Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Gajah Mada dan Sumpah Palapa: Ambisi Menyatukan Nusantara yang Mengantar Majapahit ke Puncak Kejayaan hingga Tragedi Perang Bubat

Muhamad Ahsanul Wildan • Rabu, 14 Januari 2026 | 22:00 WIB
Gajah Mada dan Sumpah Palapa mengungkap ambisi, kejayaan Majapahit, hingga tragedi Perang Bubat yang mengakhiri karier sang mahapatih legendaris.
Gajah Mada dan Sumpah Palapa mengungkap ambisi, kejayaan Majapahit, hingga tragedi Perang Bubat yang mengakhiri karier sang mahapatih legendaris.

RADAR TULUNGAGUNG – Nama Gajah Mada dan Sumpah Palapa tak pernah lepas dari kisah kejayaan Kerajaan Majapahit. Sosok mahapatih legendaris ini dikenal sebagai arsitek utama penyatuan Nusantara pada abad ke-14.

Namun di balik keberhasilannya memperluas kekuasaan Majapahit, tersimpan kisah ambisi, konflik politik, hingga tragedi yang mengakhiri kariernya di puncak kekuasaan.

Gajah Mada dan Sumpah Palapa menjadi simbol tekad politik terbesar dalam sejarah Nusantara.

Sumpah itu diikrarkan saat Gajah Mada dilantik sebagai Mahapatih Majapahit pada masa pemerintahan Ratu Tribhuwana Tunggadewi.

Ia bersumpah tidak akan menikmati palapa yang dimaknai sebagai kenikmatan hidup sebelum wilayah-wilayah Nusantara seperti Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, hingga Seram tunduk di bawah Majapahit.

Asal-usul Gajah Mada yang Penuh Misteri

Sejarah mencatat, asal-usul Gajah Mada masih menjadi perdebatan hingga kini. Tidak ada sumber sejarah primer yang secara jelas menyebutkan kelahirannya.

Beberapa versi berkembang dalam sumber sekunder, mulai dari kisah kelahiran mistis sebagai titisan dewa, anak seorang panglima Majapahit, hingga dugaan sebagai keturunan Raja Kertanegara dari Singasari.

Meski asal-usulnya simpang siur, nama “Gajah Mada” memiliki makna simbolis. Dalam tradisi Hindu-Jawa, gajah melambangkan kecerdasan, kekuatan, dan keteguhan.

Sementara “mada” berarti mabuk atau nekat. Gabungan makna itu mencerminkan karakter Gajah Mada yang cerdas, berani, dan pantang mundur menghadapi ancaman terhadap Majapahit.

Karier Politik dan Jalan Menuju Mahapatih

Karier Gajah Mada mulai menanjak saat ia berhasil menyelamatkan Raja Jayanegara dari pemberontakan Ra Kuti.

Berkat jasanya, ia diangkat menjadi Patih Kahuripan, kemudian Patih Daha. Loyalitas dan ketegasannya membuat namanya semakin diperhitungkan di lingkungan istana.

Puncak kariernya terjadi ketika Ratu Tribhuwana Tunggadewi mengangkatnya sebagai Mahapatih Majapahit.

Pada momen inilah Gajah Mada dan Sumpah Palapa menjadi tonggak sejarah. Meski awalnya diragukan para pejabat istana, sumpah itu justru menjadi bahan bakar ekspansi besar-besaran Majapahit.

Ekspansi Nusantara di Bawah Komando Gajah Mada

Selama lebih dari dua dekade, Gajah Mada memimpin berbagai ekspedisi militer dan politik.

Sumatra, Bali, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, hingga wilayah Tumasik (Singapura) berhasil masuk dalam pengaruh Majapahit.

Penaklukan Samudra Pasai menjadi salah satu operasi strategis terpenting karena menguasai jalur perdagangan Selat Malaka.

Keberhasilan ini menjadikan Majapahit sebagai kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Nusantara.

Gajah Mada dan Sumpah Palapa pun dianggap terwujud, setidaknya secara politik dan simbolik.

Perang Bubat dan Kejatuhan Sang Mahapatih

Namun ambisi besar itu juga membawa petaka. Konflik dengan Kerajaan Sunda dalam peristiwa Perang Bubat tahun 1357 menjadi titik balik.

Kesalahpahaman antara rencana diplomasi pernikahan Hayam Wuruk dengan Putri Dyah Pitaloka dan ambisi penaklukan Gajah Mada berujung tragedi berdarah.

Seluruh rombongan Kerajaan Sunda gugur, sementara Dyah Pitaloka memilih bunuh diri demi menjaga kehormatan.

Peristiwa ini mencoreng nama Majapahit dan membuat Hayam Wuruk kehilangan kepercayaan kepada mahapatihnya.

Akhir Hayat yang Tetap Menjadi Teka-teki

Setelah Perang Bubat, Gajah Mada dinonaktifkan dari jabatannya. Ia menghabiskan sisa hidupnya di Madakaripura, Probolinggo.

Seperti kelahirannya, kematian Gajah Mada juga diselimuti misteri. Ada yang menyebut ia wafat karena sakit, ada pula yang meyakini ia moksa.

Terlepas dari kontroversi, Gajah Mada dan Sumpah Palapa tetap menjadi simbol persatuan Nusantara.

Kisahnya mengajarkan bahwa ambisi besar mampu membangun peradaban, namun tanpa kendali ego, ambisi yang sama dapat menghancurkan segalanya.

Editor : Muhamad Ahsanul Wildan
#Sumpah Palapa #perang bubat #hayam wuruk #gajah mada #kerajaan majapahit