RADAR TULUNGAGUNG – Bagi pecinta alam dan penjelajah sejarah, nama Gunung Budheg Tulungagung sudah bukan hal asing.
Gunung yang menjulang di wilayah selatan Kabupaten Tulungagung ini dikenal bukan hanya karena pesonanya yang menakjubkan, tetapi juga karena kisah legenda dan nilai geologinya yang tinggi.
Dikenal sebagai gunung api purba, Gunung Budheg menjadi salah satu situs warisan alam yang menyimpan banyak cerita, mulai dari kisah cinta tragis Roro Kembang Sore hingga mitos “paku bumi” yang dipercaya menstabilkan tanah Jawa.
Gunung Api Purba dan Warisan Geologi Tulungagung
Gunung Budheg terletak sekitar 15 kilometer dari pusat Kota Tulungagung, di kawasan yang masih asri dan alami.
Gunung ini diyakini terbentuk dari aktivitas vulkanik jutaan tahun lalu.
Secara ilmiah, Gunung Budheg dikategorikan sebagai gunung api purba yang sudah tidak aktif lagi dan kini menjadi bagian penting dalam warisan geologi Indonesia.
Tak heran jika para peneliti, pendaki, hingga pelajar sering datang ke lokasi ini untuk melakukan observasi.
Struktur batuannya yang unik menjadi bukti sejarah geologi masa lampau di selatan Jawa Timur.
Selain nilai ilmiah, masyarakat sekitar juga meyakini bahwa gunung ini menyimpan kekuatan spiritual dan memiliki kaitan erat dengan legenda masa kerajaan kuno.
Legenda Joko Budheg dan Roro Kembang Sore
Nama Gunung Budheg Tulungagung tidak bisa dilepaskan dari kisah rakyat yang turun-temurun diceritakan oleh masyarakat setempat, yakni legenda Joko Budheg.
Dalam cerita tersebut, Joko Budheg adalah seorang pemuda yang jatuh cinta pada Roro Kembang Sore, putri dari seorang tokoh bangsawan di masa lalu.
Namun kisah cintanya berakhir tragis setelah Joko Budheg dikutuk menjadi tuli (budheg) karena melanggar janji sucinya.
Menurut kepercayaan, roh Joko Budheg kemudian menjelma menjadi gunung besar yang kini dikenal sebagai Gunung Budheg.
Sementara Roro Kembang Sore dipercaya bersemayam di kawasan lereng gunung itu.
Hingga kini, banyak peziarah datang untuk berdoa di beberapa titik yang dianggap keramat di sekitar gunung, terutama di mata air kuno yang disebut-sebut sudah ada sejak masa Kerajaan Mataram Kuno hingga Majapahit.
Mata Air Kuno dan Energi Mistis di Puncak Gunung Budheg
Selain keindahan alamnya, Gunung Budheg juga menyimpan situs mata air yang dipercaya tidak pernah kering meski musim kemarau panjang.
Warga sekitar meyakini mata air ini sebagai sumber kehidupan dan keberkahan.
Ada keyakinan bahwa siapa pun yang membersihkan diri dengan air tersebut akan mendapatkan ketenangan batin dan semangat baru.
Beberapa kalangan spiritual bahkan meyakini Gunung Budheg Tulungagung sebagai salah satu titik energi bumi di Pulau Jawa.
Julukan “Paku Bumi” atau “Nail of the Earth” muncul dari kepercayaan bahwa gunung ini menjadi penyeimbang unsur alam di Jawa bagian selatan.
Cerita ini turut menarik minat banyak peziarah dan pemburu konten mistis yang datang untuk merasakan langsung energi spiritual di puncaknya.
Destinasi Alam, Sejarah, dan Religi yang Terpadu
Kini, Gunung Budheg bukan hanya menjadi tempat legenda dan spiritual, tetapi juga destinasi wisata alam unggulan di Tulungagung.
Pendakian ke puncaknya relatif mudah, sehingga sering menjadi pilihan para pendaki pemula.
Dari atas puncak, pengunjung dapat menikmati panorama alam menakjubkan, termasuk hamparan sawah, perkampungan, hingga garis pantai di kejauhan.
Selain panorama, banyak kegiatan budaya digelar di kawasan ini setiap tahun, terutama saat bulan Suro.
Warga mengadakan doa bersama dan pertunjukan kesenian tradisional sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan penjaga alam Gunung Budheg.
Pemerintah daerah pun mulai memperhatikan potensi wisata geologi ini.
Dengan penataan jalur pendakian dan fasilitas umum yang lebih baik, Gunung Budheg Tulungagung diharapkan bisa menjadi magnet wisata baru bagi para pecinta alam, spiritualis, dan peneliti geologi.
Gunung Budheg, Simbol Keseimbangan Alam dan Budaya
Misteri yang melingkupi Gunung Budheg seolah menjadi jembatan antara dunia sains dan kepercayaan lokal.
Di satu sisi, gunung ini menyimpan bukti sejarah bumi purba.
Di sisi lain, legenda dan nilai spiritualnya menambah kekayaan budaya Tulungagung.
Bagi masyarakat, Gunung Budheg bukan sekadar gunung batu, tetapi simbol keseimbangan antara alam dan manusia.
Entah dipercaya sebagai paku bumi atau peninggalan Joko Budheg, pesonanya tetap abadi—mendaki Gunung Budheg berarti menyelami kisah panjang sejarah dan spiritualitas bumi Tulungagung.