Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Harga Emas di Aceh Tembus Rp9 Juta per Mayam, Mahar Pernikahan Ikut Turun! Data KUA Kuta Alam: Angka Nikah Merosot 3 Tahun Berturut-turut

Natasha Eka Safrina • Minggu, 1 Februari 2026 | 13:30 WIB

Harga emas di Aceh tembus Rp9 juta per mayam. Mahar nikah ikut turun, data KUA Kuta Alam menunjukkan angka pernikahan merosot.
Harga emas di Aceh tembus Rp9 juta per mayam. Mahar nikah ikut turun, data KUA Kuta Alam menunjukkan angka pernikahan merosot.

BANDA ACEH - Harga emas di Aceh yang terus melonjak kini mulai memunculkan dampak sosial yang lebih luas. Bukan hanya menekan daya beli masyarakat, kenaikan harga emas juga disebut ikut memengaruhi besaran mahar pernikahan hingga angka pernikahan di sejumlah wilayah di Aceh. Tradisi penggunaan emas sebagai mahar atau jeulame pun menjadi sorotan karena harganya semakin sulit dijangkau pasangan muda.

Dalam budaya Aceh, mahar pernikahan umumnya menggunakan emas dengan satuan mayam. Satu mayam setara sekitar 3,3 gram emas. Namun saat ini, harga satu mayam emas dilaporkan sudah menembus angka lebih dari Rp9 juta, sehingga calon pengantin harus berpikir ulang dalam menentukan jumlah mahar yang sanggup dipenuhi.

Kenaikan ini menjadi topik hangat di tengah masyarakat, terutama pasangan muda yang sedang mempersiapkan pernikahan. Pantauan di sejumlah toko emas di Banda Aceh menunjukkan masyarakat masih tetap membeli emas untuk keperluan mahar. Namun, jumlah mayam yang dibeli cenderung menurun sebagai bentuk penyesuaian terhadap harga yang semakin tinggi.

Baca Juga: TPG Januari 2026 Cair Mendekati Rp10 Juta di Sejumlah Daerah, Guru Terima THR, Gaji ke-13,Ini Syarat SKTP dan Daftar Wilayah yang Sudah Masuk Rekening

Mahar Emas Masih Dibeli, Tapi Jumlah Mayam Menurun

Seorang pedagang emas di Banda Aceh menyebut, tren penurunan jumlah mahar emas sudah terlihat jelas. Jika dulu masyarakat terbiasa membeli 20 hingga 30 mayam untuk mahar, kini angka itu semakin jarang ditemui.

“Karena emas sudah mahal sekali, jumlah mayamnya sudah berkurang. Kalau dulu mungkin masyarakat biasa beli 20–30 mayam, kalau sekarang 10 mayam itu sudah top. Bahkan kemarin ada yang empat mayam untuk nikah, ada yang 10. Kalau di atas 10 sudah besarlah,” ujarnya.

Penurunan jumlah mayam ini menunjukkan adanya perubahan pola di masyarakat. Pasangan tetap ingin menjalankan tradisi, namun kemampuan ekonomi dan tingginya harga emas memaksa mereka menyesuaikan nilai mahar agar tetap realistis.

Baca Juga: TPG Guru Per Bulan 2026 Resmi Jalan, TPG THR 100 Persen Mulai Cair di Sejumlah Daerah, Ini Fakta SKTP dan Jadwal Pencairannya

Data KUA Kuta Alam: Pernikahan Turun Tiga Tahun Berturut-turut

Tak hanya memengaruhi nilai mahar, kenaikan harga emas juga diduga berdampak pada penurunan angka pernikahan di Aceh. Hal ini terlihat dari data Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh, yang mencatat jumlah pernikahan dalam tiga tahun terakhir terus menurun.

Pada 2023, tercatat 243 pasangan menikah. Angka tersebut turun menjadi 233 pasangan pada 2024. Penurunan kembali terjadi pada 2025, dengan jumlah pernikahan hanya 192 pasangan.

Pejabat di KUA Kuta Alam menyebut, penurunan ini bisa dipengaruhi banyak faktor. Namun salah satu yang dinilai berperan adalah kondisi pasar emas yang membuat mahar semakin mahal. Selain itu, faktor ekonomi lain seperti lapangan kerja dan kesiapan finansial calon pengantin juga ikut memengaruhi keputusan menikah.

“Bisa jadi salah satunya memang pengaruh pasar terhadap harga emas. Itu menjadi salah satu faktor terjadinya penurunan, mungkin diikuti faktor lain, seperti pekerjaan atau lapangan kerja yang belum terpenuhi. Calon suami merasa belum terpenuhi finansialnya sehingga tidak bisa memberikan mahar,” kata pihak KUA.

Baca Juga: TPG Guru Per Bulan 2026 Resmi Jalan, TPG THR 100 Persen Mulai Cair di Sejumlah Daerah, Ini Fakta SKTP dan Jadwal Pencairannya

Budayawan: Adat Tidak Melarang Mahar Selain Emas

Budayawan Aceh, Tarmizi Abdul Hamid yang akrab disapa Cek Midi, menegaskan bahwa tradisi mahar emas atau jeulame sudah dikenal sejak masa Kesultanan Aceh Darussalam. Namun ia menekankan, adat Aceh tidak bertujuan membebani pihak laki-laki.

Menurutnya, masyarakat tidak perlu menyalahkan adat atas melonjaknya harga emas. Ia menyebut, mahar pada dasarnya adalah bentuk komitmen dan kesepakatan kedua belah pihak, bukan ajang pamer kemampuan.

“Dua mempelai ini bermusyawarah terhadap kemampuan dari mahar yang telah ditetapkan. Artinya, apakah harus mahar emas. Karena ini tanggung jawab moral, tanggung jawab sosial. Kemudian yang paling penting di sini adalah mahar sebagai komitmen di antara kedua belah pihak,” ujarnya.

Cek Midi juga mengingatkan bahwa mahar bisa disesuaikan dengan kemampuan calon pengantin. Dalam prinsip adat, mahar yang baik adalah mahar yang tidak memberatkan, sehingga pernikahan tetap menjadi jalan ibadah dan kebahagiaan, bukan beban sosial bagi generasi muda.

Baca Juga: THR P3K Penuh dan Paruh Waktu Cair Minggu Kedua Maret, Ini Perbedaan Hak, Nominal, dan Gaji 13 yang Jarang Dijelaskan

Dorongan Penyesuaian: Mahar Berdasarkan Kemampuan

Melihat kondisi harga emas yang terus naik, Tarmizi menyarankan agar Majelis Adat Aceh dan pihak terkait dapat mengambil langkah penyesuaian yang diperlukan. Salah satunya dengan kembali menekankan pentingnya penetapan mahar berdasarkan kemampuan, agar pasangan muda tidak menunda pernikahan hanya karena terbebani nilai jeulame.

Dengan harga emas yang kini sudah melampaui Rp9 juta per mayam, masyarakat Aceh dihadapkan pada tantangan baru: menjaga tradisi sekaligus memastikan pernikahan tetap terjangkau. Di tengah tekanan ekonomi, penyesuaian mahar menjadi salah satu jalan agar tradisi tetap berjalan tanpa mengorbankan masa depan generasi muda.

Editor : Natasha Eka Safrina
#harga emas #Mahar Pernikahan