RADAR TULUNGAGUNG - Trowulan yang diduga menjadi ibu kota Majapahit di Mojokerto ternyata memiliki penanda di setiap arah mata anginnya.
Penanda pinggiran Trowulan adalah kompleks bangunan pemujaan pada era Majapahit.
Yakni tiga kompleks bangunan pemujaan bersifat Hindu (Siwa), yang letaknya mengikuti arah mata angin.
Kompleks bangunan yang batas kota Majapahit terletak di bagian tenggara Trowulan, adalah Situs Lebak Jabung (Kecamatan Jatirejo, Mojokerto).
Sedangkan di bagian barat daya dijumpai Situs Sedah atau Situs Yoni Gambar (Kecamatan Mojowarno, Jombang), dan di bagian barat laut terdapat Situs Klinterejo (Kecamatan Sooko, Mojokerto).
Ketiga kompleks bangunan tersebut masingmasing memiliki sebuah yoni dengan hiasan yang kaya.
Baca Juga: Masih Diperdebatkan para Ahli, Begini Tata Kota Majapahit Menurut Maclaine Pont
Penggalian arkeologis di Situs Klinterejo dan Situs Lebak Jabung memberikan gambaran tentang tata ruang bangunan keagamaan itu.
Pada prinsipnya, kompleks bangunan itu memanjang barat timur.
Luas kompleks bangunan di Situs Lebak Jabung diperkirakan sekitar 250 X 125 meter, dan kompleks bangunan di Situs Klinterejo diperkirakan luasnya 300 X 150 meter.
Tampaknya pembagian ruang berdasarkan persebaran sisa-sisa bangunan kuna itu, mirip dengan pembagian halaman pada pura di Bali.
Bekas kompleks bangunan pura Majapahit ini terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian paling barat yang memiliki pintu masuk, bagian tengah, dan terakhir bagian timur, yang merupakan bagian yang paling sakral.
Pada bagian paling barat berdiri bangunan semacam pendapa atau balai dengan konstruksi tiang kayu yang disangga umpak batu berukuran besar.
Umpak ini berdiri di atas batur tinggi yang terbuat dari susunan bata. Pada bagian timur pura ditempatkan sebuah yoni.
Baca Juga: Nama Asli Penulis Kitab Negarakertagama Mencengangkan, Ternyata Dia Pejabat di Majapahit
Artefak keagamaan itu biasanya berpasangan dengan lingga, yang melambangkan Siwa (lingga) dan pasangannya (yoni).
Tata letak bangunan semacam itu mengingatkan kita pada kompleks Candi Panataran di Blitar.
Kompleks candi kerajaan Majapahit itu memiliki halaman yang terbagi atas tiga bagian yang masingmasing dihubungkan oleh gapura masuk.
Baca Juga: Ini Nama Asli Kitab Negarakertagama dari Era Majapahit, Lokasi Penemuannya Bukan di Pulau Jawa
Yang pertama terletak paling barat, sedangkan bangunan candi utama terletak paling timur.
Di halaman bagian pertama berdiri tiga buah bangunan batur dan sebuah bangunan candi yang disebut candi berangka tahun (1291 Saka atau 1369 Masehi).
Pada bagian tengah terdiri dari bangunan Candi Naga dan bangunan lainnya, sedangkan pada bagian belakang atau paling timur adalah bangunan utama disertai kolam, dan bangunan lainnya.
Baca Juga: Wilayah di Tulungagung Ini Sudah Disebut Sejak Zaman Majapahit, Kitab Negarakertagama Menulis Begini
Tiga buah yoni yang terdapat pada tiga bekas kompleks pura Majapahit di pinggiran kawasan Trowulan, digarap sangat indah dengan hiasan yang kaya.
Menarik perhatian, ketiga yoni itu memiliki pahatan kepala naga yang menggunakan mahkota, ditempatkan di bawah cerat.
Aspek penggarapan yoni menunjukkan adanya pengaruh pusat kota.
Pendirian tiga kompleks bangunan keagamaan di pinggiran kota diperkirakan merupakan bagian dari tata ruang kota yang telah direncanakan oleh kalangan elit di pusat. ****
Editor : Dharaka R. Perdana