TULUNGAGUNG - Lama menghilang dari ingar bingar sepak bola nasional, nama Evan Dimas Darmono kembali mencuat. Mantan gelandang tim nasional (timnas) Indonesia masih aktif berkegiatan sepak bola. Tapi, bukan sebagai pemain, melainkan sebagai pelatih di sekolah sepak bola (SSB) yang terhitung baru di Tulungagung.
Rumput lapangan di Desa Mojoarum, Kecamatan Gondang, tampak kering terpapar terik matahari sore itu. Meski begitu, sejumlah anak dengan setelan olahraga tampak bersemangat. Mereka adalah siswa SSB Sanggar Saraswati Nuswantara, tempat Evan Dimas kini berkiprah sebagai pelatih.
"Selama ini saya banyak menghabiskan waktu di Sanggar Saraswati Nuswantara di mana tempat saya belajar untuk melatih dan mendidik generasi muda melalui sepak bola," akunya.
Baca Juga: DPRD Tulungagung Soroti Siswa SD Nyawer Biduan, Asmungi: Tidak Berhasil Didik Akhlak Anak
Disinggung soal alasannya pilih terjun di dunia kepelatihan, Evan mengaku tertarik pada konsep pembelajaran yang ditawarkan oleh sanggar. Dari sana muncul keinginan untuk berbagi ilmu sepak bola ke generasi muda melalui SSB.
"Dimana hati saya tergugah, pikiran saya tergugah untuk memutuskan menjadi pelatih dan mendidik generasi muda," ujarnya.
Sebetulnya, Evan masih berada di kategori usia produktif sebagai pemain sepak bola. Dia lahir pada 13 Maret 1995 atau saat ini berusia 30 tahun. Usia yang terbilang kompetitif sebagai pemain yang berposisi sebagai gelandang.
Meski begitu, Evan lebih mantap memilih berkiprah sebagai pelatih.
"(Pilihan ini muncul) karena diskusi ketika saya berada di sanggar. Yang membuka hati saya juga yang membuka wawasan pikiran saya yang selama ini tidak saya dapatkan Ketika saya bermain bola. Seperti halnya mengedepankan etika dan moral bukan hanya teknik dan skill," akunya.
Dia mulai melatih di SSB di wilayah Gondang sejak tujuh bulan lalu. Meski tampak menikmati aktivitas barunya, Evan belum dapat memberi jawaban pasti saat disinggung soal kiprahnya sebagai pemain.
Menurut dia, apa yang dia lakoni saat ini merupakan bagian dari upaya untuk tetap bekiprah di dunia sepak bola. Itu sebabnya dia pilih menjawab santai saat ditanya soal opsinya untuk gantung sepatu alias pensiun.
Baca Juga: Hari Bidan Nasional 2025: Bidan Tulungagung jadi Garda Terdepan Layanan Kesehatan Terutama di Pedesaan
"Belum saya kepikiran untuk ke situ. Sampai sejauh ini memang saya fokus untuk melatih. Untuk pensiun ataupun untuk bermain saya belum ada kepikiran sampai ke situ," kata Evan.
Di sisi lain, mantan pemain Persija Jakarta ini mengaku ada beberapa tim yang tertarik untuk memakai jasanya sebagai pemain. Tapi, saat ini, Evan lebih memilih untuk berfokus sebagai pelatih SSB di Tulungagung.
"Tawaran ada. Kemarin dari Persib (Bandung) juga ada tawaran, dari beberapa klub (lain juga ada). Tapi saya memutuskan untuk fokus melatih. Kalau hiatus nggak," tegas Evan.
"Karena usia saya di kepelatihan sangat muda. Jadi perlu banyak pembelajaran-pembelajaran. Bagaimana tentang mendidik generasi muda dengan benar banyak pembelajaran di mana saya butuh juga diskusi dengan senior saya ataupun pelatih saya di Timnas U-19 seperti Coach Indra Sjafri," bebernya.
Saat ini Evan mengantongi lisensi C untuk kepelatihan. Dia mengaku tertantang untuk meningkatkan kapasitas agar nantinya mampu menjadi pelatih jempolan dan mengantongi lisensi kepelatihan dengan jenjang yang lebih tinggi.
"Tentu pelan-pelan. Itu memang target," kata eks kapten timnas Indonesia U-19 ini.
Pemain yang juga pernah berseragam Bhayangkara Presisi Indonesia FC ini mengaku tak kesulitan beradaptasi dengan suasana di Bumi Ngrowo. Menurutnya, justru jadi pengalaman menarik ketika dia harus berinteraksi dengan anak didiknya yang masih berusia belia.
"Benar-benar harus kita tanamkan yang terbaik buat adik-adik. Menemukan etika dan moral dengan detail menanamkan teknis dengan detail. Jadi kita nggak bisa asal-asalan untuk mendidik generasi muda dengan usia adik-adik yang seperti itu," sebut Evan.
Dia menegaskan, yang terpenting adalah mendidik bakat-bakat muda asal Tulungagung. Itu sebabnya dia memilih tak banyak berkomentar saat disinggung soal nominal gaji yang didapat dari melatih SSB.
"Kalau masalah uang, dibayar atau enggak dibayar itu menurut saya nanti lah. Yang penting kegiatan kita untuk menularkan ilmu ke adik-adik," terangnya.
Ada sekitar 20 anak asuh dalam SSB yang dilatih Evan. Selain menekankan etika dan moral sebagai olahragawan, dia juga menegaskan soal pentingnya pendidikan rohani ke anak asuhnya.
Itu sebabnya Evan mendorong anak asuhnya absen latihan jika jadwal mengaji dan jadwal latihan sepak bola bentrok.
"Jadi saya ketika latihan selalu bilang ke adik-adik bahwasanya ketika berbenturan dengan ngaji, tolong izin. Nggak masalah ngaji. Jangan sampai ninggalin ngaji untuk sepak bola, " tandasnya.
Editor : Aditya Yuda Setya Putra