Radar Tulungagung - Di tengah arus budaya modern dan digitalisasi yang kian deras, kesenian tradisional Tayub tetap menemukan tempatnya di hati masyarakat Tulungagung.
Tidak semua wilayah mampu menjaga warisan budaya tayub ini, namun beberapa desa di Tulungagung terbukti konsisten mempertahankannya.
Tiga desa yang tetap menjaga kelestarian kesenian tayub ini di antaranya adalah Desa Gedangsewu Kecamatan Boyolangu, Desa Sumberagung Kecamatan Rejotangan, dan Desa Tanggunggunung Kecamatan Tanggunggunung.
Desa Gedangsewu menolak stigma negatif, dan tetap merawat tradisi.
Gedangsewu menjadi salah satu desa yang dikenal sebagai benteng Tayub di Kecamatan Boyolangu. Meski sempat mendapat cap negatif sebagai kesenian "nakal", masyarakat di desa ini tetap menjunjung Tayub sebagai seni luhur yang mengandung nilai-nilai kebersamaan, penghormatan, dan hiburan tradisional.
Sebuah penelitian dari Universitas Airlangga bahkan menyebut, warga Gedangsewu memiliki motivasi kuat untuk menonton dan melestarikan Tayub, baik sebagai hiburan maupun identitas budaya lokal.
Desa Sumberagung melestarikan tayub dengan menjunjung nilai-nilai Pancasila
Di Kecamatan Rejotangan, Desa Sumberagung menawarkan pendekatan berbeda. Kelompok seni disana menjadi ujung tombak pelestarian Tayub dengan pendekatan edukatif.
Mereka memasukkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap pertunjukan, menjadikan Tayub tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana penguatan karakter dan komunikasi sosial.
Tanggunggunung, tradisi arisan tayub yang terus terjaga
Di kawasan selatan Tulungagung, tepatnya Desa Tanggunggunung, tradisi Tayub dilestarikan melalui acara arisan Tayub atau yang dikenal dengan "ketumpangan buwuh".
Kegiatan ini diadakan setiap tiga tahun sekali, menghadirkan hingga puluhan waranggana dalam satu panggung, dan menjadi bagian penting dalam upacara bersih desa atau hajatan masyarakat.
Dalam pentas tersebut, para tamu tidak hanya menonton, tetapi juga terlibat langsung dalam tarian sebagai bentuk penghormatan terhadap tuan rumah dan budaya lokal.
Pelestarian Tayub di ketiga desa tersebut adalah bukti bahwa warisan budaya tidak harus tergerus zaman. Di tangan masyarakat yang peduli, tradisi bisa hidup berdampingan dengan modernitas, bahkan menjadi alat perekat sosial yang kuat.
Editor : Sandy Sri Yuwana