RADAR TULUNGAGUNG – Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Dio dikenal sebagai salah satu ajaran spiritual paling dalam dan paling rahasia dalam khazanah kejawen.
Ilmu adiluhung ini sejak awal hanya diwariskan kepada kalangan terbatas, terutama bangsawan dan murid terpilih, melalui laku batin dan tuntunan guru sejati secara lisan.
Dalam tradisi Jawa, Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Dio dipahami sebagai ilmu keselamatan tertinggi.
Kata hayu atau rahayu berarti selamat, sementara pangruwating dio dimaknai sebagai upaya meruwat, meluluhkan, dan memperbaiki sifat-sifat angkara murka dalam diri manusia maupun dalam jagat raya, baik mikro maupun makro.
Lebih dari sekadar pengetahuan, Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Dio diyakini sebagai puncak dari seluruh kawruh atau ilmu kesempurnaan hidup.
Tidak ada pengetahuan lain dalam tradisi Jawa yang dianggap lebih dalam dan lebih luas dari sastra adiluhung ini karena ia menuntun manusia kembali ke asal-usul penciptaannya.
Ilmu Rahasia tentang Asal-Usul Manusia
Ajaran Sastra Jendra menjelaskan rahasia dumadi, asal mula manusia menurut persepsi Jawa.
Manusia diyakini tercipta dari Nur Cahya Allah yang bersifat Maha Suci. Cahaya ilahi tersebut kemudian merasuk ke dalam wadah jasmani, baik badan halus maupun badan kasar, sehingga manusia hidup di tiga alam sekaligus, yaitu alam sejati, alam halus, dan alam kasar.
Kesadaran manusia sehari-hari, menurut ajaran ini, lebih banyak terjebak di alam kasar.
Padahal, syarat utama memahami hakikat hidup adalah memindahkan titik berat kesadaran secara bertahap menuju alam sejati.
Proses inilah yang disebut sebagai perjalanan spiritual menuju Sangkan Paraning Dumadi, asal dan tujuan akhir kehidupan.
Makna Spiritual Honocoroko
Dalam Sastra Jendra, rangkaian aksara Jawa Hanacaraka hingga Nga bukan sekadar huruf, melainkan sandi spiritual yang memuat tahapan kesadaran. Setiap aksara merepresentasikan fase perjalanan batin manusia.
Huruf pertama melambangkan Cahyaning Allah, bahwa hidup sejati berasal dari cahaya Ilahi sebelum alam semesta tercipta.
Tahapan berikutnya menjelaskan peran Nur Hidup, Cipta, Rasa, dan Karsa sebagai daya penggerak kehidupan.
Hingga akhirnya manusia diajak memahami konsep mati sajroning urip, mematikan ego dalam hidup agar selaras dengan kehendak Allah.
Puncaknya adalah kesadaran tentang wujud Allah yang tidak dapat digambarkan, tidak berjenis kelamin, tidak berbentuk, dan melampaui ruang serta waktu.
Manusia hanya diminta eling, selalu ingat kepada asal-usulnya dan menjaga laku hidup agar tidak terjerumus dalam lupa dan kegelapan batin.
Kesatuan Kawulo dan Gusti
Salah satu inti ajaran Sastra Jendra adalah penyatuan antara kawulo dan Gusti. Kesatuan ini bukan bermakna menyamakan manusia dengan Tuhan, melainkan menyelaraskan kehendak manusia dengan kehendak Ilahi.
Konsep ini digambarkan seperti keris yang menyatu dengan warangkanya, selaras namun tetap memiliki peran masing-masing.
Untuk mencapai tahap ini, seseorang harus menempuh disiplin spiritual yang ketat, melalui sembah raga, sembah kalbu, hingga sembah rasa.
Bimbingan guru sejati menjadi syarat mutlak, karena ilmu ini tidak bisa dicapai hanya dengan logika atau akal semata.
Relevansi Sastra Jendra di Zaman Modern
Meski berakar dari tradisi lama, ajaran Sastra Jendra tetap relevan di era modern. Nilai pengendalian diri, kesadaran batin, dan keseimbangan hidup menjadi jawaban atas krisis spiritual di tengah kehidupan yang serba cepat dan materialistis.
Sastra Jendra tidak mengajarkan pelarian dari dunia, melainkan cara hidup selaras di dalamnya.
Manusia diajak merajut “busana kemanusiaan”, menguasai anasir dan nafsu, agar tercipta harmoni antara diri, alam, dan Sang Pencipta.
Pada akhirnya, Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Dio dipahami sebagai jalan sunyi menuju kesempurnaan hidup.
Bukan untuk dipamerkan, melainkan dijalani dengan rendah hati sebagai bekal kembali ke alam sejati, menghadap Allah Yang Maha Agung.