Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Rentan Paparan Konten Negatif, Anak Butuh Pengawasan Lebih Ketat dari Orang Tua dalam Penggunaan Handphone

Betty Khasandra Pujayanti • Rabu, 23 Juli 2025 | 18:00 WIB
Kasus perceraian yang semakin marak terjadi di Kabupaten Tulungagung bukan hanya berdampak pada pasangan suami istri, namun juga anak.
Kasus perceraian yang semakin marak terjadi di Kabupaten Tulungagung bukan hanya berdampak pada pasangan suami istri, namun juga anak.

TULUNGAGUNG – Anak-anak masa kini tumbuh di era digital yang menawarkan kemudahan akses informasi dalam hitungan detik.

Namun, di balik kemajuan teknologi, muncul tantangan serius yang mengintai perkembangan psikologis dan moral anak.

Tanpa kontrol yang tepat dari orang tua, anak sangat rentan terpapar konten negatif. Mulai dari kekerasan, pornografi, ujaran kebencian, hingga konten manipulatif yang tersebar luas di media sosial dan platform digital.

Daya jelajah digital anak-anak terus meningkat seiring dengan kepemilikan gawai pribadi di usia yang semakin muda.

Kondisi ini membuat anak tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga target dari algoritma konten yang kerap tidak ramah bagi usia mereka.

Berbagai konten yang tidak layak konsumsi anak dengan mudah masuk ke layar gadget mereka, bahkan tanpa disengaja.

Paparan konten negatif ini tidak dapat dianggap sepele. Dalam jangka panjang, konsumsi konten yang tidak sesuai usia dapat memengaruhi cara berpikir, sikap, dan perilaku anak.

Anak bisa menjadi agresif, kehilangan empati, atau mengalami gangguan kejiwaan seperti kecemasan dan depresi.

Konten yang mengandung kekerasan atau pornografi juga dapat menormalisasi tindakan yang seharusnya tidak ditiru.

Fenomena ini semakin diperparah oleh kurangnya kontrol dan pengawasan dari orang tua.

Banyak orang tua yang menyerahkan gadget kepada anak untuk menenangkan atau mengalihkan perhatian tanpa pendampingan atau filter konten yang memadai.

Padahal, peran orang tua sangat krusial dalam membatasi dan mengarahkan penggunaan teknologi secara sehat.

Bentuk pengawasan digital yang ideal bukan sekadar membatasi durasi penggunaan gawai.

Orang tua juga harus aktif mengetahui jenis konten yang dikonsumsi anak, platform apa saja yang digunakan, serta bagaimana interaksi anak dalam dunia maya.

Hal ini penting untuk mencegah anak masuk ke lingkaran konten negatif yang bisa mengubah karakter dan memengaruhi masa depannya.

Anak harus dibekali kemampuan membedakan mana informasi yang benar, mana yang hoaks, mana konten yang sehat, mana yang harus dihindari.

Literasi digital bukan hanya untuk anak, tetapi juga untuk orang tua agar dapat menjadi teladan dalam menggunakan teknologi secara bijak.

Upaya perlindungan anak dari konten negatif tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah dan lembaga pendidikan.

Peran keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama dalam tumbuh kembang anak menjadi sangat penting.

Orang tua perlu lebih sadar bahwa ancaman digital tidak kalah serius dibandingkan bahaya fisik yang nyata.

Pemerintah juga perlu memperketat regulasi konten internet, dan memperluas kerja sama dengan platform digital agar menyediakan fitur kontrol orang tua yang lebih mudah diakses.

Pemblokiran terhadap situs-situs berbahaya juga harus terus diperbarui dan diawasi secara aktif.

Sekolah dan lembaga pendidikan pun bisa mengambil peran melalui program pendidikan karakter yang dikaitkan dengan kecakapan digital.

Guru dapat menjadi mitra orang tua dalam memantau perkembangan anak, terutama dalam penggunaan internet untuk kegiatan belajar maupun hiburan.

Menjelang usia remaja, anak akan semakin sulit untuk dikontrol secara langsung.

Oleh karena itu, pondasi nilai dan kebiasaan yang sehat harus sudah dibentuk sejak usia dini.

Apabila anak telah terbiasa dengan disiplin digital dan sadar akan batasan diri, risiko terpapar konten negatif pun bisa ditekan secara signifikan.

Perlindungan terhadap anak di era digital adalah tanggung jawab bersama.

Tidak cukup hanya dengan melarang atau membatasi akses teknologi, tetapi juga menciptakan ruang digital yang aman dan mendidik.

Anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang sehat, baik secara fisik maupun mental, termasuk di dunia maya

Editor : Matlaul Ngainul Aziz
#orang tua #pengawasan anak #Hari Anak Nasional (HAN) #era digital