RADAR TULUNGAGUNG - Legenda Banyuwangi menjadi salah satu cerita rakyat paling populer di Jawa Timur yang mengisahkan asal-usul nama sebuah daerah dengan nuansa tragis dan penuh pelajaran hidup. Kisah ini berpusat pada perjalanan cinta antara Raden Banterang dan Surati yang berakhir dengan peristiwa memilukan.
Legenda Banyuwangi tidak hanya dikenal sebagai dongeng, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat. Cerita ini mengandung nilai moral tentang kepercayaan, kesetiaan, dan bahaya prasangka tanpa bukti yang jelas.
Dalam legenda Banyuwangi, dikisahkan sebuah kerajaan yang dipimpin raja bijaksana. Sang raja memiliki putra bernama Raden Banterang, seorang pangeran gagah yang gemar berburu. Suatu hari, saat berburu di hutan, ia mengejar seekor rusa hingga tersesat jauh dari rombongannya.
Pertemuan Tak Terduga di Tengah Hutan
Di tengah kelelahan, Raden Banterang beristirahat di tepi sungai. Di sanalah ia bertemu seorang gadis cantik bernama Surati, putri dari Kerajaan Kalungkung yang tengah melarikan diri setelah kerajaannya diserang musuh.
Pertemuan tersebut menjadi awal kisah cinta keduanya. Raden Banterang kemudian membawa Surati ke istana dan menikahinya. Kehidupan mereka berjalan bahagia dan mendapat restu dari rakyat.
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Munculnya Konflik dan Hasutan
Suatu hari, Surati bertemu dengan kakaknya, Rupaksa, yang ternyata masih hidup. Rupaksa mengajak Surati membalas dendam kepada Raden Banterang, yang dianggap sebagai bagian dari pihak yang telah menghancurkan kerajaan mereka.
Surati menolak ajakan tersebut karena merasa berutang budi kepada suaminya. Ia memilih setia dan tidak ingin mengkhianati pernikahannya.
Sebelum pergi, Rupaksa memberikan ikat kepala sebagai kenang-kenangan. Tanpa disadari, benda ini menjadi awal dari petaka besar.
Fitnah yang Menghancurkan Kepercayaan
Dalam legenda Banyuwangi, konflik memuncak saat Rupaksa menyamar dan memfitnah Surati di hadapan Raden Banterang. Ia menuduh bahwa Surati merencanakan pembunuhan terhadap suaminya.
Hasutan tersebut diperkuat dengan keberadaan ikat kepala yang ditemukan di bawah bantal Surati. Tanpa mencari kebenaran lebih dalam, Raden Banterang langsung mempercayai tuduhan tersebut.
Rasa marah dan kecewa membuatnya menuduh Surati berkhianat.
Sumpah dan Pengorbanan Surati
Merasa tidak dipercaya, Surati akhirnya bersumpah untuk membuktikan kesuciannya. Ia berkata bahwa jika air sungai berubah menjadi jernih dan harum, maka ia tidak bersalah.
Sebaliknya, jika air tetap keruh, maka ia dianggap bersalah.
Dengan keyakinan penuh, Surati menceburkan diri ke dalam sungai. Keajaiban pun terjadi. Air sungai yang sebelumnya keruh berubah menjadi jernih dan mengeluarkan aroma harum.
Peristiwa tersebut membuktikan bahwa Surati tidak bersalah.
Asal Usul Nama Banyuwangi
Raden Banterang pun menyadari kesalahannya. Ia menyesal telah menuduh istrinya tanpa bukti. Namun, penyesalan itu datang terlambat.
Sejak saat itu, sungai tersebut dikenal sebagai “Banyuwangi”. Dalam bahasa Jawa, “banyu” berarti air dan “wangi” berarti harum. Nama tersebut kemudian digunakan sebagai nama daerah yang kini dikenal sebagai Banyuwangi.
Legenda Banyuwangi menjadi simbol bahwa kebenaran akan selalu menemukan jalannya, meskipun harus melalui pengorbanan besar.
Nilai Moral yang Terkandung
Cerita Banyuwangi ini mengajarkan pentingnya tidak mudah terhasut oleh informasi yang belum tentu benar. Kepercayaan dan komunikasi menjadi kunci dalam menjaga hubungan.
Legenda Banyuwangi juga menjadi pengingat bahwa prasangka tanpa klarifikasi dapat berujung pada penyesalan yang tidak dapat diperbaiki.
Hingga kini, kisah ini terus diceritakan sebagai bagian dari kekayaan budaya lisan di Indonesia.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula