RADAR TULUNGAGUNG - BMKG mengeluarkan peringatan cuaca ekstrem Jawa Timur yang berlaku mulai 11 hingga 20 Januari 2026. Hampir seluruh kabupaten/kota di provinsi ini memasuki puncak musim penghujan, dengan potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang selama 10 hari ke depan.
Peringatan cuaca ekstrem Jawa Timur tersebut disampaikan menyusul meningkatnya potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir bandang dan angin puting beliung. Selain itu, wilayah perairan juga berisiko mengalami gelombang tinggi akibat peningkatan kecepatan angin.
BMKG menegaskan, kondisi ini perlu menjadi perhatian serius masyarakat, terutama yang tinggal di dataran tinggi, daerah rawan banjir, serta warga yang beraktivitas di sektor kelautan dan penerbangan. Intensitas hujan dalam beberapa hari terakhir sudah menunjukkan tren peningkatan signifikan.
Gelombang 1,5–2 Meter di Laut Jawa
Dari pemantauan BMKG Maritim Tanjung Perak Surabaya, kecepatan angin di wilayah Laut Jawa tercatat mencapai 20 hingga 32 knot. Angka tersebut masuk kategori tinggi dan berdampak pada kenaikan gelombang laut.
“Ketinggian gelombang di Laut Jawa berkisar 1,5 hingga 2 meter,” jelas prakirawan BMKG Maritim Tanjung Perak.
Wilayah yang perlu diwaspadai meliputi perairan Bawean, utara Tuban, Lamongan, utara Madura, Kangean, hingga Sapeken. Selain itu, gelombang tinggi juga terpantau di perairan selatan Jawa Timur.
Peningkatan gelombang ini dipicu adanya daerah pertemuan angin atau konvergensi di sekitar Laut Jawa. Fenomena tersebut menyebabkan percepatan angin sekaligus mendorong terbentuknya gelombang lebih tinggi dari biasanya.
Bagi nelayan dan operator kapal penumpang, kondisi ini sangat berisiko. BMKG mengimbau agar aktivitas pelayaran mempertimbangkan pembaruan informasi cuaca secara berkala.
Dampak ke Penerbangan Juanda
Cuaca ekstrem Jawa Timur juga berdampak pada sektor penerbangan. Pada awal Januari lalu, hujan deras dan angin kencang sempat menyebabkan sejumlah penerbangan di Bandara Juanda Surabaya mengalami penundaan bahkan pengalihan rute.
BMKG Juanda terus melakukan pemantauan cuaca secara real time. Jika dalam dua jam sebelum jadwal terbang kondisi cuaca dinilai membahayakan, maka koordinasi akan dilakukan dengan Air Traffic Control (ATC) untuk menentukan langkah keselamatan.
Langkah ini penting mengingat keselamatan penerbangan sangat dipengaruhi faktor cuaca, terutama saat terjadi hujan lebat, jarak pandang terbatas, dan angin silang yang kencang.
Sistem Peringatan Dini dan Laporan Nelayan
BMKG Maritim Tanjung Perak juga mengoptimalkan sistem peringatan dini melalui grup informasi berbasis WhatsApp. Grup ini menjadi sarana komunikasi dua arah antara BMKG dan masyarakat pesisir, termasuk nelayan.
Setiap potensi gelombang tinggi dan angin kencang akan diinformasikan secara cepat. Sebaliknya, nelayan juga dapat mengirimkan laporan kondisi aktual di lapangan.
Dalam laporan terbaru, nelayan di wilayah Bawean mengirimkan video yang memperlihatkan kapal terguncang akibat gelombang setinggi sekitar 2 meter. Di Pelabuhan Sapeken, angin kencang dengan kecepatan di atas 30 knot juga terpantau sejak pagi hari.
Data dan dokumentasi tersebut langsung dianalisis BMKG untuk memperkuat akurasi prakiraan sekaligus memastikan masyarakat memperoleh informasi terbaru.
Imbauan Waspada 10 Hari ke Depan
BMKG mengingatkan bahwa periode 11–20 Januari 2026 merupakan fase krusial puncak musim hujan di Jawa Timur. Potensi hujan intensitas sedang hingga lebat masih mendominasi, terutama pada sore dan malam hari.
Masyarakat diimbau:
Menghindari berteduh di bawah pohon saat hujan petir.
Memastikan saluran air di sekitar rumah tidak tersumbat.
Tidak memaksakan melaut saat peringatan gelombang tinggi berlaku.
Memantau informasi resmi BMKG melalui kanal daring maupun media sosial.
Cuaca ekstrem Jawa Timur dalam 10 hari ke depan berpotensi memicu banjir, tanah longsor, hingga gangguan transportasi laut dan udara. Kewaspadaan dan akses informasi yang cepat menjadi kunci meminimalkan risiko.
BMKG memastikan pembaruan data cuaca akan terus disampaikan secara real time agar masyarakat dapat mengambil langkah antisipasi lebih dini.
Editor : Ingge Nayla Ayu Karina