JAKARTA – Harga mobil listrik yang saat ini terlihat makin terjangkau ternyata diprediksi tidak akan bertahan lama. Sejumlah analis otomotif global memperingatkan bahwa harga mobil listrik pada 2026 justru berpotensi melonjak tajam, dipicu krisis rantai pasok, geopolitik, hingga berakhirnya era subsidi pemerintah.
Fenomena perang harga yang terjadi sepanjang 2024–2025 membuat banyak konsumen percaya bahwa harga kendaraan listrik akan terus menurun. Masuknya produsen asal Tiongkok seperti BYD serta langkah agresif Wuling dengan diskon besar-besaran membuat pasar EV semakin panas. Bahkan Tesla ikut memangkas harga demi menjaga daya saing global.
Namun, analis menilai kondisi ini hanyalah fase sementara. Perang harga yang terjadi saat ini lebih disebabkan oleh kelebihan pasokan dan strategi bakar uang pabrikan untuk menguasai pasar, bukan karena efisiensi biaya produksi yang berkelanjutan.
Perang Harga EV Disebut Tidak Alami
Laporan dari Goldman Sachs dan Bloomberg mengungkap bahwa turunnya harga mobil listrik saat ini merupakan anomali pasar. Produsen rela menjual dengan margin tipis, bahkan merugi, demi menghabisi pesaing dan mengamankan pangsa pasar.
Strategi ini dinilai memiliki batas waktu. Ketika stok berlebih mulai habis dan kompetitor tersingkir, harga mobil listrik diperkirakan akan kembali ke nilai wajarnya yang jauh lebih tinggi. Banyak analis menyebut tahun 2026 sebagai titik balik utama.
Geopolitik Global Jadi Pemicu Utama
Faktor geopolitik menjadi ancaman paling serius bagi harga mobil listrik. Amerika Serikat telah menetapkan tarif impor hingga 100 persen untuk mobil listrik asal Tiongkok. Uni Eropa juga memberlakukan tarif tambahan hingga 38 persen.
Kebijakan proteksionisme ini diprediksi akan menghentikan banjir EV murah ke pasar global. Dampaknya, produsen Tiongkok berpotensi menaikkan harga di pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, guna menutup kerugian di pasar Barat. Di sisi lain, produsen Jepang dan Eropa bisa kembali menaikkan harga karena tekanan kompetisi berkurang.
Ancaman Krisis Litium dan Baterai
Selain geopolitik, krisis bahan baku baterai menjadi faktor krusial. Setelah krisis chip semikonduktor, dunia kini menghadapi potensi krisis litium jilid dua. International Energy Agency memprediksi defisit pasokan litium mulai pertengahan 2025 hingga 2026.
Permintaan litium melonjak karena digunakan tidak hanya untuk mobil listrik, tetapi juga penyimpanan energi dan perangkat elektronik. Jika harga litium kembali melonjak seperti 2022, biaya produksi baterai—yang menyumbang sekitar 40 persen harga mobil listrik—akan ikut terdongkrak.
Indonesia memang unggul dalam cadangan nikel, namun baterai LFP yang banyak digunakan EV murah justru bergantung pada litium, bukan nikel.
Subsidi Pajak Tak Selamanya Ada
Di Indonesia, harga mobil listrik saat ini sangat terbantu oleh insentif PPN Ditanggung Pemerintah. Insentif ini membuat harga model seperti Hyundai Ioniq 5 terasa lebih terjangkau.
Namun, pengalaman negara lain menunjukkan subsidi tidak bersifat permanen. Di Jerman dan Inggris, pencabutan subsidi membuat penjualan EV anjlok drastis. Jika insentif PPN di Indonesia dicabut dan kembali ke tarif normal, harga mobil listrik bisa melonjak puluhan juta rupiah dalam waktu singkat.
Teknologi Baru Bukan Solusi Murah
Harapan akan baterai solid-state juga dinilai tidak realistis untuk menekan harga. Produsen seperti Toyota dan Nissan memang mengembangkan teknologi ini, namun biaya produksinya diperkirakan tiga hingga empat kali lebih mahal dari baterai saat ini.
Artinya, mobil listrik berteknologi canggih pada 2026 akan menyasar segmen premium, bukan pasar massal.
Harga Bekas dan Kredit Jadi Beban Tambahan
Masalah lain yang jarang dibahas adalah anjloknya harga jual kembali mobil listrik. Depresiasi tinggi membuat perusahaan leasing lebih berhati-hati, dengan menaikkan uang muka dan bunga kredit. Akibatnya, membeli EV pada 2026 bisa semakin berat, bukan hanya karena harga OTR, tetapi juga skema cicilan.
2024–2025 Disebut Waktu Paling Ideal
Dengan kondisi tersebut, banyak analis menilai 2024–2025 sebagai periode paling ideal membeli mobil listrik. Subsidi masih tersedia, perang harga masih berlangsung, dan pembiayaan relatif longgar. Menunda hingga 2026 dinilai sebagai langkah berisiko tinggi.
Harga murah hari ini, menurut analis, bisa menjadi sejarah yang justru dirindukan beberapa tahun ke depan.
Editor : Friesta Cahya Ramadhani