBM subsidi untuk lebih teliti dalam memilih titik pengisian bahan bakar.
Meskipun 13 SPBU Pertamina tidak lagi jual Pertalite, pihak Pertamina Patra Niaga memastikan bahwa penyaluran BBM bersubsidi tetap berjalan normal di jaringan pengisian lainnya. Transformasi menjadi SPBU Signature ini bukan merupakan penghapusan subsidi secara nasional, melainkan segmentasi layanan di mana gerai tersebut hanya akan menyediakan produk non-subsidi seperti Pertamax dan Dex Series.
Fenomena 13 SPBU Pertamina tidak lagi jual Pertalite ini sempat memicu kekhawatiran masyarakat akan kelangkaan BBM subsidi. Namun, Pertamina menegaskan bahwa layanan premium ini dirancang untuk menghadirkan kenyamanan lebih bagi konsumen kelas atas, sementara masyarakat umum tetap dapat memperoleh Pertalite maupun Biosolar di ratusan SPBU reguler yang tersebar luas di Jabodetabek.
Mengenal Konsep SPBU Signature dan Daftar Wilayahnya
Transformasi status SPBU ini mencakup 13 titik strategis yang mencakup wilayah Jakarta, Bogor, dan Depok. Perubahan status menjadi SPBU Signature berarti fasilitas tersebut kini mengusung konsep layanan lebih premium dibandingkan SPBU reguler. Perbedaan utamanya terletak pada jenis produk yang dijajakan; SPBU Signature hanya menjual BBM non-subsidi dengan standar pelayanan yang diklaim lebih ramah dan cepat.
Pihak Pertamina menyatakan bahwa masyarakat tidak perlu cemas terhadap ketersediaan bensin murah. Di wilayah Jakarta saja, masih tersedia kurang lebih sekitar 700 SPBU reguler yang tetap konsisten menjual bahan bakar subsidi. "Masyarakat tidak perlu khawatir, tetap bisa mendapatkan BBM subsidi di jaringan SPBU Pertamina lainnya," ungkap perwakilan Pertamina Patra Niaga dalam pernyataan resminya.
Peralihan ini melibatkan SPBU yang dikelola langsung oleh Pertamina (kode 31) maupun yang dikelola oleh pihak swasta (kode 34). Dengan adanya pemetaan ini, konsumen diharapkan dapat mengenali identitas visual SPBU sebelum masuk ke jalur pengisian agar tidak kecele saat mencari Pertalite atau Biosolar.
Dampak dan Keluhan Pengguna Kendaraan Klasik
Perubahan status ini mulai dirasakan dampaknya oleh sejumlah kalangan, terutama para kolektor dan pengguna sepeda motor klasik. Faiz, seorang mahasiswa di Jakarta Barat sekaligus pengguna motor klasik, mengaku cukup kesulitan dengan hilangnya akses Pertalite di beberapa rute kesehariannya. Menurutnya, kendaraan tua miliknya dirancang khusus untuk mengonsumsi bahan bakar dengan nilai oktan (RON) rendah.
"Cukup kesulitan karena motor klasik saya dirancang untuk Pertalite atau RON rendah. Kalau dipaksa pakai bahan bakar oktan tinggi, kinerja mesin bisa cepat rusak dan performanya tidak maksimal," ujar Faiz saat ditemui di kawasan Grogol. Ia berharap pemerintah tetap menyediakan alternatif atau titik pengisian yang mudah dijangkau bagi kendaraan-kendaraan yang secara spesifikasi teknis memang memerlukan bahan bakar bersubsidi.
Kekhawatiran senada juga muncul jika skema SPBU Signature ini diterapkan secara masif di seluruh SPBU tanpa adanya opsi jalur khusus. Meski tujuan pemerintah untuk mengurangi beban anggaran subsidi dianggap baik, aspek teknis kendaraan yang beredar di Indonesia yang mayoritas masih membutuhkan RON 90 harus tetap menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan kebijakan.
Respon Pengemudi Ojek dan Harapan Masyarakat
Di sisi lain, para pekerja sektor transportasi seperti pengemudi ojek pangkalan melihat kebijakan ini dari sudut pandang efisiensi waktu. Syafrul, seorang pengemudi ojek di Jakarta, menyebutkan bahwa antrean di jalur subsidi seringkali sangat panjang. Kondisi ini terkadang memaksanya beralih ke Pertamax demi menghemat waktu meskipun harganya lebih mahal.
"Selama ini pengisian masih biasa saja, tapi antrean memang sering panjang. Kalau SPBU Signature ini tidak jual subsidi, ya mau tidak mau kita harus cari SPBU lain yang masih sedia, karena bensin sudah jadi kebutuhan pokok harian buat narik," kata Syafrul. Baginya, ketersediaan BBM subsidi di 700 titik lainnya adalah harga mati untuk menjaga kelangsungan pendapatannya sehari-hari.
Sebagai penutup, Pertamina mengimbau masyarakat untuk menggunakan aplikasi digital guna mengecek lokasi SPBU reguler terdekat yang masih melayani Pertalite. Penajaman segmentasi layanan melalui SPBU Signature diharapkan dapat memberikan pilihan bagi konsumen, namun pengawasan terhadap distribusi BBM subsidi di SPBU reguler harus tetap diperketat agar tepat sasaran dan tidak terjadi antrean yang mengular akibat perpindahan beban konsumen.
Baca Juga: DPRD Bersama Pemkab Tulungagung Sahkan Lima Ranperda, Fokus Penguatan Pembangunan Daerah
Editor : Vicky Permana Saputra