JAKARTA - Mitos mengenai larangan mendaki Gunung Lawu dalam jumlah ganjil telah lama hidup di tengah masyarakat dan kalangan pendaki. Kepercayaan ini berkaitan dengan keyakinan adanya makhluk gaib penunggu gunung yang akan ikut bergabung dalam rombongan ganjil, sehingga jumlahnya menjadi genap dan memicu kejadian mistis.
Mitos “Digenapkan” oleh Makhluk Gaib di Gunung Lawu
Masyarakat sekitar Gunung Lawu percaya bahwa rombongan pendaki dengan jumlah ganjil berisiko “digenapkan” oleh makhluk tak kasat mata. Sosok gaib tersebut diyakini ikut berjalan bersama rombongan tanpa disadari.
Kepercayaan ini menyebutkan bahwa akibat dari “penggenapan” tersebut, salah satu anggota rombongan bisa mengalami kesialan, tersesat, atau bahkan tidak kembali bersama rombongan saat turun gunung.
Kemunculan Sosok Pendaki Misterius
Dalam berbagai cerita yang beredar di kalangan pendaki, sering muncul kisah tentang sosok pendaki asing yang tiba-tiba berada di tengah rombongan ganjil. Sosok ini biasanya baru disadari saat dilakukan pengecekan jumlah anggota, terutama ketika kondisi kabut tebal menyelimuti jalur pendakian.
Sosok misterius tersebut digambarkan tidak banyak berbicara, berjalan tanpa suara, dan menghilang begitu saja ketika rombongan berhenti atau beristirahat.
Pantangan Lain yang Dipercaya Berlaku di Gunung Lawu
Selain larangan mendaki dengan jumlah ganjil, Gunung Lawu juga dikenal memiliki sejumlah pantangan lain yang masih dipercaya hingga kini.
Larangan Bagi Keturunan Cepu dan Bojonegoro
Dalam mitos yang berkembang, keturunan Adipati Cepu atau masyarakat dari wilayah Cepu dan Bojonegoro disebut dilarang mendaki Gunung Lawu. Larangan ini dikaitkan dengan sumpah kuno Prabu Brawijaya V yang konon masih diyakini berpengaruh hingga sekarang.
Etika Berbicara Selama Pendakian
Pendaki diimbau menjaga ucapan selama berada di Gunung Lawu. Mengumpat, mengeluh berlebihan, atau berkata kotor dipercaya dapat mengundang gangguan makhluk gaib dan memicu kejadian yang tidak diinginkan.
Larangan Mengenakan Pakaian Hijau Pupus
Warna hijau pupus juga kerap disebut sebagai warna pantangan karena identik dengan penguasa laut selatan. Meski Gunung Lawu berada jauh dari pantai, kepercayaan ini tetap melekat kuat di kalangan pendaki tradisional.
Tinjauan Logis dari Perspektif Keselamatan Pendakian
Di luar unsur mistis, larangan mendaki dalam jumlah ganjil juga dapat dijelaskan secara logis. Dalam dunia pendakian, kelompok dengan jumlah genap lebih ideal untuk menerapkan sistem keamanan seperti buddy system.
Sebagai contoh, dalam kelompok empat orang, jika terjadi keadaan darurat, satu orang dapat menemani korban sementara dua orang lainnya mencari bantuan. Pola ini dinilai lebih aman dibandingkan kelompok ganjil yang rawan kekurangan personel saat kondisi darurat.
Pendaki yang berencana mendaki Gunung Lawu tetap disarankan mengikuti arahan petugas Basecamp Pendakian dan mematuhi aturan keselamatan resmi. Terlepas dari benar atau tidaknya mitos yang beredar, keselamatan dan kesiapan fisik tetap menjadi faktor utama selama pendakian.
Editor : Dara Shauqy Hadiwijaya