RADAR TULUNGAGUNG – Di balik perbukitan hijau di Tulungagung, tepatnya di Desa Bulurejo, Kecamatan Kauman, tersimpan kisah mistis yang tak lekang oleh waktu.
Gunung Bolo, yang tampak tenang dari kejauhan, ternyata menyimpan legenda kelam tentang ritual pesugihan di makam Roro Kembang Sore, seorang putri cantik keturunan bangsawan Mataram Islam.
Nama Roro Kembang Sore Gunung Bolo Tulungagung sudah lama dikenal masyarakat Jawa Timur sebagai tempat ngalap berkah dan mencari kekayaan secara instan.
Namun, cara yang diyakini sebagian orang untuk mendapatkan “berkah” di tempat ini kerap membuat bulu kuduk merinding.
Asal-usul Roro Kembang Sore
Menurut kisah turun-temurun, Roro Kembang Sore adalah putri seorang Adipati Bonorowo pada masa Mataram Islam.
Meski banyak bangsawan melamarnya, ia menolak semua pinangan. Hatinya justru terpaut pada seorang rakyat biasa bernama Joko Budeg.
Namun, cinta mereka berakhir tragis. Saat menjalani pertapaan dengan syarat berat, Joko Budeg tak kunjung menjawab panggilan Roro Kembang Sore hingga akhirnya dikutuk menjadi batu.
Arca batu yang dipercaya sebagai Joko Budeg itu masih ada hingga kini, menjadi saksi bisu kisah cinta yang tak sampai.
Sejak peristiwa itu, Roro Kembang Sore memilih hidup menyendiri hingga akhir hayatnya.
Jenazahnya dimakamkan di puncak Gunung Bolo, yang kini menjadi lokasi ziarah dan ritual mistis bagi sebagian masyarakat.
Mitos Pesugihan di Gunung Bolo
Selain kisah cintanya, makam Roro Kembang Sore juga lekat dengan mitos pesugihan. Warga sekitar percaya, siapa pun yang ingin kaya secara instan bisa meminta “berkah” di makam tersebut.
Namun, ada syarat yang dianggap tak masuk akal: pelaku pesugihan harus melakukan hubungan badan dengan orang yang bukan pasangan sahnya.
Ritual ini biasanya dilakukan pada malam hari. Para pencari pesugihan datang membawa nasi tumpeng, dupa, wangi-wangian, serta obor.
Setelah ritual selesai, mereka tidak diperbolehkan bermalam di kawasan Gunung Bolo. Jika ritual dianggap berhasil, mereka diwajibkan datang kembali dengan menyembelih kambing kendit, lalu memasak dan menghidangkannya di area makam sebagai bentuk syukur.
Fenomena tersebut membuat sebagian warga menyebut area sekitar makam sebagai “prostitusi terselubung”. Aktivitas ritual malam hari itu sering dikaitkan dengan praktik tak wajar yang justru bertentangan dengan nilai moral dan agama.
Larangan Datang Bersama Pasangan
Selain mitos pesugihan, ada pula kepercayaan lain yang tak kalah unik. Konon, pengunjung dilarang datang ke makam Roro Kembang Sore bersama suami atau istri.
Jika dilanggar, dipercaya akan terjadi prahara dalam rumah tangga hingga berujung perceraian.
Larangan ini membuat banyak pasangan memilih berkunjung secara terpisah, meski hanya sekadar ziarah biasa.
Bagi masyarakat setempat, aturan tak tertulis ini menjadi bagian dari “kewaspadaan spiritual” yang diwariskan sejak dulu.
Antara Legenda dan Wisata Mistis
Meski sarat dengan nuansa mistik dan cerita menyeramkan, Gunung Bolo Tulungagung kini juga menjadi salah satu destinasi wisata sejarah dan religi yang banyak dikunjungi.
Dari puncak bukit, pengunjung bisa melihat panorama indah kota Tulungagung. Namun perjalanan ke sana tidak mudah, karena harus menapaki puluhan anak tangga yang cukup terjal.
Sejumlah peneliti sejarah dan pemerhati budaya menilai, kisah pesugihan Roro Kembang Sore sebaiknya dilihat sebagai bagian dari warisan folklore lokal.
Cerita-cerita tersebut mencerminkan cara masyarakat zaman dulu memahami hubungan antara kekuasaan, cinta, dan spiritualitas.
Meski demikian, tak bisa dipungkiri bahwa mitos tentang pesugihan masih menarik minat banyak orang.
Di era modern ini, masih saja ada yang datang diam-diam pada malam hari, berharap bisa “menarik rezeki” dengan cara mistis.
Bagi warga Tulungagung, keberadaan Gunung Bolo dan makam Roro Kembang Sore bukan sekadar cerita seram, tapi juga pengingat bahwa setiap keinginan kaya raya seharusnya ditempuh dengan usaha, bukan jalan pintas yang melanggar nurani.
Editor : Anggi Septian A.P.