Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Mitos Larangan Mendaki Gunung Lawu Berjumlah Ganjil, Dipercaya Bisa “Digenapkan” Makhluk Gaib

Dara Shauqy Hadiwijaya • Selasa, 27 Januari 2026 | 20:15 WIB

Mitos larangan mendaki Gunung Lawu berjumlah ganjil dipercaya bisa membuat rombongan “digenapkan” makhluk gaib.
Mitos larangan mendaki Gunung Lawu berjumlah ganjil dipercaya bisa membuat rombongan “digenapkan” makhluk gaib.

JAKARTA - Mitos mengenai larangan mendaki Gunung Lawu dalam jumlah ganjil telah lama hidup di tengah masyarakat dan kalangan pendaki. Kepercayaan ini berkaitan dengan keyakinan adanya makhluk gaib penunggu gunung yang akan ikut bergabung dalam rombongan ganjil, sehingga jumlahnya menjadi genap dan memicu kejadian mistis.

Mitos “Digenapkan” oleh Makhluk Gaib di Gunung Lawu

Masyarakat sekitar Gunung Lawu percaya bahwa rombongan pendaki dengan jumlah ganjil berisiko “digenapkan” oleh makhluk tak kasat mata. Sosok gaib tersebut diyakini ikut berjalan bersama rombongan tanpa disadari.

Kepercayaan ini menyebutkan bahwa akibat dari “penggenapan” tersebut, salah satu anggota rombongan bisa mengalami kesialan, tersesat, atau bahkan tidak kembali bersama rombongan saat turun gunung.

Kemunculan Sosok Pendaki Misterius

Dalam berbagai cerita yang beredar di kalangan pendaki, sering muncul kisah tentang sosok pendaki asing yang tiba-tiba berada di tengah rombongan ganjil. Sosok ini biasanya baru disadari saat dilakukan pengecekan jumlah anggota, terutama ketika kondisi kabut tebal menyelimuti jalur pendakian.

 

Baca Juga: Kisah Horor Gunung Lawu: Pendaki Wanita Tak Sadar Summit Bersama Sosok Teguh, Ternyata Sudah Meninggal Dunia

 

Sosok misterius tersebut digambarkan tidak banyak berbicara, berjalan tanpa suara, dan menghilang begitu saja ketika rombongan berhenti atau beristirahat.

Pantangan Lain yang Dipercaya Berlaku di Gunung Lawu

Selain larangan mendaki dengan jumlah ganjil, Gunung Lawu juga dikenal memiliki sejumlah pantangan lain yang masih dipercaya hingga kini.

Larangan Bagi Keturunan Cepu dan Bojonegoro

Dalam mitos yang berkembang, keturunan Adipati Cepu atau masyarakat dari wilayah Cepu dan Bojonegoro disebut dilarang mendaki Gunung Lawu. Larangan ini dikaitkan dengan sumpah kuno Prabu Brawijaya V yang konon masih diyakini berpengaruh hingga sekarang.

Etika Berbicara Selama Pendakian

Pendaki diimbau menjaga ucapan selama berada di Gunung Lawu. Mengumpat, mengeluh berlebihan, atau berkata kotor dipercaya dapat mengundang gangguan makhluk gaib dan memicu kejadian yang tidak diinginkan.

 

Baca Juga: Pendakian Gunung Lawu via Candi Ceto: Reuni Pendaki Lintas Kota, Jalur Terjal, hingga Ritual Sakral yang Bikin Merinding

 

Larangan Mengenakan Pakaian Hijau Pupus

Warna hijau pupus juga kerap disebut sebagai warna pantangan karena identik dengan penguasa laut selatan. Meski Gunung Lawu berada jauh dari pantai, kepercayaan ini tetap melekat kuat di kalangan pendaki tradisional.

Tinjauan Logis dari Perspektif Keselamatan Pendakian

Di luar unsur mistis, larangan mendaki dalam jumlah ganjil juga dapat dijelaskan secara logis. Dalam dunia pendakian, kelompok dengan jumlah genap lebih ideal untuk menerapkan sistem keamanan seperti buddy system.

Sebagai contoh, dalam kelompok empat orang, jika terjadi keadaan darurat, satu orang dapat menemani korban sementara dua orang lainnya mencari bantuan. Pola ini dinilai lebih aman dibandingkan kelompok ganjil yang rawan kekurangan personel saat kondisi darurat.

 

Baca Juga: Kisah Horor Gunung Lawu: Pendaki Mengaku Keturunan Adipati Cepu Alami Teror Mistis hingga Dirantai Sosok Gaib

 

Pendaki yang berencana mendaki Gunung Lawu tetap disarankan mengikuti arahan petugas Basecamp Pendakian dan mematuhi aturan keselamatan resmi. Terlepas dari benar atau tidaknya mitos yang beredar, keselamatan dan kesiapan fisik tetap menjadi faktor utama selama pendakian.

Editor : Dara Shauqy Hadiwijaya
#mitos #mitos gunung lawu #gunung lawu #mitos gunung