TULUNGAGUNG- Denting besi yang dipukul, asap arang yang mengepul, dan bara api yang menyala itulah suasana yang menyelimuti Pendapa Kongas Arum Kusumaning Bongso Kabupaten Tulungagung selama beberapa hari terakhir.
Bukan pertunjukan biasa di Tulungagung, tapi bagian dari sebuah kegiatan sakral, yaitu workshop pembuatan keris yang menjadi bagian dari rangkaian uji kompetensi profesi para pelaku seni tradisi perkerisan.
Di balik kegiatan ini, berdiri sebuah besalen di Tulungagung bernama Besalen Pulanggeni, sebuah padepokan keris yang telah aktif sejak 2009 dan kini terus menyalakan bara semangat pelestarian budaya. Pemiliknya, Eko Putranto, menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya seremonial atau hiburan semata.
“Fokusnya adalah manfaat. Output-nya jelas, tersertifikasinya para praktisi perkerisan di Tulungagung, mulai dari empu, panjak, pangrukti, penjamas hingga meranggi,” jelas Eko, Minggu (13/7/2025).
Sertifikasi ini dilakukan melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang dinaungi oleh BNSP Pusat. Sertifikat ini nantinya dapat digunakan sebagai pengakuan atas kemampuan teknis dan peningkatan daya saing para pelaku budaya tradisi.
“Dengan sertifikasi ini, negara secara resmi mengakui profesi mereka. Ini akan mendorong mereka untuk terus berkarya dan mengembangkan nilai-nilai luhur budaya bangsa,” tambah Eko.
Kegiatan uji kompetensi dimulai dengan sesi teori yang digelar di gedung BKK, dan dilanjutkan dengan praktik langsung di lokasi workshop. Salah satu daya tarik utama adalah demo penempaan keris secara tradisional.
Selama empat hari, para peserta dan pengunjung dapat menyaksikan langsung proses kompleks pembentukan sebilah keris, dari tahap awal hingga mencapai bentuk gebingan atau sekitar 30 persen dari proses jadi.
Eko memaparkan bahwa proses pembuatan keris tidak sembarangan. Ada empat klasifikasi yang membedakan keris sesuai kualitasnya. Yaitu keris souvenir, fine art, ageman, dan tayuhan.
Keris tayuhan adalah keris spiritual yang mengedepankan tuah, dan dibuat dari bahan pilihan seperti batu meteorit dan bijih besi dari pesisir selatan. Sementara keris lainnya lebih fleksibel dalam penggunaan bahan, seperti baja dan nikel.
“Kita masih menggunakan teknik tradisional, meski sudah dibantu blower mekanis. Tapi penempaan, pemanasan, dan lipatan tetap manual,” kata Eko.
Temperatur untuk menempa mencapai lebih dari 1500 derajat Celsius, dan setiap lapisan logam dilipat dan dibakar berulang kali hingga mencapai ratusan lapisan.
Besalen Pulanggeni sendiri kini tengah direnovasi dan berlokasi di lereng Gunung Budeg, Desa Kendit, Tanggung. Meski demikian, karya-karya tetap dikerjakan di berbagai titik, termasuk di Ringinpitu.
“Harapan saya, masyarakat awam bisa lebih memahami bahwa keris bukan benda mistis semata, tapi hasil karya rumit yang dikerjakan dengan teknik tinggi dan ketekunan,” ujar Eko.
Tidak hanya workshop tempa, rangkaian acara ini juga menghadirkan lokakarya penjamasan keris, yang memperkenalkan cara merawat keris secara ilmiah dan tradisional.
Salah satu narasumber seperti Lintang Mulia Alkafa dari Besalen Pulanggeni, Empu Intan dari ISI Surakarta, turut membagikan pengetahuan mereka. Antusiasme peserta, khususnya generasi muda, cukup tinggi. Banyak di antara mereka tertarik mendalami dunia perkerisan, yang selama ini dianggap jauh dari kehidupan modern.
Dengan hadirnya uji kompetensi ini, Eko Putranto berharap nilai-nilai budaya tidak sekadar dilestarikan, tapi juga dikembangkan. “Warisan leluhur seperti keris harus hidup, bukan hanya disimpan. Kita harus menciptakan karya-karya baru yang tetap setia pada pakem, tapi relevan dengan zaman,” ujarnya.
"Pelestarian budaya bukan hanya soal mengenang masa lalu, tapi memastikan warisan itu tetap relevan, terus bernapas, dan menjadi kebanggaan bangsa. Lewat Pesalahan Pulanggeni, semangat itu terus ditempa dalam bara, dalam besi, dalam jiwa" pungkasnya. (*/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah