Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Pendakian Gunung Lawu Jumat Kliwon Berujung Mencekam: 15 Pendaki Alami Teror Gaib, Dua Nyaris Tewas

Dinar Ananda Putri • Rabu, 21 Januari 2026 | 16:20 WIB

 

Pendakian Gunung Lawu Jumat Kliwon berujung mencekam. 15 pendaki alami teror gaib, dua nyaris tewas saat evakuasi malam hari.
Pendakian Gunung Lawu Jumat Kliwon berujung mencekam. 15 pendaki alami teror gaib, dua nyaris tewas saat evakuasi malam hari.

RADAR TULUNGAGUNG - Pendakian Gunung Lawu Jumat Kliwon kembali menjadi sorotan setelah kisah mencekam dialami 15 pendaki asal Jakarta pada akhir 2024. Gunung yang dikenal sakral oleh masyarakat Jawa itu menyimpan cerita panjang tentang mistisisme, petilasan, dan kepercayaan spiritual yang masih kuat hingga kini. Pendakian yang semula direncanakan sebagai perjalanan bersama justru berubah menjadi pengalaman penuh teror di luar nalar.

Gunung Lawu sejak lama dipercaya sebagai tempat moksa Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit, yang diyakini menjadi penjaga gaib gunung tersebut dengan sebutan Eyang Lawu atau Eyang Lau. Kepercayaan ini makin menguat saat pendakian dilakukan tepat pada malam Jumat Kliwon, hari yang dianggap sakral dalam penanggalan Jawa.

Rombongan berjumlah 15 orang memulai perjalanan dari basecamp Cemoro Sewu pada pagi hari. Pendakian dipimpin seorang ketua tim dan dibagi menjadi beberapa regu, dengan dua pendaki berpengalaman berada di tim sapu bersih. Awalnya, perjalanan menuju Pos 1 hingga Pos 2 berlangsung normal tanpa gangguan berarti.

Namun situasi berubah drastis saat hujan deras turun sejak siang dan tak kunjung berhenti. Jalur tanah merah Gunung Lawu berubah menjadi lumpur licin, menyulitkan langkah pendaki. Beberapa peserta mulai kelelahan, bahkan terpeleset dan mengalami cedera ringan.

Gangguan Gaib Mulai Terasa di Pos 2

Di antara Pos 1 dan Pos 2, terdapat area yang dipasangi garis pembatas dan dikenal rawan kejadian. Sejumlah pendaki mengaku melihat sosok misterius, termasuk penampakan anak kecil berwarna hitam yang bergerak lincah di pepohonan. Kejadian ini disaksikan lebih dari satu orang, memperkuat kesaksian bahwa gangguan tersebut bukan halusinasi semata.

Porter lokal yang mendampingi rombongan menyebut area itu sebagai lokasi sensitif, dekat dengan tempat ritual dan petilasan. Aroma dupa, bunga, dan sesaji masih kerap ditemukan di sekitar Pos 2, menandakan aktivitas spiritual yang masih berlangsung hingga kini.

Memasuki Pos 4, hujan disertai angin kencang membuat suhu turun drastis. Salah satu pendaki mengalami gejala hipotermia berat dan tak sanggup melanjutkan perjalanan. Rombongan terpaksa berhenti di area yang sebenarnya dilarang untuk berkemah karena dianggap sakral.

Di lokasi ini, tekanan mental para pendaki meningkat. Beberapa mengaku mendengar bisikan, langkah kaki tambahan, hingga melihat sosok besar menyerupai bayangan manusia bertaring. Salah satu pendaki bahkan mengaku hampir pingsan setelah merasa seperti “ditarik” saat berjalan di jalur gelap.

Evakuasi Dramatis hingga Tengah Malam

Keputusan sulit pun diambil. Sebagian tim melanjutkan perjalanan, sementara tim belakang fokus mengevakuasi peserta yang drop. Proses evakuasi berlangsung sangat lambat akibat jalur ekstrem dan kondisi fisik yang sudah terkuras.

Salah satu pendaki bahkan harus digendong bergantian oleh sesama pendaki dan porter lokal. Dalam perjalanan turun, beberapa anggota tim mengaku dikejar suara langkah kaki yang jumlahnya lebih banyak dari rombongan mereka.

Evakuasi baru berhasil tuntas sekitar pukul 22.00 WIB. Rombongan tersebut tercatat sebagai pendaki terakhir yang turun malam itu. Dua pendaki yang paling parah kondisinya selamat, meski mengalami syok dan kelelahan ekstrem.

Kisah pendakian Gunung Lawu Jumat Kliwon ini kembali menjadi pengingat bahwa Gunung Lawu bukan sekadar destinasi alam, tetapi juga wilayah dengan nilai spiritual yang kuat. Porter lokal menyarankan agar pendaki menghormati adat setempat, menghindari pendakian di hari sakral jika tidak siap mental, serta selalu menjaga etika dan kebersamaan.

“Masalah terbesar di gunung bukan cuma fisik, tapi mental dan ego,” ujar salah satu pendaki yang terlibat. Ia menegaskan bahwa solidaritas tim menjadi faktor utama yang menyelamatkan nyawa rekan-rekannya malam itu.

Editor : Dinar Ananda Putri
#Evakuasi pendaki #Gunung Lawu Jumat Kliwon #Gunung Lawu mistis #Kisah horor pendaki #Pendakian Gunung Lawu