Tulungagung - Kiprah para botoh di setiap pesta demokrasi bukan isapan jempol belaka. Wartawan Jawa Pos Radar Tulungagung Matlaul Ngainul Aziz sempat mengorek keterangan dari seorang botoh berikut penerimanya.
Berikut laporannya.
Momen pilkada selalu ditunggu Bunglon. Sekilas tidak ada yang istimewa dari pria paro baya ini. Namun, setelah ditelisik lebih jauh, dia adalah seorang botoh pada setiap momen pilkada.
Bahkan, dia sudah empat kali pasang taruhan dan enggan ketinggalan kereta pada pesta demokrasi kali ini.
Diketahui, pria yang telah berusia lebih dari setengah abad ini merogoh kocek hingga Rp 1 miliar lebih untuk memasang taruhan guna kemenangan paslon yang dijagokannya.
Bahkan, dia memasang taruhan lebih dari satu paslon.
“Harus tahu petanya, siapa-siapa saja botoh yang ikut. Kalau sudah tahu itu ya gampang, tinggal pasang (taruhan, Red) saja,” jelasnya, kemarin (25/11).
Dengan modal mencapai Rp 1 miliar itu, dia bisa mendapat keuntungan hingga 100 persen dari transaksinya sebagai botoh dalam kontestasi pilkada. Tentu hal ini memiliki risiko kerugian yang cukup tinggi.
Berdasarkan pengakuannya, dia sempat menelan kerugian sekitar Rp 500 juta dalam modus perjudian ini.
Namun, kerugian ini dialami pada masa awal terjun ke dalam dunia botoh tersebut.
“Ya tidak mungkin semuanya menang, pasti pernah kalah (rugi, Red) juga. Dulu itu pernah kalah sekitar Rp 200 juta,” ungkapnya.
Disinggung metode yang digunakan, pria berkulit sawo matang ini enggan berterus terang.
“Itu rahasia,” ujarnya, lantas terkekeh.
Berbeda dengan Bunglon. Menthog (nama samaran) yang menjadi calon pemilih ternyata ikut merasakan duit para botoh. Bahkan itu dialaminya di setiap momen pesta demokrasi, entah pileg, pilgub, maupun pilbup.
Dia pun selalu ditawari sejumlah uang untuk memilih salah satu paslon oleh seseorang. Nominalnya pun beragam, mulai Rp 30 ribu hingga tertinggi Rp 150 ribu.
Terakhir pada pileg kemarin, dia mendapat upah sebesar Rp 150 ribu untuk memilih salah satu calon legislatif di wilayah dapilnya.
Seperti mendapat durian runtuh, tawaran itu pun tak ia tepis. Bahkan, tawaran ini tak hanya mendarat padanya, tapi ke seluruh anggota kartu keluarganya.
“Ya saya hanya disuruh memilih, jadi itu cara mendapatkan uang yang paling mudah,” jelasnya.
Dia pun mengenang pada kontestasi Pilkada 2019 lalu. Dia mengaku hanya mendapat sekitar Rp 30 ribu untuk memilih salah satu paslon dari dua paslon yang macung.
Berbeda dengan tahun ini, dia sempat ditawari Rp 50 ribu untuk memilih salah satu paslon pada kontestasi Pilkada 2024 di Tulungagung.
“Dulu pada 2019 itu saya dapat Rp 30 ribu untuk memilih salah satu paslon. Kalau tahun ini, baru saja ditawari Rp 50 ribu,” pungkasnya.(*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri