Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Unik, Tradisi Grebeg Suro di Tulungagung: Perayaan 1 Suro Penuh Makna, Spiritualitas, dan Warisan Budaya

Aini Nihayatul Khusna • Minggu, 15 Juni 2025 | 02:00 WIB
Menguak cerita dibalik Tradisi Grebeg Suro di Tulungagung.
Menguak cerita dibalik Tradisi Grebeg Suro di Tulungagung.

TULUNGAGUNG- Tradisi Grebeg Suro merupakan tradisi turun temurun masyarakat Tulungagung dalam menyambut datangnya tahun baru islam 1 Suro atau 1 Muharram.

Tradisi Grebeg Suro bukan hanya menjadi bagian dari identitas budaya lokal Tulungagung, tetapi juga menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah karena keunikan ritual dan nilai historis yang dimilikinya.

Tradisi Grebeg Suro di Tulungagung berakar dari kisah Prabu Menak Koncar, tokoh legendaris yang diyakini sebagai pelindung wilayah ini.

Masyarakat Tulungagung sejak dahulu percaya bahwa awal tahun baru Hijriah adalah waktu yang tepat untuk memanjatkan doa, bersyukur atas rezeki yang diterima, serta memohon keselamatan dan kesejahteraan di masa yang akan datang.

Tradisi ini kemudian berkembang menjadi sebuah perayaan yang mencakup berbagai kegiatan budaya dan keagamaan, yang dilaksanakan secara gotong royong oleh warga dari berbagai kalangan.

Grebeg Suro tidak hanya menyimpan makna religius, tetapi juga menjadi simbol kekuatan sosial masyarakat Tulungagung.

Melalui kegiatan seperti kirab tumpeng, sedekah bumi, dan doa bersama, masyarakat diajak untuk merefleksikan perjalanan hidup selama setahun ke belakang, sembari berharap kebaikan di tahun berikutnya.

Kirab tumpeng yang diarak menuju lokasi sakral seperti Candi Penampihan di Desa Geger, misalnya, mencerminkan rasa syukur atas hasil bumi dan kehidupan yang diberikan oleh Sang Pencipta.

Prosesi ini juga menjadi daya tarik wisata budaya yang memperkenalkan kekayaan tradisi Tulungagung kepada publik yang lebih luas.

Di kawasan pesisir seperti Pantai Gemah, Grebeg Suro diwarnai dengan pelaksanaan sedekah laut, yaitu melarung sesaji ke laut sebagai bentuk penghormatan kepada alam dan permohonan keselamatan bagi para nelayan.

Kegiatan ini diiringi oleh pertunjukan seni seperti reog, tari tradisional, jaranan, dan gamelan yang menambah semarak suasana.

Selain sebagai hiburan, pertunjukan tersebut juga merupakan upaya nyata untuk melestarikan seni budaya Jawa yang semakin terpinggirkan di era modern.

Tidak hanya aspek spiritual dan budaya, Grebeg Suro juga berdampak positif terhadap perekonomian lokal.

Acara ini membuka peluang besar bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk unggulan mereka melalui bazar dan pameran yang digelar di sekitar lokasi acara, seperti di Alun-alun Tulungagung.

Dengan demikian, tradisi ini ikut mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di daerah tersebut.

Grebeg Suro Tulungagung telah menjadi simbol harmoni antara manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual.

Tradisi ini tidak hanya menghidupkan kembali kisah leluhur seperti Prabu Menak Koncar, tetapi juga membuktikan bahwa warisan budaya bisa menjadi penggerak pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika tradisi ini selalu dinantikan setiap tahunnya, baik oleh warga lokal maupun wisatawan.

Menurut laporan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tulungagung, jumlah kunjungan wisatawan selama pelaksanaan Grebeg Suro meningkat signifikan setiap tahun, membuktikan bahwa daya tarik tradisi ini terus berkembang.

Sumber sejarah lokal dan wawancara dengan tokoh adat juga memperkuat bahwa Grebeg Suro bukan sekadar pertunjukan, melainkan representasi jati diri masyarakat Tulungagung.

Bagi siapa saja yang ingin menyaksikan langsung keindahan tradisi Jawa Timur yang sarat makna, Grebeg Suro Tulungagung adalah pilihan yang tepat.

Lebih dari sekadar perayaan, ini adalah pertemuan antara masa lalu dan masa kini, antara spiritualitas dan sosial budaya, yang terus lestari dari generasi ke generasi. (*)

 

 

 

 

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#tradisi grebeg suro #tulungagung